Jumat, 17 Juni 2022

Kelompok 02

NGAJI MAHASANTRI MILENIAL DI LANTAI III KANTOR PWNU

(GUS BAHA : BETAPA MUDAHNYA MASUK SURGA)

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pada mata kuliah 

“Psikologi Dakwah”

Dosen Pengampu :

Dr. Hj. Elfi Yuliani Rochmah, M.Pd.I

Disusun Oleh Kelompok 2 / PAI F :

1.  Nadia Ummu Habibah    (201190181)

2.  Nadya Al Fitria      (201190183)

3.  Noviantika Dyah Puspitasari  (201190201)

4.  Novya Widiasari      (201190204)

5.  Nur Alif Masitoh       (201190207)

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO

2022

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan

segala rahmat-Nyalah akhirnya kami bisa  menyusun makalah dengan judul

“Ngaji Mahasantri Milenial di Lantai III kantor PWNU Gus Baha : Betapa Mudahnya Masuk 

Surga". Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu  Dr. Hj. Elfi Yuliani Rochmah, 

M.Pd.I., selaku dosen pengampu kami yang telah memberikan tugas ini kepada kami 

sehingga kami mendapatkan banyak tambahan pengetahuan khususnya dalam masalah  Ngaji 

Mahasantri Milenial di Lantai III kantor PWNU Gus Baha : Betapa Mudahnya Masuk Surga.

Kami selaku  penyusun berharap semoga makalah yang telah kami susun ini bisa 

memberikan banyak manfaat serta menambah pengetahuan terutama dalam hal “Ngaji 

Mahasantri Milenial di Lantai III kantor PWNU Gus Baha : Betapa Mudahnya Masuk 

Surga”. Selain itu, kami menyadari  bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan 

dan membutuhkan perbaikan, sehingga kami sangat mengharapkan masukan serta kritik dari 

para pembaca.

Ponorogo, 24 April 2022

Penyusun

iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL  ...........................................................................................    i

KATA PENGANTAR   ........................................................................................    ii

DAFTAR ISI .......................................................................................................    iii

BAB I PENDAHUAN

A.  Latar Belakang ............................................................................................    1

B. Rumusan Masalah  .......................................................................................    2

C. Tujuan   .........................................................................................................    2

BAB II PEMBAHASAN 

A.  Bagaimana kondisi psikologis mad’u  .......................................................    3

B.  Bagaimana kondisi psikologis da’i  ...........................................................    4

C.  Bagaimana interaksi antara da’i dan mad’u  ..............................................    7

D.  Bagaimana  kondisi idealnya jika diupayakan  untuk  perbaikan agar 

diterima oleh mad'u  ...................................................................................    8

BAB III PENUTUP

A.  Kesimpulan   .................................................................................................    10

DAFTAR PUSTAKA  ..........................................................................................    12 

1

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Dakwah adalah usaha mengubah situasi yang buruk menjadi lebih baik dalam 

rangka membangun masyarakat Islami berdasarkan kebenaran agama Islam yang 

hakiki. Perwujudan dakwah bukan sekedar usaha peningkatan pemahaman 

keagamaan dalam tingkah laku dan pandangan hidup, tetapi menuju sasaran yang luas 

dan menyeluruh dalam aspek kehidupan.  Dakwah adalah kegiatan baik dalam bentuk 

lisan, tulisan, dan tingkah laku yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam 

usaha mempengaruhi orang lain. Dakwah juga mempunyai arti menyampaikan pesan 

dihadapan jama’ah. 

Menurut muhammad Natsir, dakwah adalah usaha untuk menyampaikan 

kepada seluruh umat manusia tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia 

yang meliputi  al-amar bi al-ma’ruf an-nahyu an al-munkar  dengan berbagai macam 

cara dan media yang diperbolehkan akhlak dengan penalaman dalam kehidupan 

bermasyarakat. Materi dakwah yang diajarkan agama Islam ini wajib disampaikan 

kepada umat manusia dan mengajak mereka agar mau menerima dan mengikutinya.

Dakwah Islam di era  modern ini memiliki dua tantangan yaitu keilmuan 

dakwah yang hingga saat ini belum tampak perkembangannya yang menggembirakan. 

Dakwah  modern yaitu dakwah yang pelaksanaannya menyesuaikan materi, metode, 

dan media dakwah dengan kondisi masyarakat modern yang situasi dan kondisinya 

terjadi di zaman modern. 

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan terjadinya 

perubahan baik nilai positif atau nilai negatif. Perubahan pada nilai agama dan budaya 

menimbulkan tidak nyamanan dalam kehidupan masyarakat. Seperti kemiskinan, 

pencurian, alkohol, narkoba dan lain-lain. Untuk mengantisipasi masalah ini tidak 

bisa dilakukan dengan melalui dakwah kovensional, hanya melalui mombar. Namun 

dakwah harus menyentuh secara langsung dengan cara-cara baru. Salah satunya 

dilakukan melalui pendekatan dakwah yang memiliki inovasi melalui  dakwah yang 

dinamis dan lebih menerapkan pendekatan hal-hal yang lebih modern. 

Dalam  tayangan di situs youtube  Channel NU Online  dengan jumlah 

subuscribe  666  ribu subscribe yang berjudul “Ngaji Mahasantri Milenial di Lantai III 

kantor PWNU Gus Baha : Betapa Mudahnya Masuk Surga”  dengan jumlah penonton 

2

lebih dari 2,6  Juta  kali ditonton, adalah Ustadz  KH. Bahauddin Nur Salim alias Gus 

Baha, beliau viral di media sosial dengan dakwahnya yang banyak candaan tetapi 

tidak meninggalkan jalurnya santai tetapi tetap serius.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk menganalisis 

pesan dakwah Gus  Baha  yang berada di situs youtube  Channel NU Online  dengan 

alamat  web  https://youtu.be/V2Bnz_01enk  “Ngaji Mahasantri Milenial di Lantai III 

kantor PWNU Gus Baha : Betapa Mudahnya Masuk Surga”. Dalam video tersebut 

beliau memberikan pesan dakwah tentang  kaidah dan syari’at-syari’at Islam. Oleh 

karena itu, peneliti mengangkat sebuah judul “NGAJI MAHASANTRI MILENIAL 

DI LANTAI III KANTOR PWNU (GUS BAHA : BETAPA MUDAHNYA MASUK 

SURGA)”.

B.  Rumusan Masalah

1.  Bagaimana kondisi psikologis mad’u?

2.  Bagaimana kondisi psikologis da’i?

3.  Bagaimana interaksi antara da’i dan mad’u?

4.  Bagaimana  kondisi idealnya jika diupayakan  untuk  perbaikan agar diterima oleh 

mad'u?

C.  Tujuan 

1.  Untuk menegtahui kondisi psikologis mad’u.

2.  Untuk menegtahui kondisi psikologis da’i.

3.  Untuk menegtahui interaksi antara da’i dan mad’u.

4.  Untuk menegtahui kondisi idealnya jika diupayakan  untuk  perbaikan agar 

diterima oleh mad'u.

3

BAB II

PEMBAHASAN

A.  Bagaimana Kondisi Psikologi Mad’u

Dakwah bermaksud mengubah sikap seorang mad’u, maka pendekatan 

psikologis menjadi sesuatu yang sangat penting. Dari segi dakwah, psikologi banyak 

memberi jalan pada perumusan tujuan dakwah pemilihan materi dan penetapan 

metodenya. Bagi seorang da’i mempelajari metode psikologi dapat memungkinkan 

mengenal berbagai aspek atau prinsip yang dapat menolongnya menelaah tingkah 

laku manusia dengan lebih kritis dan juga dapat memberikan pengertian yang lebih 

mendalam tentang tingkah laku. Namun, dalam kondisi saat ini banyak da’i yang 

masih asal-asalan menjalankan dakwahnya tanpa memperhatikan bagaimana keadaan 

mad’unya. Da’i seringkali menyamaratakan setiap mad’u yang dihadapi, baik dari 

materi yang disampaikan dan metode yang digunakan. Sehingga mengakibatkan 

materi yang disampaikan tidak mengena bahkan dianggap sebagai angin  lalu. Oleh 

sebab itu, dengan memperhatikan psikologis mad’u dan kebutuhan hidupnya, maka 

pesan dakwah yang disampaikan oleh da’i akan dapat diterima dengan mudah dan 

akan diamalkan oleh mad’u karena hal tersebut menyentuh dan memuaskan 

kehidupan rohaninya. Dakwah yang terarah adalah memberikan bimbingan kepada 

umat Islam untuk benar-benar mencapai dan melaksanakan keseimbangan hidup di 

dunia dan akhirat.

1

Dalam Perspektif Neurobiologi bahwa proses neurobiologis mendasari 

perilaku dan proses mental manusia, sehingga disebutkan bahwa semua peristiwa 

psikologis berkaitan dengan aktivitas otak dan sistem saraf. Hal ini memperjelas 

adanya hubungan yang erat antara kegiatan otak dengan perilaku dan pengalaman 

individu. Pandangan ini dalam kacamata Islam tidak terlalu salah karena dalam 

pandangan Islam, sebagaimana dijelaskan Nabi saw. bahwa “kefakiran bisa 

menjadikan seseorang menjadi kufur”. Dengan begitu, secara  psikologis seorang da’i 

tidak bijak jika hanya “membuat surga dalam telinga”. Akan tetapi da’i juga mesti 

pandai menyusun pesan dakwah sesuai dengan kondisi mad’u. 

psikologi mad’u mengkaji tentang konsepsi manusia sebagai sasaran dakwah serta 

faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman, perasaan, sikap, motif dan perilaku 

1

Silvia Riskha Fabriar,Urgensi Psikologi Dalam Aktivitas Dakwah, Jurnal An-Nida, Vol.11 No. 2 (Juli-September, 2019), 133.  

4

keberagaman mad’u.   Akan tetapi da’i juga mesti pandai menyusun pesan dakwah 

sesuai dengan kondisi mad’u. Jika kondisi mad’u dalam keadaan serba kekurangan, 

maka yang perlu didahulukan oleh seorang da’i bagaimana merumuskan peningkatan 

kesejahteraan dalam bidang ekonomi, mad’u jangan dipaksa untuk menerima keadaan 

dan jangan hanya disuruh untuk bersabar. Sebab sistem saraf mad’u (kondisi 

psikologis) yang sedang mengalami serba kekurangan tidak akan optimal menerima 

pesan, karena dipengaruhi dan dihimpit oleh keadaan yang menyebabkan sifat-sifat 

rendahnya menjadi dominan, karena manusia (mad’u) selain memiliki nafsu yang 

tinggi juga memiliki potensi nafsu rendah.

2

Dengan demikian, yang perlu  diperhatikan oleh da’i adalah situasi dan 

kondisi masyarakat obyek khususnya situasi psikologisnya, dimana manusia sebagai 

makhluk yang mempunyai jasmani dan rohani yang unik. Proses perubahan dan 

perkembangan pribadi sasaran (mad’u) dakwah sangat rumit.  Da’i yang 

menghadapinya juga komplek sehingga memahami kondisi psikologi sangat 

dibutuhkan dalam proses ini. Dalam prosesnya, dakwah tidak bisa terlepas 

dari kondisi psikologi, sebab dengan memahami kondisi psikologis pelaku dakwah 

dapat mengerti karakter  dan tingkah laku baik para da’i maupun sasarannya 

atau mad’u. Psikologi menurut bahasa berasal dari kata Yunani, yang terdiri dari dua 

kata, psyche (jiwa) dan logos (ilmu). Jadi, psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang 

tingkah laku dan kehidupan psikis (kejiwaan) manusia.  Secara umum kondisi 

psikologis para jamaah Gus Baha / KH. Bahauddin Nur Salim dalam acara Ngaji 

Mahasantri Milenial di Lantai 3 Kantor PWNU Jawa Timur pada hari Sabtu, 12 

Oktober 2019 adalah sangat kompak, rukun, banyak yang mengikuti jam’iyah karena 

pembawaan dari Gus Baha sendiri tidak membosankan dengan pembawaan humor 

menjadikan para jamaahnya sangat mengikuti acara dengan baik.

B.  Bagaimana Kondisi psikologi Da’i

Dalam melakukan kegiatan berdakwah dibutuhkan beberapa unsur dakwah 

didalamnya termasuk juga da’i atau da’iyah. Selain pesan dakwah, da’i merupakan 

unsur yang sangat mempengaruhi sebuah kegiatan dakwah. 

Yang disebut da’i adalah seorang yang melaksanakan dakwah baik lisan 

maupun tulisan ataupun perbuatan baik secara individu, kelompok, organisasi ataupun 

2

Enjang AS, DAKWAH SMART: Proses Dakwah Sesuai Dengan Aspek Psikologis Mad’u,  Jurnal Ilmu 

Dakwah, Vol. 4 No. 12 (Juli-Desember, 2003), 286. 

5

keluarga. Da’i sering disebut dengan sebutan mubaligh (orang yang menyampaikan 

ajaran Islam).

3

Untuk menjadi seorang da’I diperlukan beberapa sifat yang harus dimiliki 

selain sebagai pedoman dalam berdakwa ini juga diperlukan ketika adanya 

permasalahan baru yang muncul di dalam masyarakat. Adapun sifat-sifat penting 

yang harus dimiliki oleh seorang da’I secara umum yaitu : 

1.  Mendalami al-Qur’an, Hadist dan sejarah kehidupan Rosulullah serta 

Khulafaurrasyidin 

2.  Memahami keadaan masyarakat yang akan dihadapi 

3.  Berani mengungkapkan kebenaran kapanpun dan dimanapun 

4.  Perkataannya selaras dengan perbuatannya 

5.  Ikhlas dalam melaksanakan tugas dakwah tanpa tergiur oleh nikmat materi

6.  Menjauhi hal-hal yang menjatuhkan muru’ah.

4

Kondisi psikologis da’i dalam makalah ini tertarik untuk menganalisis pesan 

dakwah dari Gus Baha’ yang berada dalam channel youtubenya NU Online  dalam 

rangka Ngaji Mahasantri Millenial yang bertempat di Lantai III Kantor PWNU Jawa 

Timur dengan mengangkat tema “Betapa Mudahnya Masuk Surga”. Didalam video 

tersebut beliau menyampaikan  beberapa pesan tentang kaidah dan syari’at-syariat 

Islam. 

KH. Bahauddin Nur Salim yang sering disebut dengan Gus Baha ini pastinya 

sudah tidak asing lagi  bagi  masyarakat Indonesia terkhusus dalam kalangan santri. 

Beliau ini nama aslinya Bahauddin sedangkan Nur Salim itu nama dari Ayahnya. 

Karena hal ini sudah lazim dilakukan oleh ulama’-ulama’ yang hanya memiliki nama 

satu kata saja. Beliau ini lahir pada 29 September 1970. Sejak kecil pendidikan beliau 

sudah dididik langsung oleh ayahnya yaitu KH. Nur Salim dimana beliau seorang 

penghafal Al-Qur’an. Selain menghafal Al-Qur’an beliau juga belajar fiqih, setelah 

selesai menghafal beliau pergi ke Kudus dikawasan Pemakaman Sunan Kudus. 

Setelah itu beliau melanjutka ke Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Jawa Tengah 

yang dibawah asuhan KH. Maimoen Zubair. 

Secara keilmuan beliau ahli dalam bidang fiqih karena di PP. Al-Anwar sangat 

ketat dalam mempelajari kitab-kitab fiqih. Tetapi setelah pulang beliau tidak lagi 

dikenal dengan pakar fiqih tetapi sebagai ahli Tafsir al-Qur’an. Kepakaran beliau ini 

3

Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah (Jakarta : Kencana), 75-77.

4

Ibid., 81. 

6

membuat pihak Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menjadikan beliau team 

ahli dibidang tersebut sampai bisa menerbitkan kitab Tafsir Al-Qur,an yang ada 10 

jilid dan terbit pada tahun 2018.

5

Gus Baha dalam video ini menjelaskan tentang “Betapa Mudahnya Masuk 

Surga”. Beliau menyampaikan dakwah pada mad’u dengan bahasa dan materi yang 

ringan dan mudah difahami juga relative santai, karena menurut beliau akal sehat akan 

lebih mudah menerima kebenaran. berikut beberapa hal yang disampaikan oleh Gus 

Baha : 

1.  Semua umat Islam akan menjadi Ahlul Jannah karena juga sudah di nash dalam 

hadist 

2.  Agama Islam sudah sangat baik, bahkan kunci surge sudah dibocorkan “laa ila ha 

illa allah”

3.  Beliau punya kenangan buruk, karena ada guru SD yang sowan kepada beliau 

untuk menanyakan “boleh atau tidak membuka kunci jawaban UN yang masih 

tersegel”. Dan semua guru menjawab “tidak boleh, karena itu tindakan kriminal” 

tetapi ada satu guru yang biolang bhwa “boleh” dengan  alasan  yaa boleh saja, 

karena kunci jawaban ujian dikubur saja sudah dibocorkan ulama’-ulama’ saja 

tidak apa-apa.  Dalam hal ini Gus Baha  mengomentari bahwa hal ini nadalah hal 

yang salah, maka dari itu beliau memberikan tips supaya mudah masuk surga. 

Karena kunci jawaban dank unci masuk surge sudah dikasih. 

4.  Beliau dawuh kembali bahwa syaiah atau keburukan bernilai 1 sedangkan 

kebaikan beernilai 10. Kebaikan yang mutlak itu tidak akan terganggu oleh 

keadaan seseorang. Contohnya semua orang akan bilang bahwa 1+1=2, artinya 

kebenaran yang absolud akan meyakini seperti itu, jadi kebenaran yang absolud 

itu siapapun pasti mengakuinya. Dan untuk mengakui 1+1=2 itu tidak butuh 

hadiah atau imbalan begitu juga tanpa presentasi juga akan dapat penghormatan. 

Tetapi kenapabkalau untuk mengakui bahwa Allah adalah Tuhan kita masih butuh 

imbalan berupa pahala? Padahal Allah tanpa pengakuan kita tetap menajdi Tuhan. 

Maka hal ini yang menjadi problem orang-orang yang pesimis. Dan orang-orang 

yang sholeh itu berat kalau masuk  surge tetapi kalai orang alim insyaallah lebuih 

gampang. 

5

Qowim Mustafa,  Profil KH.Bahauddin Nur Salim (Gus baha) Dan Pengaruhnya Pada Generasi 

Milenial, Jurnal Pesantren Dan Kebudayaan Islam Nusantara, vol 1, 2022, 80 -84. 

7

Dalam video ini juga dibuka Tanya jawab mengenai dakwah yang 

disampaikan oleh Gus Baha, berikut bebetapa ulasan menganai Tanya jawab tersebut : 

1.  Pertanyaan : Mengaji lewat youtube itu mendapatkan barokah atau tidak? 

Jawab : yaa tetap mendapatkan barokah, karena kebaikan itu bisa dilakukan tanpa 

izin. Dalam kitan fiqih sudah dijelaskan bahwa  syara’ akan selalu memberi izin 

pada kebaikan. Tetapi untuk menontonnya harus dengan kuota atau wifi yang 

halal agar lebih barokah 

2.  Pertanyaan : Hubungan antara demonstrasi dengan hubbul waton minal iman 

Jawaban : demonstrasi itu maknanya memeprlihatkan kekuatan, maka dalam 

Islam jika itu kebaikan maka boleh asal tidak merugikan orang lain. Justru jika 

tidak dilakukan nanti akan disalahkan dan dikira tidak ikut andil dalam bela 

negara dan harus dilakukan dengan mematuhi kaidah-kaidah Islam. 

C.  Bagaimana Interaksi Antara Da’i dan Mad’u

Interaksi merupakan suatu bentuk hubungan antara dua orang atau lebih, 

dimana tingkah laku seseorang diubah oleh tingkah laku yang lain. Didalam hubungan 

interaksional inilah terjadi suatu proses belajar mengajar di antara manusia yang mana 

dalam proses dakwah adalah permulaan yang fundamental bagi suksesnya dakwah. 

Tanpa adanya suatu proses belajar mengajar maka dakwah akan sulit memperoleh 

tempat di dalam hati manusia. Jika kita kaitkan dengan dakwah, maka dalam dakwah 

dikenal dengan istilah personal approach dakwah face to face, sehingga terjadi proses 

saling mempengaruhi antara da’i dengan mad’u atau sebaliknya. Begitu pula ada 

istilah general approach atau dakwah secara umum, misalnya seperti pengajian yang 

mana terjadi proses saling mempengaruhi atara da’i dengan mad’u dalam kelompok 

sosial.

6

Dalam hal ini K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim, atau lebih dikenal sebagai 

Gus Baha dalam acara Ngaji Mahasantri Millenial di Lantai III Kantor PWNU Jawa 

Timur dengan judul “Betapa Mudahnya Masuk Surga”, beliau berdakwah dengan cara 

penyampaian  yang sederhana, mudah dipahami dan dapat sampai ke mad’u serta 

dengan menggunakan humor/lawakan-lawakan. Cara yang dilakukan oleh Gus Baha 

ini agar mad’u atau jamaah tidak tersinggung  atas apa yang beliau sampaikan dan 

6

Hafniati,  Interaksi Da'i dan Mad'u tentang Penguasaan Media dan Metode Dakwah dalam M encapai 

Hasil dan Tujuan Dakwah, Jurnal Muqaddimah. Vol. 14 No. 3, September-Desember 2018, 104.

8

agar tidak terlalu spaneng dalam mendengarkan ceramah beliau. Hal ini merupakan 

suatu terobosan untuk mencegah kebosanan dalam ceramah yang dilakukan oleh 

seorang da’i.

Tayangan video “Gus Baha: Betapa Mudahnya Masuk Surga” dari youtube 

channel NU Online merupakan suatu tayangan pada hari Sabtu, 12 Oktober tahun 

2019 di Lantai III Kantor PWNU Jawa Timur. Pengajian ini selain dihadiri oleh para 

santri juga dihadiri oleh para Kyai NU lainnya seperti Gus Kautsar dan Gus Reza. 

Dalam berdakwah, Gus Baha memiliki cirinya tersendiri baik dalam penyampain 

dakwah maupun penampilannya. Dalam berdakwah Gus Baha selalu menekankan 

“Basyyyiru wa laa tunaffiru” yakni dalam mendakwahkan agama berilah kabar 

gembira, jangan buat mereka lari darimu. Maka dari itu bisa kita lihat dalam setiap 

ceramah Gus Baha selalu banyak candaan akan tetapi tidak meninggalkan jalurnya 

seperti dalam istilah santai akan tetapi tetap serius. Dalam berpenampilan, Gus Baha 

menggunakan pakaian yang sederhana seperti pakaian yang dikenakan oleh mad’u 

yaitu memakai sarung, baju koko, dan kopiah/ peci. 

Durasi tayangan video ini sekitar 38 menit yang  sudah ditonton oleh lebih 2,6 

juta  kali dari Youtube Channel NU Online. Dalam mengawali pembukaan 

ceramahnya, Gus Baha memasukkan sebuah humor-humor yang akan menarik 

perhatian mad’u agar pesan dakwah Beliau bisa diterima. Dalam tayangan video 

ceramah Gus Baha ini juga terdapat sesi tanya jawab, yang mana mad’u diberikan 

kesempatan untuk bertanya kemudian dijawab oleh Gus Baha secara langsung. 

Hingga sampai penutup acara berjalan dengan lancar, tertib, dan aman, yang ditutup 

dengan doa.

D.  Bagaimana kondisi Idealnya Jika Di Upayakan Untuk Perbaikan agar Diterima 

Oleh Mad’u

Kondisi idealnya agar seorang da’i dakwahnya bisa diterima harus ada sebuah 

perbaikan cara penyampaian sampai metode yang digunakan. Dalam penyampaiannya 

harus menggunakan perkataan yang baik, memiliki hubungan erat dengan mad’u, 

tidak membedakan-bedakan agama antar mad’u, menggunakan metode yang persuasif 

Dengan cara tersebut maka dakwah akan bisa diterima oleh mad’u. Da’i harus 

menarik  perhatian mad’u sehingga mad’u tidak merasa bosan dalam kondisi tersebut. 

Karena Kondisi itu mad’u akan mempunyai kesulitan dalam memahami dakwah yang 

telah disampaikan. 

9

Dalam penyampaian dakwah yang dikemukakan  oleh Gus Baha sangat 

sederhana dan menggunakan metode yang menarik dengan disertai candaan  namun 

juga serius dalam menyampaikan dakwahnya. Pesan dakwah Gus Baha tentang betapa 

mudahnya masuk surga. Gus Baha juga mengajak mad’u untuk berbuat baik kepada 

orang lain.

10

BAB III

PENUTUPAN

A.  Kesimpulan 

1.  Kondisi psikologi mad’u bagi jama’ah Gus Baha dalam acara Ngaji Mahasantri 

Milenial di Lantai 3 Kantor PWNU dengan tema “Betapa Mudahnya Masuk 

Surga” Jawa Timur pada hari Sabtu, 12 Oktober 2019 adalah sangat kompak, 

rukun, banyak yang mengikuti jam’iyah karena pembawaan dari Gus Baha sendiri 

tidak membosankan dengan pembawaan humor menjadikan para jamaahnya 

sangat mengikuti acara dengan baik.

2.  Kondisi psikologi da’i yang disampaikan oleh Gus Baha dalam video  Ngaji 

Mahasantri  Millenial yang bertempat di Lantai III Kantor PWNU Jawa Timur 

dengan mengangkat tema “Betapa Mudahnya Masuk Surga” tersebut 

menyampaikan pesan tentang kaidah dan syari’at-syari’at Islam.  Beliau 

menyampaikan dakwah pada mad’u dengan bahasa dan materi yang ringan dan 

mudah difahami juga relative santai, karena menurut beliau akal sehat akan lebih 

mudah menerima kebenaran.

3.  Interaksi antara da’i dan mad’u dalam acara Ngaji Mahasantri Millenial di Lantai 

III Kantor PWNU Jawa Timur dengan judul “Betapa Mudahnya Masuk Surga” 

yang di bawakan oleh Gus bawa. Beliau berdakwah dengan cara penyampaian 

yang sederhana, mudah dipahami dan dapat sampai ke mad’u serta dengan 

menggunakan humor/lawakan-lawakan. Cara ini dilakukan agar mad’u atau 

jamaah tidak tersinggung atas apa yang beliau sampaikan dan agar tidak terlalu 

spaneng dalam mendengarkan ceramah beliau. Hal ini merupakan suatu terobosan 

untuk mencegah kebosanan dalam ceramah yang dilakukan oleh seorang da’i.

Dalam setiap ceramah Gus Baha selalu banyak candaan akan tetapi tidak 

meninggalkan jalurnya seperti dalam istilah santai akan tetapi tetap serius. Dalam 

mengawali pembukaan ceramahnya, Gus Baha memasukkan sebuah humor-humor 

yang akan menarik perhatian mad’u agar pesan dakwah Beliau bisa diterima. 

4.  Kondisi idealnya  supaya seorang da’i bisa diterima harus ada perbaikan dalam 

penyampaian yang digunakan. Harus menggunakan perkataan yang baik dan 

memiliki hubungan yang erat dengan mad’u, supaya dakwahnya bisa diterima 

oleh mad’u.  Dakwah yang disampaikan oleh Gus Baha sangat sederhana dan 

11

menggunakan metode yang menarik dengan disertai candaan namun juga serius 

dalam menyampaian dakwahnya. 

12

DAFTAR PUSTAKA

AS,  Enjang.  DAKWAH SMART:  Proses Dakwah Sesuai Dengan Aspek Psikologis Mad’u.

Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 4 No. 12. Juli-Desember, 2003.

Aziz, Moh. Ali. Ilmu Dakwah. Jakarta : Kencana.

Fabriar,  Silvia Riskha.  Urgensi Psikologi Dalam Aktivitas Dakwah.  Jurnal An-Nida, Vol.11 

No. 2. Juli-September, 2019. 

Hafniati.  Interaksi Da'i dan Mad'u tentang Penguasaan Media dan  Metode Dakwah dalam 

Mencapai Hasil dan Tujuan Dakwah. Jurnal Muqaddimah. Vol. 14 No. 3. September-Desember 2018. 

Mustafa, Qowim.  Profil KH.Bahauddin Nur Salim (Gus baha) Dan Pengaruhnya Pada 

Generasi Milenial. Jurnal Pesantren Dan Kebudayaan Islam Nusantara, vol 1. 2022.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Link Presentasi dan Video Youtube Kelompok 07

 Link Presentasi Kelompok 07 https://www.youtube.com/watch?v=Pr66JsYaWuA Link Video Youtube  https://www.youtube.com/watch?v=jQiAxCgQpdM