NGAJI MAHASANTRI MILENIAL DI LANTAI III KANTOR PWNU
(GUS BAHA : BETAPA MUDAHNYA MASUK SURGA)
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pada mata kuliah
“Psikologi Dakwah”
Dosen Pengampu :
Dr. Hj. Elfi Yuliani Rochmah, M.Pd.I
Disusun Oleh Kelompok 2 / PAI F :
1. Nadia Ummu Habibah (201190181)
2. Nadya Al Fitria (201190183)
3. Noviantika Dyah Puspitasari (201190201)
4. Novya Widiasari (201190204)
5. Nur Alif Masitoh (201190207)
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO
2022
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan
segala rahmat-Nyalah akhirnya kami bisa menyusun makalah dengan judul
“Ngaji Mahasantri Milenial di Lantai III kantor PWNU Gus Baha : Betapa Mudahnya Masuk
Surga". Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Hj. Elfi Yuliani Rochmah,
M.Pd.I., selaku dosen pengampu kami yang telah memberikan tugas ini kepada kami
sehingga kami mendapatkan banyak tambahan pengetahuan khususnya dalam masalah Ngaji
Mahasantri Milenial di Lantai III kantor PWNU Gus Baha : Betapa Mudahnya Masuk Surga.
Kami selaku penyusun berharap semoga makalah yang telah kami susun ini bisa
memberikan banyak manfaat serta menambah pengetahuan terutama dalam hal “Ngaji
Mahasantri Milenial di Lantai III kantor PWNU Gus Baha : Betapa Mudahnya Masuk
Surga”. Selain itu, kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan
dan membutuhkan perbaikan, sehingga kami sangat mengharapkan masukan serta kritik dari
para pembaca.
Ponorogo, 24 April 2022
Penyusun
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ....................................................................................... 2
C. Tujuan ......................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Bagaimana kondisi psikologis mad’u ....................................................... 3
B. Bagaimana kondisi psikologis da’i ........................................................... 4
C. Bagaimana interaksi antara da’i dan mad’u .............................................. 7
D. Bagaimana kondisi idealnya jika diupayakan untuk perbaikan agar
diterima oleh mad'u ................................................................................... 8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 12
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dakwah adalah usaha mengubah situasi yang buruk menjadi lebih baik dalam
rangka membangun masyarakat Islami berdasarkan kebenaran agama Islam yang
hakiki. Perwujudan dakwah bukan sekedar usaha peningkatan pemahaman
keagamaan dalam tingkah laku dan pandangan hidup, tetapi menuju sasaran yang luas
dan menyeluruh dalam aspek kehidupan. Dakwah adalah kegiatan baik dalam bentuk
lisan, tulisan, dan tingkah laku yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam
usaha mempengaruhi orang lain. Dakwah juga mempunyai arti menyampaikan pesan
dihadapan jama’ah.
Menurut muhammad Natsir, dakwah adalah usaha untuk menyampaikan
kepada seluruh umat manusia tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia
yang meliputi al-amar bi al-ma’ruf an-nahyu an al-munkar dengan berbagai macam
cara dan media yang diperbolehkan akhlak dengan penalaman dalam kehidupan
bermasyarakat. Materi dakwah yang diajarkan agama Islam ini wajib disampaikan
kepada umat manusia dan mengajak mereka agar mau menerima dan mengikutinya.
Dakwah Islam di era modern ini memiliki dua tantangan yaitu keilmuan
dakwah yang hingga saat ini belum tampak perkembangannya yang menggembirakan.
Dakwah modern yaitu dakwah yang pelaksanaannya menyesuaikan materi, metode,
dan media dakwah dengan kondisi masyarakat modern yang situasi dan kondisinya
terjadi di zaman modern.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan terjadinya
perubahan baik nilai positif atau nilai negatif. Perubahan pada nilai agama dan budaya
menimbulkan tidak nyamanan dalam kehidupan masyarakat. Seperti kemiskinan,
pencurian, alkohol, narkoba dan lain-lain. Untuk mengantisipasi masalah ini tidak
bisa dilakukan dengan melalui dakwah kovensional, hanya melalui mombar. Namun
dakwah harus menyentuh secara langsung dengan cara-cara baru. Salah satunya
dilakukan melalui pendekatan dakwah yang memiliki inovasi melalui dakwah yang
dinamis dan lebih menerapkan pendekatan hal-hal yang lebih modern.
Dalam tayangan di situs youtube Channel NU Online dengan jumlah
subuscribe 666 ribu subscribe yang berjudul “Ngaji Mahasantri Milenial di Lantai III
kantor PWNU Gus Baha : Betapa Mudahnya Masuk Surga” dengan jumlah penonton
2
lebih dari 2,6 Juta kali ditonton, adalah Ustadz KH. Bahauddin Nur Salim alias Gus
Baha, beliau viral di media sosial dengan dakwahnya yang banyak candaan tetapi
tidak meninggalkan jalurnya santai tetapi tetap serius.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk menganalisis
pesan dakwah Gus Baha yang berada di situs youtube Channel NU Online dengan
alamat web https://youtu.be/V2Bnz_01enk “Ngaji Mahasantri Milenial di Lantai III
kantor PWNU Gus Baha : Betapa Mudahnya Masuk Surga”. Dalam video tersebut
beliau memberikan pesan dakwah tentang kaidah dan syari’at-syari’at Islam. Oleh
karena itu, peneliti mengangkat sebuah judul “NGAJI MAHASANTRI MILENIAL
DI LANTAI III KANTOR PWNU (GUS BAHA : BETAPA MUDAHNYA MASUK
SURGA)”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi psikologis mad’u?
2. Bagaimana kondisi psikologis da’i?
3. Bagaimana interaksi antara da’i dan mad’u?
4. Bagaimana kondisi idealnya jika diupayakan untuk perbaikan agar diterima oleh
mad'u?
C. Tujuan
1. Untuk menegtahui kondisi psikologis mad’u.
2. Untuk menegtahui kondisi psikologis da’i.
3. Untuk menegtahui interaksi antara da’i dan mad’u.
4. Untuk menegtahui kondisi idealnya jika diupayakan untuk perbaikan agar
diterima oleh mad'u.
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Bagaimana Kondisi Psikologi Mad’u
Dakwah bermaksud mengubah sikap seorang mad’u, maka pendekatan
psikologis menjadi sesuatu yang sangat penting. Dari segi dakwah, psikologi banyak
memberi jalan pada perumusan tujuan dakwah pemilihan materi dan penetapan
metodenya. Bagi seorang da’i mempelajari metode psikologi dapat memungkinkan
mengenal berbagai aspek atau prinsip yang dapat menolongnya menelaah tingkah
laku manusia dengan lebih kritis dan juga dapat memberikan pengertian yang lebih
mendalam tentang tingkah laku. Namun, dalam kondisi saat ini banyak da’i yang
masih asal-asalan menjalankan dakwahnya tanpa memperhatikan bagaimana keadaan
mad’unya. Da’i seringkali menyamaratakan setiap mad’u yang dihadapi, baik dari
materi yang disampaikan dan metode yang digunakan. Sehingga mengakibatkan
materi yang disampaikan tidak mengena bahkan dianggap sebagai angin lalu. Oleh
sebab itu, dengan memperhatikan psikologis mad’u dan kebutuhan hidupnya, maka
pesan dakwah yang disampaikan oleh da’i akan dapat diterima dengan mudah dan
akan diamalkan oleh mad’u karena hal tersebut menyentuh dan memuaskan
kehidupan rohaninya. Dakwah yang terarah adalah memberikan bimbingan kepada
umat Islam untuk benar-benar mencapai dan melaksanakan keseimbangan hidup di
dunia dan akhirat.
1
Dalam Perspektif Neurobiologi bahwa proses neurobiologis mendasari
perilaku dan proses mental manusia, sehingga disebutkan bahwa semua peristiwa
psikologis berkaitan dengan aktivitas otak dan sistem saraf. Hal ini memperjelas
adanya hubungan yang erat antara kegiatan otak dengan perilaku dan pengalaman
individu. Pandangan ini dalam kacamata Islam tidak terlalu salah karena dalam
pandangan Islam, sebagaimana dijelaskan Nabi saw. bahwa “kefakiran bisa
menjadikan seseorang menjadi kufur”. Dengan begitu, secara psikologis seorang da’i
tidak bijak jika hanya “membuat surga dalam telinga”. Akan tetapi da’i juga mesti
pandai menyusun pesan dakwah sesuai dengan kondisi mad’u.
psikologi mad’u mengkaji tentang konsepsi manusia sebagai sasaran dakwah serta
faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman, perasaan, sikap, motif dan perilaku
1
Silvia Riskha Fabriar,Urgensi Psikologi Dalam Aktivitas Dakwah, Jurnal An-Nida, Vol.11 No. 2 (Juli-September, 2019), 133.
4
keberagaman mad’u. Akan tetapi da’i juga mesti pandai menyusun pesan dakwah
sesuai dengan kondisi mad’u. Jika kondisi mad’u dalam keadaan serba kekurangan,
maka yang perlu didahulukan oleh seorang da’i bagaimana merumuskan peningkatan
kesejahteraan dalam bidang ekonomi, mad’u jangan dipaksa untuk menerima keadaan
dan jangan hanya disuruh untuk bersabar. Sebab sistem saraf mad’u (kondisi
psikologis) yang sedang mengalami serba kekurangan tidak akan optimal menerima
pesan, karena dipengaruhi dan dihimpit oleh keadaan yang menyebabkan sifat-sifat
rendahnya menjadi dominan, karena manusia (mad’u) selain memiliki nafsu yang
tinggi juga memiliki potensi nafsu rendah.
2
Dengan demikian, yang perlu diperhatikan oleh da’i adalah situasi dan
kondisi masyarakat obyek khususnya situasi psikologisnya, dimana manusia sebagai
makhluk yang mempunyai jasmani dan rohani yang unik. Proses perubahan dan
perkembangan pribadi sasaran (mad’u) dakwah sangat rumit. Da’i yang
menghadapinya juga komplek sehingga memahami kondisi psikologi sangat
dibutuhkan dalam proses ini. Dalam prosesnya, dakwah tidak bisa terlepas
dari kondisi psikologi, sebab dengan memahami kondisi psikologis pelaku dakwah
dapat mengerti karakter dan tingkah laku baik para da’i maupun sasarannya
atau mad’u. Psikologi menurut bahasa berasal dari kata Yunani, yang terdiri dari dua
kata, psyche (jiwa) dan logos (ilmu). Jadi, psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang
tingkah laku dan kehidupan psikis (kejiwaan) manusia. Secara umum kondisi
psikologis para jamaah Gus Baha / KH. Bahauddin Nur Salim dalam acara Ngaji
Mahasantri Milenial di Lantai 3 Kantor PWNU Jawa Timur pada hari Sabtu, 12
Oktober 2019 adalah sangat kompak, rukun, banyak yang mengikuti jam’iyah karena
pembawaan dari Gus Baha sendiri tidak membosankan dengan pembawaan humor
menjadikan para jamaahnya sangat mengikuti acara dengan baik.
B. Bagaimana Kondisi psikologi Da’i
Dalam melakukan kegiatan berdakwah dibutuhkan beberapa unsur dakwah
didalamnya termasuk juga da’i atau da’iyah. Selain pesan dakwah, da’i merupakan
unsur yang sangat mempengaruhi sebuah kegiatan dakwah.
Yang disebut da’i adalah seorang yang melaksanakan dakwah baik lisan
maupun tulisan ataupun perbuatan baik secara individu, kelompok, organisasi ataupun
2
Enjang AS, DAKWAH SMART: Proses Dakwah Sesuai Dengan Aspek Psikologis Mad’u, Jurnal Ilmu
Dakwah, Vol. 4 No. 12 (Juli-Desember, 2003), 286.
5
keluarga. Da’i sering disebut dengan sebutan mubaligh (orang yang menyampaikan
ajaran Islam).
3
Untuk menjadi seorang da’I diperlukan beberapa sifat yang harus dimiliki
selain sebagai pedoman dalam berdakwa ini juga diperlukan ketika adanya
permasalahan baru yang muncul di dalam masyarakat. Adapun sifat-sifat penting
yang harus dimiliki oleh seorang da’I secara umum yaitu :
1. Mendalami al-Qur’an, Hadist dan sejarah kehidupan Rosulullah serta
Khulafaurrasyidin
2. Memahami keadaan masyarakat yang akan dihadapi
3. Berani mengungkapkan kebenaran kapanpun dan dimanapun
4. Perkataannya selaras dengan perbuatannya
5. Ikhlas dalam melaksanakan tugas dakwah tanpa tergiur oleh nikmat materi
6. Menjauhi hal-hal yang menjatuhkan muru’ah.
4
Kondisi psikologis da’i dalam makalah ini tertarik untuk menganalisis pesan
dakwah dari Gus Baha’ yang berada dalam channel youtubenya NU Online dalam
rangka Ngaji Mahasantri Millenial yang bertempat di Lantai III Kantor PWNU Jawa
Timur dengan mengangkat tema “Betapa Mudahnya Masuk Surga”. Didalam video
tersebut beliau menyampaikan beberapa pesan tentang kaidah dan syari’at-syariat
Islam.
KH. Bahauddin Nur Salim yang sering disebut dengan Gus Baha ini pastinya
sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia terkhusus dalam kalangan santri.
Beliau ini nama aslinya Bahauddin sedangkan Nur Salim itu nama dari Ayahnya.
Karena hal ini sudah lazim dilakukan oleh ulama’-ulama’ yang hanya memiliki nama
satu kata saja. Beliau ini lahir pada 29 September 1970. Sejak kecil pendidikan beliau
sudah dididik langsung oleh ayahnya yaitu KH. Nur Salim dimana beliau seorang
penghafal Al-Qur’an. Selain menghafal Al-Qur’an beliau juga belajar fiqih, setelah
selesai menghafal beliau pergi ke Kudus dikawasan Pemakaman Sunan Kudus.
Setelah itu beliau melanjutka ke Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Jawa Tengah
yang dibawah asuhan KH. Maimoen Zubair.
Secara keilmuan beliau ahli dalam bidang fiqih karena di PP. Al-Anwar sangat
ketat dalam mempelajari kitab-kitab fiqih. Tetapi setelah pulang beliau tidak lagi
dikenal dengan pakar fiqih tetapi sebagai ahli Tafsir al-Qur’an. Kepakaran beliau ini
3
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah (Jakarta : Kencana), 75-77.
4
Ibid., 81.
6
membuat pihak Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menjadikan beliau team
ahli dibidang tersebut sampai bisa menerbitkan kitab Tafsir Al-Qur,an yang ada 10
jilid dan terbit pada tahun 2018.
5
Gus Baha dalam video ini menjelaskan tentang “Betapa Mudahnya Masuk
Surga”. Beliau menyampaikan dakwah pada mad’u dengan bahasa dan materi yang
ringan dan mudah difahami juga relative santai, karena menurut beliau akal sehat akan
lebih mudah menerima kebenaran. berikut beberapa hal yang disampaikan oleh Gus
Baha :
1. Semua umat Islam akan menjadi Ahlul Jannah karena juga sudah di nash dalam
hadist
2. Agama Islam sudah sangat baik, bahkan kunci surge sudah dibocorkan “laa ila ha
illa allah”
3. Beliau punya kenangan buruk, karena ada guru SD yang sowan kepada beliau
untuk menanyakan “boleh atau tidak membuka kunci jawaban UN yang masih
tersegel”. Dan semua guru menjawab “tidak boleh, karena itu tindakan kriminal”
tetapi ada satu guru yang biolang bhwa “boleh” dengan alasan yaa boleh saja,
karena kunci jawaban ujian dikubur saja sudah dibocorkan ulama’-ulama’ saja
tidak apa-apa. Dalam hal ini Gus Baha mengomentari bahwa hal ini nadalah hal
yang salah, maka dari itu beliau memberikan tips supaya mudah masuk surga.
Karena kunci jawaban dank unci masuk surge sudah dikasih.
4. Beliau dawuh kembali bahwa syaiah atau keburukan bernilai 1 sedangkan
kebaikan beernilai 10. Kebaikan yang mutlak itu tidak akan terganggu oleh
keadaan seseorang. Contohnya semua orang akan bilang bahwa 1+1=2, artinya
kebenaran yang absolud akan meyakini seperti itu, jadi kebenaran yang absolud
itu siapapun pasti mengakuinya. Dan untuk mengakui 1+1=2 itu tidak butuh
hadiah atau imbalan begitu juga tanpa presentasi juga akan dapat penghormatan.
Tetapi kenapabkalau untuk mengakui bahwa Allah adalah Tuhan kita masih butuh
imbalan berupa pahala? Padahal Allah tanpa pengakuan kita tetap menajdi Tuhan.
Maka hal ini yang menjadi problem orang-orang yang pesimis. Dan orang-orang
yang sholeh itu berat kalau masuk surge tetapi kalai orang alim insyaallah lebuih
gampang.
5
Qowim Mustafa, Profil KH.Bahauddin Nur Salim (Gus baha) Dan Pengaruhnya Pada Generasi
Milenial, Jurnal Pesantren Dan Kebudayaan Islam Nusantara, vol 1, 2022, 80 -84.
7
Dalam video ini juga dibuka Tanya jawab mengenai dakwah yang
disampaikan oleh Gus Baha, berikut bebetapa ulasan menganai Tanya jawab tersebut :
1. Pertanyaan : Mengaji lewat youtube itu mendapatkan barokah atau tidak?
Jawab : yaa tetap mendapatkan barokah, karena kebaikan itu bisa dilakukan tanpa
izin. Dalam kitan fiqih sudah dijelaskan bahwa syara’ akan selalu memberi izin
pada kebaikan. Tetapi untuk menontonnya harus dengan kuota atau wifi yang
halal agar lebih barokah
2. Pertanyaan : Hubungan antara demonstrasi dengan hubbul waton minal iman
Jawaban : demonstrasi itu maknanya memeprlihatkan kekuatan, maka dalam
Islam jika itu kebaikan maka boleh asal tidak merugikan orang lain. Justru jika
tidak dilakukan nanti akan disalahkan dan dikira tidak ikut andil dalam bela
negara dan harus dilakukan dengan mematuhi kaidah-kaidah Islam.
C. Bagaimana Interaksi Antara Da’i dan Mad’u
Interaksi merupakan suatu bentuk hubungan antara dua orang atau lebih,
dimana tingkah laku seseorang diubah oleh tingkah laku yang lain. Didalam hubungan
interaksional inilah terjadi suatu proses belajar mengajar di antara manusia yang mana
dalam proses dakwah adalah permulaan yang fundamental bagi suksesnya dakwah.
Tanpa adanya suatu proses belajar mengajar maka dakwah akan sulit memperoleh
tempat di dalam hati manusia. Jika kita kaitkan dengan dakwah, maka dalam dakwah
dikenal dengan istilah personal approach dakwah face to face, sehingga terjadi proses
saling mempengaruhi antara da’i dengan mad’u atau sebaliknya. Begitu pula ada
istilah general approach atau dakwah secara umum, misalnya seperti pengajian yang
mana terjadi proses saling mempengaruhi atara da’i dengan mad’u dalam kelompok
sosial.
6
Dalam hal ini K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim, atau lebih dikenal sebagai
Gus Baha dalam acara Ngaji Mahasantri Millenial di Lantai III Kantor PWNU Jawa
Timur dengan judul “Betapa Mudahnya Masuk Surga”, beliau berdakwah dengan cara
penyampaian yang sederhana, mudah dipahami dan dapat sampai ke mad’u serta
dengan menggunakan humor/lawakan-lawakan. Cara yang dilakukan oleh Gus Baha
ini agar mad’u atau jamaah tidak tersinggung atas apa yang beliau sampaikan dan
6
Hafniati, Interaksi Da'i dan Mad'u tentang Penguasaan Media dan Metode Dakwah dalam M encapai
Hasil dan Tujuan Dakwah, Jurnal Muqaddimah. Vol. 14 No. 3, September-Desember 2018, 104.
8
agar tidak terlalu spaneng dalam mendengarkan ceramah beliau. Hal ini merupakan
suatu terobosan untuk mencegah kebosanan dalam ceramah yang dilakukan oleh
seorang da’i.
Tayangan video “Gus Baha: Betapa Mudahnya Masuk Surga” dari youtube
channel NU Online merupakan suatu tayangan pada hari Sabtu, 12 Oktober tahun
2019 di Lantai III Kantor PWNU Jawa Timur. Pengajian ini selain dihadiri oleh para
santri juga dihadiri oleh para Kyai NU lainnya seperti Gus Kautsar dan Gus Reza.
Dalam berdakwah, Gus Baha memiliki cirinya tersendiri baik dalam penyampain
dakwah maupun penampilannya. Dalam berdakwah Gus Baha selalu menekankan
“Basyyyiru wa laa tunaffiru” yakni dalam mendakwahkan agama berilah kabar
gembira, jangan buat mereka lari darimu. Maka dari itu bisa kita lihat dalam setiap
ceramah Gus Baha selalu banyak candaan akan tetapi tidak meninggalkan jalurnya
seperti dalam istilah santai akan tetapi tetap serius. Dalam berpenampilan, Gus Baha
menggunakan pakaian yang sederhana seperti pakaian yang dikenakan oleh mad’u
yaitu memakai sarung, baju koko, dan kopiah/ peci.
Durasi tayangan video ini sekitar 38 menit yang sudah ditonton oleh lebih 2,6
juta kali dari Youtube Channel NU Online. Dalam mengawali pembukaan
ceramahnya, Gus Baha memasukkan sebuah humor-humor yang akan menarik
perhatian mad’u agar pesan dakwah Beliau bisa diterima. Dalam tayangan video
ceramah Gus Baha ini juga terdapat sesi tanya jawab, yang mana mad’u diberikan
kesempatan untuk bertanya kemudian dijawab oleh Gus Baha secara langsung.
Hingga sampai penutup acara berjalan dengan lancar, tertib, dan aman, yang ditutup
dengan doa.
D. Bagaimana kondisi Idealnya Jika Di Upayakan Untuk Perbaikan agar Diterima
Oleh Mad’u
Kondisi idealnya agar seorang da’i dakwahnya bisa diterima harus ada sebuah
perbaikan cara penyampaian sampai metode yang digunakan. Dalam penyampaiannya
harus menggunakan perkataan yang baik, memiliki hubungan erat dengan mad’u,
tidak membedakan-bedakan agama antar mad’u, menggunakan metode yang persuasif
Dengan cara tersebut maka dakwah akan bisa diterima oleh mad’u. Da’i harus
menarik perhatian mad’u sehingga mad’u tidak merasa bosan dalam kondisi tersebut.
Karena Kondisi itu mad’u akan mempunyai kesulitan dalam memahami dakwah yang
telah disampaikan.
9
Dalam penyampaian dakwah yang dikemukakan oleh Gus Baha sangat
sederhana dan menggunakan metode yang menarik dengan disertai candaan namun
juga serius dalam menyampaikan dakwahnya. Pesan dakwah Gus Baha tentang betapa
mudahnya masuk surga. Gus Baha juga mengajak mad’u untuk berbuat baik kepada
orang lain.
10
BAB III
PENUTUPAN
A. Kesimpulan
1. Kondisi psikologi mad’u bagi jama’ah Gus Baha dalam acara Ngaji Mahasantri
Milenial di Lantai 3 Kantor PWNU dengan tema “Betapa Mudahnya Masuk
Surga” Jawa Timur pada hari Sabtu, 12 Oktober 2019 adalah sangat kompak,
rukun, banyak yang mengikuti jam’iyah karena pembawaan dari Gus Baha sendiri
tidak membosankan dengan pembawaan humor menjadikan para jamaahnya
sangat mengikuti acara dengan baik.
2. Kondisi psikologi da’i yang disampaikan oleh Gus Baha dalam video Ngaji
Mahasantri Millenial yang bertempat di Lantai III Kantor PWNU Jawa Timur
dengan mengangkat tema “Betapa Mudahnya Masuk Surga” tersebut
menyampaikan pesan tentang kaidah dan syari’at-syari’at Islam. Beliau
menyampaikan dakwah pada mad’u dengan bahasa dan materi yang ringan dan
mudah difahami juga relative santai, karena menurut beliau akal sehat akan lebih
mudah menerima kebenaran.
3. Interaksi antara da’i dan mad’u dalam acara Ngaji Mahasantri Millenial di Lantai
III Kantor PWNU Jawa Timur dengan judul “Betapa Mudahnya Masuk Surga”
yang di bawakan oleh Gus bawa. Beliau berdakwah dengan cara penyampaian
yang sederhana, mudah dipahami dan dapat sampai ke mad’u serta dengan
menggunakan humor/lawakan-lawakan. Cara ini dilakukan agar mad’u atau
jamaah tidak tersinggung atas apa yang beliau sampaikan dan agar tidak terlalu
spaneng dalam mendengarkan ceramah beliau. Hal ini merupakan suatu terobosan
untuk mencegah kebosanan dalam ceramah yang dilakukan oleh seorang da’i.
Dalam setiap ceramah Gus Baha selalu banyak candaan akan tetapi tidak
meninggalkan jalurnya seperti dalam istilah santai akan tetapi tetap serius. Dalam
mengawali pembukaan ceramahnya, Gus Baha memasukkan sebuah humor-humor
yang akan menarik perhatian mad’u agar pesan dakwah Beliau bisa diterima.
4. Kondisi idealnya supaya seorang da’i bisa diterima harus ada perbaikan dalam
penyampaian yang digunakan. Harus menggunakan perkataan yang baik dan
memiliki hubungan yang erat dengan mad’u, supaya dakwahnya bisa diterima
oleh mad’u. Dakwah yang disampaikan oleh Gus Baha sangat sederhana dan
11
menggunakan metode yang menarik dengan disertai candaan namun juga serius
dalam menyampaian dakwahnya.
12
DAFTAR PUSTAKA
AS, Enjang. DAKWAH SMART: Proses Dakwah Sesuai Dengan Aspek Psikologis Mad’u.
Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 4 No. 12. Juli-Desember, 2003.
Aziz, Moh. Ali. Ilmu Dakwah. Jakarta : Kencana.
Fabriar, Silvia Riskha. Urgensi Psikologi Dalam Aktivitas Dakwah. Jurnal An-Nida, Vol.11
No. 2. Juli-September, 2019.
Hafniati. Interaksi Da'i dan Mad'u tentang Penguasaan Media dan Metode Dakwah dalam
Mencapai Hasil dan Tujuan Dakwah. Jurnal Muqaddimah. Vol. 14 No. 3. September-Desember 2018.
Mustafa, Qowim. Profil KH.Bahauddin Nur Salim (Gus baha) Dan Pengaruhnya Pada
Generasi Milenial. Jurnal Pesantren Dan Kebudayaan Islam Nusantara, vol 1. 2022.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar