MEMAKNAI ESENSI TAQWA OLEH USTADZ ADI
HIDAYAT, Lc, MA.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pada mata kuliah
“Psikologi Dakwah”
Dosen Pengampu :
Dr. Hj. Elfi Yuliani Rochmah, M.Pd.I.
Disusun oleh kelompok 5 / PAI F :
1. Muna Nur Hidayatuz Z. (201190178)
2. Neti Aulia Sari (201190190)
3. Nila Verry Asmarita (201190193)
4. Nu’ma Nafisa (201190205)
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO
2022
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan
segala rahmat- Nyalah akhirnya kami bisa menyusun makalah dengan judul
“Memaknai Esensi Taqwa oleh Ustadz Adi Hidayat, Lc. MA”. Kami juga
mengucapkan terimakasih kepada ibu Dr. Hj. Elfi Yuliani Rochmah, M,Pd.I selaku
dosen pen gampu kami yang telah memberikan tugas ini kepada kami sehingga kami
mendapatkan banyak tambahan pengetahuan khususnya dalam masalah memaknai
esensi taqwa oleh Ustadz Adi Hidayat, Lc. MA.
Kami selaku penyusun berharap semoga makalah yang telah kami susun ini
bisa memberikan banyak manfaat serta menambah pengetahuan terutama dalam hal
“Memaknai Esensi Taqwa Oleh Ustadz Adi Hidayat, Lc. MA” . Selain itu, kami
menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan dan
membutuhkan perbaikan, sehingga kami sangat mengharapkan masukan serta kritik
dari para pembaca.
Ponorogo, Mei 2022
Penyusun
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................. i
KATA PENGANTAR.............................................................................................. ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1
A. Latar Belakang ............................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah...........................................................................................2
C. Tujuan .............................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN .........................................................................................4
A. Kondisi Psikologis Mad’u ...............................................................................4
B. Kondisi Psikologis Da’i ..................................................................................5
C. Interaksi Antara Da’i dan Mad;u.....................................................................9
D. Kondisi Idealnya Jika Diupayakan Untuk Perbaikan Agar Diterima Oleh
Mad’u ...........................................................................................................10
BAB III PENUTUP ................................................................................................12
A. Kesimpulan .................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................14
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dakwah adalah menyeru kepada umat manusia untuk menuju kebaikan,
memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dalam rangka
mem peroleh kebahagiaan di dunia dan kesejahteraan di akhirat. Kerena itu,
dakwah memiliki pengertian yang luas. Ia tidak hanya berarti mengajak dan
menyeru umat manusia agar memeluk Islam, lebih dari itu dakwah juga berarti
upaya membina masyarakat Islam agar menjadi masyarakat yang lebih
berkualitas (khairu ummah) yang di bina dengan ruh tauhid dan ketinggian nilai -nilai Islam. Menurut Quraisy Shihab sebagaiman a yang dikutip oleh Samsul
Munir Amin, dakwah adalah seruan atau ajakan kepada keinsyafan atau usaha
mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap
prbadi maupun masyarakat.
Selain pengertian diatas dakwah juga berarti proses penyampaian, ajakan
kepada orang lain atau kepada masyarakat untuk memeluk, mempelajari dan
mengamalkan ajaran agama secara sadar, sehingga membangkitkan dan
mengembalikan potensi fitri orang itu, dan dapat hidup bahagia di dunia dan di
akhirat. Hukum dakwah adalah wajib ‘ain, dalam arti wajib bagi setiap muslim
untuk berdakwah sesuai dengan apa yang ia ketahui. Obyek dakwah dengan
berurutan kepada diri sendiri, keluarga, sanak keluarga dekat, sebagian
kelompok, kepada seluruh umat manusia. Berdakwah perlu menggunakan
metode, yaitu cara dakwah yang teratur dan terprogam secara baik agar maksud
mengajak melaksanakan ajaran- ajaran agama Islam dengan baik dan sempurna.
Metode dakwahnya dengan hikmah, maw’izhah hasanah , berdiskusi atau tukar
pikiran dengan cara yang baik, menyampaikan suatu kisah, peumpamaan, tanya
jawab, dan keteladanan yang baik.
Bisa disimpulkan bahwa dakwah menempati posisi yang tinggi dan mulia
dalam kemajuan agama Islam, tidak dapat dibayangkan apabila kegiatan dakwah
2
mengalami kelumpuhan yang disebabkan oleh berbagai faktor terlebih pada era
g lobalisasi sekarang ini, dimana berbagai informasi masuk begitu cepat dan
instan yang tidak dapat dibendung lagi. Umat Islam harus dapat memilah dan
menyaring informasi tersebut sehingga tidak bertentangan dengan nilai- nilai
Islam. Tujuan dakwah adalah terealisasinya nilai - nilai Islam dalam segala aspek
kehidupan di dunia ini. Sehingga mendatangkan sisi positif berupa kebahagiaan
dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat nanti. Dakwah memiliki tujuan yang
berorientasi kepada perilaku manusia. Dakwah akan mencapai tujuannya
manakala ajaran Islam yang berupa norma- norma yang menuntun orang agar
berbuat baik dan menjauhi perbuatan buruk dapat terealisasikan dengan
sempurna.
Dalam tayangan di situs youtube channel Trans TV Official dengan jumlah
subscribe 15,6 juta yang berjudul “Memaknai Esensi Taqwa” dengan jumlah
penonton lebih dari 23 ribu ditonton, adalah ustadz Adi Hidayat, Lc. MA. Beliau
menggunakan alat papan tulis untuk menjelaskan isi dari dakwahnya.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk menganalisis
pesan dakwah ustadz Adi Hidayat, Lc. MA. Yang berada di youtube channel
Trans TV Official dengan alamat web https://youtu.be/uMIfVEvMkS0
“Memaknai Esensi Taqwa”. Dalam video tersebut beliau memberikan pesan
dakwah tentang peningkatan taqwa maka Allah akan menjamin kebahagiaan
dalam hidupnya, tambahan pengetahuan, dan dimudahkan jalan keluar dari
setiap kehidupan yang dialami. Oleh karena itu, peneliti mengangkat sebuah
judul “MENINGKATKAN ESENSI TAQWA”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi psikologis mad’u?
2. Bagaimana kondisi psikologis da’i?
3. Bagaimana interaksi antara da’i dan mad’u?
3
4. Bagaimana kondisi idealnya jika dilakukan perbaikan agar diterima
oleh mad’u?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui kondisi psikologis mad’u.
2. Untuk mengetahui kondisi psikologis da’i.
3. Untuk mengetahui interaksi antara da’i dan mad’u.
4. Untuk mengetahui kondisi idealnya jika dilakukan perbaikan agar
diterima oleh mad’u.
4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kondisi Psikologi Mad’u
Dalam kajian teori komunikasi, sebuah pesan dianggap telah
tersampaikan dengan baik apabila pesan tersebut sudah menghasilkan timbal
balik dari komunikan. Timbal balik dalam hal ini diartikan sebagai efek dari
pesan tersebut. Artinya jika kita korelasi kan dalam aktivitas dakwah, proses
dakwah dianggap berjalan dengan baik jika apa yang disampaikan da’i, telah
mampu merubah kepribadian mad’u ke arah yang lebih baik.
Aktivitas dakwah yang diartikan sebagai sebuah sistem secara
material terdiri dari berbagai unsur atau komponen, mulai dari da’i, isi dakwah,
metode dakwah serta media dakwah. Untuk menuju proses dakwah yang efektif
dan efisien, sudah menjadi hal yang wajib untuk memaksimalkan setiap
komponen - komponennya. Paradigma inilah yang mengakibatkan para da’i
fokus untuk memaksimalkan komponen yang sifatnya material, padahal ada
hal - hal yang sifatnya material, yang juga perlu diperhatikan seperti psikologi
mad’u, kehidupan sosial mad’u dan lain sebagainya.
Dalam melaksanakan tugas dakwah, seorang da’i dihadapkan pada
kenyataan bahwa individu- individu yang akan diberi dakwah memiliki
keberagaman dalam berbagai hal, seperti pikiran- pikiran, pengalaman,
kepribadian, dan lain- lain. Keberagaman tersebut akan memberikan corak yang
berbeda pula dalam menerima dakwah dan menyikapinya, untuk
mengefektifkan usaha dakwah seorang da’i dituntut untuk memahami mad’u
yang akan dihadapi. Seorang da’i dituntut menguasai studi psikologi yang
mempelajari tentang kejiwaan manusia sebagai individu maupun anggota
masyarakat, baik pada fase perkembangan manusia, anak, remaja, dewasa, dan
lanjut usia. Dengan mengetahui kondisinya, tentu da’i akan bisa memilih
5
materi, metode yang sesuai dengan mad’u sehingga dakwah bisa berjalan efektif
dan efisien.
1
Dalam berdakwah yang dilakukan oleh da’i perlu memperhatikan
kondisi psikologi mad’u, sehingga pesan dakwah yang dilakukan secara tidak
langsung dapat menggunakan komunikasi yang mudah dipahami oleh
keragaman masyarakat. Sehingga isi pesan dakwah untuk menumbuhkan
kesadaran dan perilaku beragama mad’u dapat tercapai sesuai dengan tujuan
dakwah. Mad’u dapat menyadari tentang kebutuhan agama dan berperilaku
sesuai dengan nilai - nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga tugas
tambahan bagi da’i, selain mengemas isi pesan dakwah Isl am yang mudah
dipahami juga memprediksi perilaku mad’u yang memiliki keragaman
psikologi. Maka dakwah Islam disampaikan da’i dengan komunikasi maupun
simbol - simbol yang dapat diterima oleh mad’u di seluruh penjuru masyarakat
dengan rasa yang menyenangkan dan terhibur.
2
B. Kondisi Psikologi Da’i
Islam adalah agama dakwah yaitu agama yang mengajak dan
memerintahkan umatnya untuk selalu menyebarkan dan menyiarkan ajaran
Islam kepada seluruh umat manusia. Oleh sebab itu menyampaikan seruan
dakwah kepada masyarakat sangat diperlukan sikap partisipatif dari da’i atau
mubaligh demi mewujudkan masyarakat muslim yang paham akan nilai- nilai
agama.
3
Pengertian da’i secara khusus yaitu orang yang mengajak kepada orang
lain baik secara langsung atau tidak langsung dengan kata - kata, perbuatan atau
tingkah laku ke arah kondisi yang baik atau lebih baik menurut syariat Al- Qur’an
dan sunnah. Berdasarkan pengertian khusus tersebut da’i identik dengan orang
yang melakukan amar nahi munkar. Secara umum da’i yaitu setiap muslim atau
1
St. Rahmatiah, Peran Psik ologi dalam Proses Dak wah , Jurnal Bimbingan Penyuluhan
Islam Vol. 1 No. 1, 2014, Hal. 88.
2
Farida, Psik ologi Mad’u di Era Media Elek tronik (Predik si Perubahan Perilak u
Masyarak at), Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. 4 No. 2, 2016, Hal. 281.
3
Syihata Abdullah, Dak wah Islamiyah, (Jakarta: Departemen Agama RI, 1978), 80.
6
muslimat yang berdakwah sebagai kewajiban yang melekat dalam diri sebagai
realisasi perintah Rasulullah SAW.
4
Hal - hal yang semula menyimpang dari Al - Qur’an dan hadis
diluruskan agar sesuai dengan ajaran Islam baik aqidah, muamalah, dan aspek -aspek kehidupan lainnya. Olehnya itu, da’i harus memenuhi kualifikasi dan
syarat- syarat tertentu agar proses dakwahnya sesuai dengan target yang ingin
dicapai yaitu:
1. Da’i harus mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang Islam.
Menjadi keharusan bagi da’i untuk mendalami pengetahuan agama baik
masalah aqidah, fiqh, muamalah dan berbagai aspek disiplin kegamaan
lainnya.
2. Da’i harus terlebih dahulu mengetahui seluk beluk Islam sebelum terjun ke
lapangan untuk berdakwah, sehingga da’i mampu memberikan pemahaman
tentang kesempurnaan agama Islam kepada masyara kat.
3. Da’i harus menjadi teladan yang baik bagi umat, sebab perilaku, aktifitas,
akhlak, perkataan dan perbuatan da’i memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap umat.
5
Kondisi psikologis da’i dalam makalah ini tertarik untuk
menganalisis pesan dakwah dari Ustadz Adi Hidayat, Lc, MA. Yang berada
dalam channel youtubenya Trans TV Official dengan mengangkat tema
“Memaknai Esensi Taqwa”. Di dalam video tersebut menyampaikan pesan
tentang peningkatan taqwa maka Allah akan menjamin kebahagiaan dalam
hidupnya, tambahan pengetahuan, dan dimudahkan jalan keluar dari setiap
kehidupan yang dialami.
Ustadz Adi Hidayat, Lc, MA. adalah salah satu pendakwah Islam
Indonesia dan penulis buku keislaman. Ustad z Adi Hidayat, Lc, MA. Lahir
dengan nama lengkap Adi Hidayat Warso pada tanggal 11 september 1984 di
4
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dak wah , (Jakarta: Kencana Prenada Me dia Group, 2004), 216.
5
Najamuddin, Metode Dak wah Menurut Al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani),
23.
7
Pandeglang, Propinsi Ban ten . Dari pasangan orang tua Warso Supena dan Rafiah
Akhyar. Memiliki 4 saudara dan menikah dengan Shufairok atau dikenal dengan
panggilan mbak Lir, asli Lasem Rembang serta memiliki 3 orang anak.
Pendidikan agama beliau dapatkan dari kedua orang tuanya, meski pertemuan
dengan ayahnya tidak berlangsung lama dikarenakan sang ayahanda dipanggil
oleh yang maha kuasa saat Ustadz Adi Hidayat berumur 3 tahun. Pelajaran
mengaji Al - Qur’an beliau dapatkan dari sang ibunya sejak ia masih kecil
bersama saudara- saudara lainnya. Dalam salah satu ceramahnya Usta dz Adi
Hidayat menceritakan bagaimana ibunya mendidik anak- anaknya untuk mengaji
Al - Qur’an diwaktu setelah shalat magrib. Sang ibunda akan mencari anak-anaknya yang tidak hadir saat pelajaran mengaji hingga ditemukan dimanapun
mereka bersembunyi. Ustadz Adi Hidayat memulai pendidikan formal di TK
Pertiwi Pandeglang, kemudian melanjutkan pendidikan ke SDN III Pandeglang,
lalu melanju t kan Tsanawiyah dan Aliyah di Pesantren Darul Arpam
Muhammadiyah Garut, lalu melanjutkan ke Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta. Pendidikan ilmu agamanya belum selesaikan di
Pendidikan Pasca Sarjana di Islamic Call College Tripoli, Libya (Gelar Lc) dan
juga Magister Agama (Gelar Ma) di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan
Gunung Jati Bandung.
Ustadz Adi Hidayat , Lc. MA. dalam video ini menjelaskan tentang
“Memaknai Esensi Taqwa”. Beliau menyampaikan dakwah pada mad’u dengan
bahasa dan materi yang ringan dan mudah dipahami juga santai. Berikut
beberapa hal yang disampaikan oleh Ustadz Adi Hidayat, Lc. MA.:
1. Meningkatkan taqwa kepada Allah SWT maka Allah SWT akan menjamin
hidup bahagia. Kalangan orang- orang yang berbahagia karena telah
memenuhi syarat meningkatkan ketaqwaan.
2. Meningkatkan taqwa kepada Allah SWT maka Allah SWT akan
menjanjikan peningkatan pengetahuan kepada orang yang bertaqwa. Selain
itu, akan diberikan kemudahan dalam belajar di semua level pendidikan
yang dia jalani.
8
3. Meningkatkan taqwa kepada All ah SWT maka Allah SWT akan
menjanjikan kemudahan jalan keluar dari setiap persoalan kehidupan yang
ia alami. Jika ada orang yang ada perm asalahan dan tidak kunjung selesai
permasalahannya barangkali karena kurang bertaqwa dan k urang dekat
kepada Allah SWT.
Dalam video ini juga dibuka tanya jawab mengenai dakwah yang
disampaikan oleh Ustadz Adi Hidayat, berikut ulasan mengenai tanya jawab
tersebut:
1. Pertanyaan: Apakah untuk manusia yang melakukan puasa selama bulan
ramadhan, itu sudah mampu untuk meraih ketaqwaan?
Jawab: Tidak semua orang puasa mendapatkan ketaqwaan kecuali yang
bersungguh - sungguh dalam menjalankan puasanya. Nabi pernah bersabda
bahwa tidak sedikit orang yang berpuasa hanya menahan lapar dan haus
saja. Ukuran oran g mendapatkan derajat taqwa yautu pada peningkatan
ibadah dan penjauhan maksiat.
2. Pertanyaan: Dalam bulan Ramadhan manusia berlomba- lomba untuk
meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. bagai mana cara kita untuk
tetap meningkatkan ketaqwaan kita?
Jawab: kalau kita ingin istiqomah dalam bertaqwa maka perbanyak amal
shalih setelah ramadhan dan pertahankan amalan yang biasa kita kerjakan
saat ramadhan. Jika ketika kita biasa melakukan itu semua maka orang itu
akan mendapatkan kenikmatan iman.
3. Pertanyaan: Bertaqwa itu lillahita’ala. Tetapi biasanya orang berpuasa itu
mengharapkannya pahala dan mengesampingkan lillahita’ala, apakah itu
masih termasuk orang bertaqwa?
Jawaban: Allah SWT berfirman bahwasanya kita tidak diperintahkan
beribadah kepada Allah SWT kecuali berusaha ikhlas karena Allah SWT.
dan nabi bersabda bahwa semua amal itu tergantung dari niat. Dan amal itu
akan dihisab berdasarkan niatnya. Jika niatnya benar karena Allah SWT,
maka Allah SWT akan memberikan pahala sesuai niatnya.
9
4. Pertanyaan: Apa saja tingkatan dari iman?
Jawaban: bahwa dalam Al - Qur’an, panggilan orang untuk yang beriman
bahwa terdapat 3 jenis panggilan, yaitu untuk orang yang dekat, menengah,
dan jauh. Allah menegaskan semua yang memiliki iman bahwa yang
imannya kuat, meneng ah, atau imannya yang jauh hanya karena berkah
ramadhan maka dijadikan awal ramadhan diberikan semua kekuatan iman
yang sama.
C. Interaksi Antara Da’i dan Mad’u
Interaksi merupakan suatu bentuk hubungan antara dua orang atau
lebih dimana tingkah laku seseorang diubah oleh tingkah laku yang lain. Jadi
jelas bahwa di dalam proses interaksi itu terdapat tindakan saling memengaruhi
antara satu individu dengan individu lainnya, sehingga timbulah kemungkinan-kemungkinan untuk saling mengubah atau memperbaiki peilaku masing -masing secara timbal balik.
6
Perubahan demikian bisa terjadi secara disadari
atau tidak sepenuhnya disadari, atau secara perlahan- lahan, di dalam hubungan
interaksional inilah terjadi suatu proses belajar mengajar di antara manusia ,
dimana di dalam proses dakwah merupakan permulaan yang fundamental bagi
suksesnya dakwah. Tanpa adanya suatu proses belajar mengajar maka dakwah
sulit memperoleh tempat di dalam hati manusia.
Berdasarkan video ceramah Ustadz Adi Hidayat mengenai
memaknai esesnsi takwa, diketahui bahwa Ustadz Adi Hidayat menggunakan
beberapa metode dalam menyampaikan pesan dakwahnya. Diantaranya adalah
dengan menggunakan metode tulisan. Dalam setiap kajiannya Ustadz Adi
Hidayat selalu menggunakan papan tulis untuk menjelaskan kepada mad’unya.
Dimana tulisan- tulisan tersebut memuat isi - isi pelajaran dan nasehat yang baik
agar kita saat menjelaskan suatu materi harus dengan sumber yang jelas. Selain
itu dengan penyampaian yang baik maka dapat menyentuh perasaan sehingga
dapat membengk itkan semangat untuk mengamalkan syari’at Islam.
6
Hafniati, “Interak si Da’i dan Mad’u Tentang Penguasaan Media dan Metode Dak wah
Dalam Mencapai Hasil dan Tujuan Dak wah”, Jurnal Liwaul Dakwah, Vol. 10, No. 2, 2020, 93.
10
Adapun metode selanjutnya yang digunakan oleh Ustadz Adi
Hidayat adalah metode diskusi yang dijalankan dengan format kajian dakwah.
Metode ini dilakukan setelah menerangkan semua bahasan materi dakwah.
Dengan metode diskusi ini Ustadz Adi Hidayat memberikan kesempatan
kepada mad’u yang hadir di dalam kajiannya untuk bertanya. Metode yang
digunakan oleh Ustadz Adi Hidayat ini sangat baik dalam menciptakan interaksi
antara da’i dengan mad’u. Metode ini dapat m embuat materi yang disampaikan
oleh da’i lebih mudah diterima oleh ma’u dan mad’u juga lebih jelas menerima
pesan yang disampaikan oleh da’i.
D. Kondisi Idealnya Jika Diupayakan Untuk Perbaikan Agar Diterima Oleh
Mad’u
Kondisi idealnya agar seorang da’i dakwahnya bisa diterima harus
ada sebuah perbaikan cara penyampaian sampai metode yang digunakan. Dalam
penyampaiannya harus menggunakan perkataan yang baik, memiliki hubungan
erat dengan mad’u, tidak membedakan - bedakan agama antar mad’u,
menggunakan metode yang persuasif Dengan cara tersebut maka dakwah akan
bisa diterima oleh mad’u. Da’i harus menarik perhatian mad’u sehingga mad’u
tidak merasa bosan dalam kondisi tersebut. Karena Kondisi itu mad’u akan
mempunyai kesulitan dalam memahami dakwah yang telah disampaikan.
Gaya suara Ustad Adi Hidayat Dalam ceramanya sangat bervariasi.
Dia sangat memperhatikan nada suara seperti Pitch, Pause, penekanan dan
kecepatan dalam mengucapkan kata atau Rate. Sehingga mad’u yang
mendengarkan tidak bosan serta dapat merasakan emosi yang tengah dibangun
dalam dakwah tersebut yang seolah- olah pendengar merasakan dan menerima
pesan dakwah dalam tersebut. Gaya gerak tubuh Ustad Adi Hidayat dalam
ceramah ini banyak menggunakan gerak non verbal ini, mulai dari pakaian yang
diken akan sangat sopan dan syar’i, kontak mata yang sangat apik untuk
dimainkan, mimik wajah dari mengerutkan kening, alis, wajah marah, sedih,
kecewa. Semua telah tergambar dengan jelas. Gerakan tangan juga demikian,
11
tidak terlalu berlebihan. Hingga perpindaha n gerak tubuh mengikuti kamera
yang sedang aktif pun tergambar dengan sangat rapih dan tidak terkesan
berpindah - pindah. Ceramah ustadz Adi Hidayat memiliki ciri khas tersendiri,
yakni sambil membuat coretan di papan tulis. Hampir setiap ceramahnya, ia
menggunakan media papan tulis dan spidol.
12
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Dalam berdakwah yang dilakukan oleh da’i perlu memperhatikan kondisi
psikologi mad’u, sehingga pesan dakwah yang dilakukan secara tidak
langsung dapat menggunakan komunikasi yang mudah dipahami oleh
keragaman masyarakat. Sehingga isi pesan dakwah untuk menumbuhkan
kesadaran dan perilaku beragama mad’u dapat tercapai sesuai dengan
tujuan dakwah .
2. Bedasarkan video dakwah dari Ustadz Adi Hidayat, Lc, MA. y ang berada
dalam channel youtubenya Trans TV Official dengan mengangkat tema
“Memaknai Esensi Taqwa” terlihat bahwa da’i menyampaikan pesan
dakwahnya dengan sangat jelas dan semangat hal ini tentunya membuat
para mad’u akan tertarik dalam mendengarkan pesan yang disampaikan.
3. Berdasarkan video ceramah Ustadz Adi Hidayat mengenai memaknai
esesnsi takwa, diketahui bahwa Ustadz Adi Hidayat menggunakan
beberapa metode dalam menyampaikan pesan dakwahnya. Diantaranya
adalah dengan menggunakan metode tulisan dan juga menggunakan
metode diskusi. Dengan metode diskusi ini Ustadz Adi Hidayat
memberikan kesempatan kepada mad’u yang hadir di dalam kajiannya
untuk bertanya. Metode yang digunakan oleh Ustadz Adi Hidayat ini
sangat baik dalam menciptakan interaksi antara da’i dengan mad’u. Selain
itu dengan penyampaian yang baik maka dapat menyentuh perasaan
sehingga dapat membengkitkan semangat untuk mengamalkan syari’at
Islam
4. Kondisi idealnya agar seorang da’i dakwahnya bisa diterima harus ada
sebuah perbaikan cara penyampaian sampai metode yang digunakan.
Dalam penyampaiannya harus menggunakan perkataan yang baik,
memiliki hubungan erat dengan mad’u, tidak membedakan - bedakan agama
13
antar mad’u, menggunakan metode yang persuasif Dengan cara tersebut
maka dakwah akan bisa diterima oleh mad’u. Da’i harus menarik perhatian
mad’u sehingga mad’u tidak merasa bosan dalam kondisi tersebut. Karena
Kondisi itu mad’u akan mempunyai kesulitan dalam memahami dakwah
yang telah disampaikan.
14
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Syihata. 1978. Dak wah Islamiyah. Jakarta: Departemen Agama RI.
Aziz, Moh. Ali. 2004. Ilmu Dak wah . Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Farida. 2016. Psikologi Mad’u di Era Media Elektronik (Prediksi Perubahan
Perilaku Masyarakat). Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam. 4(2): 281.
Hafniati. 2020. “Interak si Da’i dan Mad’u Tentang Penguasaan Media dan Metode
Dak wah Dalam Mencapai Hasil dan Tujuan Dak wah”. Jurnal Liwaul Dakwah.
10(2): 102-127.
Najamuddin. Metode Dakwah Menurut Al-Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.
Rahmatiah, St. 2014. Peran Psikologi dalam Proses Dakwah . Jurnal Bimbingan
Penyuluhan Islam. 1(1): 88.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar