Jumat, 17 Juni 2022

Kelompok 04

 i

CARA MENGHADAPI TETANGGA YANG IRI DENGKI DAN SUKA 

KEPO (PENGAJIAN LUCU NGAPAK MUMPUNI HANDAYAYEKTI)

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

“Psikologi Dakwah”

Dosen Pengampu:

Dr. Hj. Elfi Yuliani Rochmah, M.Pd.I

Disusun Oleh Kelompok 04/ PAI F:

1.  Muntaha Hermawan      (201190179)

2.  Murjiati          (201190180)

3.  Novinda Ellysta Sari      (201190202)

4.  Novita Febrianti        (201190203)

5.  Nunung Latifatul Munawaroh    (201190206)

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO

2022

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan 

rahmat dan hidayahnya kepada kita semua sehingga kami bisa menyusun makalah 

ini dengan judul “Cara Menghadapi Tetangga yang Iri Dengki dan Suka Kepo 

(Pengajian Lucu Ngapak Mumpuni Handayayekti)” Kami juga mengucapkan 

banyak terima kasih kepada Ibu Dr. Hj. Elfi Yuliani Rochmah, M.Pd.I selaku 

dosen pengampu mata kuliah kami yang telah memberikan tugas ini kepada kami 

sehingga kami mendapatkan banyak tambahan pengetahuan khususnya dalam 

masalah “Cara Menghadapi Tetangga yang Iri Dengki dan Suka Kepo (Pengajian 

Lucu Ngapak Mumpuni Handayayekti)”.

Kami selaku penyusun berharap semoga makalah yang telah kami susun ini 

bisa memberikan  banyak manfaat serta menambah pengetahuan terutama dalam 

hal “Cara Menghadapi Tetangga yang Iri Dengki dan Suka Kepo (Pengajian Lucu 

Ngapak Mumpuni Handayayekti)”. Selain itu, pemakalah menyadari bahwa 

makalah ini masih memiliki banyak kekurangan dan tentunya membutuhkan 

perbaikan, sehingga kami sangat mengharapkan masukkan serta kritik dari para 

pembaca.

Ponorogo, 15 Mei 2022

Penyusun

iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL  ................................................................................................ i

KATA PENGANTAR  ............................................................................................  ii

DAFTAR ISI  ..........................................................................................................  iii

BAB I PENDAHULUAN  ........................................................................................  1

A.  Latar Belakang  .............................................................................................  1

B.  Rumusan Masalah  ........................................................................................  2

C.  Tujuan  ..........................................................................................................  2 

BAB Ii Pembahasan  .................................................................................................  3 

A.  Kondisi Psikologis Mad’u  ............................................................................  3

B.  Kondisi Psikologis Da’i  ...............................................................................  4 

C.  Interaksi Antara Da’i Dan Mad’u  ................................................................  7

D.  Kondisi Ideal Yang Diupayakan Untuk Perbaikan Agar Diterima Oleh 

Mad’u  ...........................................................................................................  9

BAB III PENUTUPAN  ..........................................................................................  11 

A.  Kesimpulan  ................................................................................................  11 

DAFTAR PUSTAKA  ............................................................................................  12

1

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Dakwah adalah kegiatan yang sifatnya mengajak, menyeru, serta 

memanggil orang (mad’u) untuk beriman dan taat  kepada Allah SWT sesuai 

dengan aqidah dan syariat Islam. Kegiatan dakwah merupakan proses 

komunikasi antara seorang da’i dengan mad’u, yang mana dengan adanya 

komunikasi, maka seseorang dapat menyampaikan apa yang ada dalam 

pikirannya dan apa yang dirasakan orang lain.

Selain itu dakwah diartikan dengan suatu ajakan yang dilakukan untuk 

membebaskan manusia secara individu dari pengaruh luar nilai kejahatan 

menuju internalisasi nilai ketuhanan. Bahwasannya dakwah termasuk dalam 

tindakan komunikasi, akan tetapi tidak semua aktivitas komunikasi disebut 

dengan dakwah. Pada hakikatnya dakwah sendiri merupakan suatu ajakan atau 

seruan dalam berbuat kebajikan untuk mentaati perintah dan menjauhi larangan 

Allah SWT.

Pada dasarnya dakwah bertujuan untuk mempengaruhi  dan 

mentransformasikan sikap batin serta perilaku manusia menuju tatanan yang 

baik pada setiap individu maupun kelompok. Kegiatan dakwah tidak hanya 

dilakukan dengan lisan melainkan bisa dilakukan secara tulisan bahkan melalui 

sebuah film. Dimana seorang da’i melakukan aktivitas dakwahnya dengan cara 

memanfaatkan media sebagai alat untuk menyampaikan pesen dakwah.

Banyak orang yang beranggapan bahwa suatu aktivitas dakwah harus 

dengan ceramah kyai. Padahal dengan seiring perkembangan zaman, 

kebutuhan akan berdakwah semakin meningkat sehingga muncul sebuah 

inovasi dalam berdakwah. Perkembangan teknologi informasi yang semakin 

pesat, dakwah dapat dilakukan melalui media yang lebih modern. Kegiatan 

dakwah sekarang sudah berkembang menjadi sebuah profesi dengan  menuntut 

skill, planning serta manajemen yang handal. 

2

Salah satunya pada tayangan di situs channel youtube Avin Videos 

dengan jumlah subscriber 313 ribu subscribe yang berjudul “Cara Menghadapi 

Tetangga yang Iri Dengki dan Suka Kepo (Pengajian Lucu Ngapak  Mumpuni 

Handayayekti)” dengan jumlah penonton 892 ribu penonton, adalah Mumpuni 

Handayayekti, beliau viral di media sosial dengan dakwahnya yang membuat 

lelucon para penonton. 

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk 

menganalisis pesan dakwah Mumpuni Handayayekti yang berada di channel 

youtube Avin Videos dengan alamat web https://youtu.be/Y89xUJwGtos “Cara 

Menghadapi Tetangga yang Iri Dengki dan Suka Kepo (Pengajian Lucu 

Ngapak Mumpuni Handayayekti)”. Dalam video tersebut beliau memberikan 

pesan dakwah mengenai cara menghindari sikap dengki dan kepo. Oleh karena 

itu, peneliti mengangkat sebuah judul  “CARA MENGHADAPI 

TETANGGA YANG IRI DENGKI DAN SUKA KEPO (PENGAJIAN 

LUCU NGAPAK MUMPUNI HANDAYAYEKTI)”.

B. Rumusan Masalah

a.  Bagaimana kondisi psikologis mad’u?

b.  Bagaimana kondisi psikologis da’i?

c.  Bagaimana interaksi antara da’i dan mad’u?

d.  Bagaimana  kondisi idealnya, jika mengupayakan perbaikan agar yang 

disampaikan da’i dapat diterima atau dipahami oleh mad’u?

C.  Tujuan

a.  Untuk mengetahui kondisi psikologis mad’u.

b.  Untuk mengetahui kondisi psikologis da’i.

c.  Untuk mengetahui interaksi antara da’i dan mad’u.

d.  Untuk mengetahui kondisi idealnya, jika mengupayakan perbaikan agar 

yang disampaikan da’i dapat diterima atau dipahami oleh mad’u.

3

BAB II

PEMBAHASAN

A.  Kondisi Psikologis Mad’u

Dalam aktivitas dakwah Mad’u merupakan manusia yang menjadi 

sasaran dakwah atau penerima dakwah, baik secara individu maupun 

kelompok, baik yang beragama Islam maupun bukan, dengan kata lain 

orang yang menerima dakwah secara keseluruhan. Tidak dapat dipungkiri 

bahwa setiap individu mad’u memiliki harapan ketika sedang 

mendengarkan materi dakwah. Oleh karena itu, perlu adanya penyesuaian 

antara materi yang disampaikan oleh da’i dengan kebutuhan mad’u. 

Menurut Ilyas dan Prio bahwa “kepentingan dakwah itu berpusat pada apa 

yang dibutuhkan oleh mad’u, bukan kepada apa yang dikehendaki oleh 

pelaku dakwah (da’i).

Materi dakwah yang menempatkan mad’u sebagai pusat penerima 

dakwah menghendaki strategi dakwah yang empatik, simpati dan 

humanistis. Empatik dan simpatik dalam dakwah menghendaki sikap 

yang menempatkan da’i dalam  posisi mad’u. Sedangkan dakwah 

humanistis menghendaki pengakuan terhadap sisi kemanusiaan mad’u 

secara utuh, baik pemikirannya, kejiwaannya, maupun problematikanya. 

Dengan demikian, apabila terdapat salah satu aspek ditinggalkan maka 

secara langsung menjadikan dakwah kurang efektif, lantaran tidak sesuai 

dengan kebutuhan mad’u yang nantinya tidak akan memberikan manfaat 

apapun.

Pada dasarnya dakwah memiliki tujuan yaitu untuk mewujudkan 

kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat dengan ridha 

Allah SWT. Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan dakwah kepada 

umatnya dengan berbagai cara baik secara lisan, tulisan maupun 

perbuatan. Dengan demikian seorang da’i sangat dituntut untuk 

menguasai materi, media, serta metode yang digunakan secara tepat dan 

benar, maka diperlukan sebuah pendekatan khusus sesuai dengan 

4

kebutuhan, situasi dan kondisi seorang mad’u sehingga tujuan dakwah 

dapat terealisasi.

1

Dengan demikian, seorang da’i harus mengetahui kondisi psikologis 

mad’u, yang mana  masing-masing mad’u memiliki karakter yang 

berbeda-beda. Maka dalam penyampaian dakwah perlu adanya strategi 

yang tepat, dengan tujuan agar mad’u mudah dalam menerima materi 

dakwah. Secara keseluruhan kondisi psikologis mad’u dalam 

penyampaian materi dakwah oleh da’i mudah diterima oleh mad’u, 

terlihat ketertarikkannya mad’u terhadap penyampaian meteri oleh da’i. 

Maka dapat diketahui bahwa, kondisi psikologis seorang mad’u 

mengalami perkembangan yang cukup baik setelah da’i memberikan 

motivasi terkait materi dakwah yang disampaikan. Oleh karena itu, perlu 

adanya dorongan yang kuat agar seorang mad’u mampu menyesuaikan 

dengan kondisi yang sesuai dengan kebutuhan.

B.  Kondisi Psikologis Da’i

Kata Da’I atau  da’iyah menurut bahasa adalah isim fail berwazan 

fa’ilah dari kata da’aa, yad’uu, daa’in. Kata da’iyah bermakna suara kuda 

dalam suatu peperangan karena ia menjawab orang yang berteriak-teriak 

memanggilnya. Sedangkan Da’I secara istilah adalah orang Islam yang 

secara syariat mendapat beban dakwah mengajak kepada agama Allah.

2

Tidak diragukan lagi bahwa definisi ini mencakup seluruh lapisan dari 

rasul, ulama, penguasa setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. 

Da’i dapat diibaratkan sebagai seorang  guide  atau pemandu terhadap 

orang-orang yang ingin mendapat keselamatan hidup dunia dan akhirat. 

Dalam hal ini da’i adalah seorang petunjuk jalan yang harus mengerti dan 

memahami terlebih dahulu mana jalan yang boleh dilalui dan yang tidak 

1

Hafniati,  Interaksi Da’i dan Mad’u Tentang Penguasaan Media dan Metode Dakwah 

dalam Menapai Hasil dan Tujuan Dakwah, Liwaul Dakwah:  Volume 10, No. 2, Juli-Desember 

2020, 97-104.

2

Drs. Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarta, 2011). 1 

5

boleh dilalui oleh seorang muslim, sebelum ia memberi petunjuk jalan 

kepada orang lain. 

Pendapat lain mengungkapkan bahwa Da’i adalah seseorang yang 

melakukan ajakan atau orang yang menyampaikan ajaran (muballigh). 

Subjek dakwah merupakan unsur penting dalam pelaksanaan dakwah 

karena seorang da’i akan menjadi pemandu titian yang mengemban misi 

risalah dan diserukan kepada objek dakwah dengan dalil yang dapat 

dipertanggung jawabkan kebenarannya. Seorang da’i dituntut mampu 

mengetuk dan menyentuh hati umat yang dihadapinya secara profesional 

agar misi yang disampaikan dapat diterima oleh umat.

3

Kondisi psigologi Da’I dalam malakah ini yang tertarik untuk 

menganalisis pesan yang terkandung dalam dakwah salah satu tayangan 

di situs channel youtube Avin Videos dengan jumlah subscriber 313 ribu 

subscribe yang berjudul “Cara Menghadapi Tetangga yang Iri Dengki dan 

Suka Kepo (Pengajian Lucu Ngapak Mumpuni Handayayekti)” dalam 

video tersebut beliau menyampaikan beberapa pesan mengenai keimanan 

serta ikhtiar, kreatif dedikatif sekaligus selalu berusaha untuk mencapai 

sebuah kesuksesan. Ustadzah Mumpuni memiliki ciri khas tersendiri 

dalam penyampain dakwahnya yaitu dengan bahasa ngapaknya dan 

lelucon yang digunakan saat berdakwah. 

Ustadzah Mumpuni yang memiliki nama lengkah Mumpuni 

Handayayekti. Ia lahir di Cilacap, Jawa Tengah pada tanggal 27 

September 1995, dan saat ini berusia 27 tahun. Ustadzah Mumpuni ini 

sebenarnya sudah lama dikenal oleh masyarakat sebagai penceramah saat 

beliau mengikuti kompetisi AKSI Indosiar. Ustadzah Mumpuni sudah 

memiliki kebiasaan ceramah dan dakwah sejak masih duduk dibangku 

kelas 3 SD, Ustadzah Mumpuni sudah dikenal masyarakat Cilacap 

sebagai pendakwah cilik. Keahliannya tersebut tidak lepas dari peran 

Ayah Mumpuni yang mengenalkannya pada beberapa tokoh agama 

3

Aris Risdiana, Transformasi Peran Da’i Dalam Menjawab Peluang Dan Tantangan (Studi 

terhadap Manajemen SDM), Jurnal Dakwah, Vol. XV, No. 2 Tahun 2014. 438.  

6

kondang setempat. Hal ini bermula saat Ayah Mumpuni mengetahui 

bahwa anaknya gemar berkaca dengan berbicara layaknya seorang 

penceramah, maka kemudian sang Ayah melatihnya dengan bahan dan 

dalil-dalil keagamaan yang kuat. Selain itu Ayah-nya juga mengenalkan 

anaknya pada KH Marzuki yaitu tokoh Kiai yang sangat disegani di 

Bayumas. Dan sejak saat itulah Ustadzah Mumpuni mulai berceramah 

dan berdakwah didepan masyarakat. Namanya semakin melambung 

karena beliau berhasil menjuarai kompetisi AKSI Indosiar dengan 

membawa juara 1 pada tahun 2014. Setelah mengikuti kompetisi tersebut 

nama Ustadzah Mumpuni mulai dikenal oleh banyak orang dan juga 

diundang dalam berbagai acara untuk menjadi pengisi acara diberbagai 

daerah di Indonesia. 

Dalam tanyangan youtube tersebut Ustadzah Mumpuni menjelaskan 

bagaimana cara menjadi orang sukses  dan menghadapi tetangga yang iri 

dengki dan suka kepo terhadap apa yang kita punya, jika seseorang ingin 

sukses harus mau kehujanan dan kepanasan dahulu artinya jika seseorang 

mau sukses harus berusaha dan bersakit-sakit dahulu. Jika seseorang yang 

memiliki hati tetapi terdapat penyakit maka mereka didunia sudah 

mendapatkan imbasnya sebelum diakhirat, lalu bagaimana cara 

menghadapi orang yang iri dengki dan suka kepo, caranya yaitu dengan 

tidak meninggalkan shalat, berperilaku yang baik terhadap tetangga dan 

tidak mengurusi haknya orang lain serta harus hidup rukun dengan 

tetangga tidak menjelek-jelekkan tetangga. Jika seseorang beriman 

kepada Allah SWT dan beriman kepada hari akhir maka harus 

memuliakan tetangga dan juga perngertian kepada tetangga. Karena  sikap 

tersebut dapat menurunkan rasa iri dengki dan suka kepo terhadap 

tetangga. Ustadzah Mumpuni juga menerangkan pentingnya shalat wajib 

yang harus selalu dikerjakan agar dapat diridhoi Allah dalam melakukan 

segala sesuatu serta dapat dilancarkan segala usahanya. 

7

C.  Interaksi antara da’i dan mad’u

Allah telah mewajibkan bagi segenap umuat muslim untuk 

melaksanakan  dakwah islamiah dalam masyarakat diberbagai lapisan 

(QS. Ali Imran: 104) dengan memperhatikan beberapa faktor yang 

melingkupinya. Faktor-faktor tersebut tentunya meliputi seluruh unsur 

kegiatan dakwah yaitu subyek dakwah, obyek dakwah, materi dakwah, 

media dan metode dakwah yang digunakan.  Namun dalam prosesnya 

faktor tersebut memerlukan adanya sistem interaksi dan komunikasi 

secara konsisten, sistematis dan terarah, sehingga tanpa adanya sistem ini 

justru akan menghambat efektifitas proses kegiatan dakwah. Dapat 

dijelaskan bahwa hubungan yang terjadi merupakan hubungan sebab 

akibat dimana kegiatan berdakwah bukan semata merupakan kegiatan 

menyampaikan pesan ajaran Islam melainkan juga berfungsi 

mengembangkan/mendayagunakan tugas kehalifahan manusia di bumi. 

Mengembangkan dan mendayagunakan tugas kehalifahan tentunya 

melibatkan interaksi sosial secara terus menerus dan kontinyu.

Dikatakan  oleh HM. Arifin bahwa proses kegiatan dakwah tidak 

hanya menyangkut hubungan interpersonal, melainkan hubungan antar 

personal dan hubungan sosial. Hal ini disebabakan dalam kehidupannya, 

manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa mengarahkan seluruh 

kehidupannya dengan menjalin hubungan baik terhadap lingkungan fisik, 

psikis dan lingkungan ruhaniahnya.

4

Dakwah dalam proses interaksi dikenal dengan istilah personal 

approach  atau dakwah  face to face  sehingga terjadi proses pengaruh 

mempengaruhi antara subyek dakwah (da’i) dengan sasaran dakwah 

(mad’u) atau sebaliknya. Begitu pula dengan dakwah secara komunal atau 

umum dikenal dengan istilah general approach seperti pengajian akbar, 

majelis taklim, maka disini juga terjadi  proses saling mempengaruhi 

antara dai dan mad’u dalam kelompok sosial. Secara makro, dakwah juga 

4

HM. Arifin, Psikologi Dakwah : Suatau Pengantar, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), 67.  

8

dapat dipandang sebagai sistem dari Suprasistem yang berupa sosio-kultural dalam arti yang luas.

Sitem dakwah dapat dipandang secara makro dan mikro. Secara 

makro, sistem dakwah merupakan sub sistem sosio-kultural dalam arti 

luas, sehingga analisa terhadapnya tidak dapat dilepaskan dengan 

subsistem ideologi, politik, pendidikan, ekonomi, ilmu teknologi dan 

budaya dalam arti sempit.  Secara mikro dakwah Islam merupakan sistem 

yang berdiri sendiri sehingga analisa terhadapnya berdasarkan analisa 

faktor komponen yang membentuk sistem. Sistem dakwah terbentuk dari 

beberapa subsistem yang merupakan komponen-komponen yang lebih 

kecil dan merupakan bagian dari sistem dakwah. Beberapa subsistem 

yang merupakan komponen dakwah tersebut tidak lain adalah unsur-unsur 

dakwah itu sendiri, yaitu da’i, mad’u (obyek dakwah), maddah (materi 

dakwah), wasilah (media), metode (thariqah), dan atsar (efek dakwah).

Keseluruhan dari subsistem dakwah ini merupakan satu kesatuan 

yang sangat  terkait satu dengan yang lain. Jika satu subsistem saja 

terlepaskandari  sistem  dakwah maka target pencapaian cita-cita dakwah 

menjadi terganggu.  Dalam sistem selalu terdapat input, output dan proses. 

Input  yaitu da’i sebagai sumber informasi atau sebagai komunikator, 

Output yaitu cita-cita dakwah yang merupakan cita-cita jangka panjang, 

Proses yaitu pelaksana dakwah, Feedback yaitu proses umpan balik dari 

mitra dakwah setelah proses dakwah, yang kemudian diikuti proses 

evaluasi secara cermat dan tindakan korektif.

Menurut Amrullah Ahmad pada umumnya sistem terdiri dari lima 

komponen dasar, yaitu input (masukan), convertion (proses pengubahan), 

output (keluaran), feedback (umpan balik), dan  environment 

(lingkungan).

Menurut pakar ilmu dakwah, interaksi sosial unsur-unsur dakwah 

sendiri meliputi: 

1.  Interaksi antara maddah dan da’i akan  menghasilkan 

hakikat dan makna pesan dakwah. 

9

2.  Interaksi antara da’i dan mad’u akan menghasilkan kegiatan 

tabligh dan silaturrahmi.

3.  Interaksi antara mad’u dan Tujuan dakwah menghasilkan 

model perilaku yang islami.

4.  Interaksi antara tujuan dan da’i menghasilkan tema-tema 

efektifitas dan efisiensi kegiatan dakwah.

5.  Interaksi antara da’i, mad’u, maddah, tujuan dan washilah 

secara bersama-sama akan menghasilkan kegiatan 

pemberdayaan dan pengembangan potensi kemanusiaan 

secara integral dan komprehensif.

Interaksi yang terbentuk dari masing-masing unsur dakwah pada 

hakikatnya bertujuan untuk mempengaruhi objek atau  mad’u, sehingga 

membawa perubahan sikap dan perilaku sesuai dengan tujuan dakwah 

yaitu mencapai kebahagian. Aspek yang memiliki kontribusi positif 

dengan pencapaian tujuan dakwah, dapat dilihat secara jelas dunia dan 

akhirat dari interaksi anatara da’i dan mad’u. Adapun faktor yang terlibat 

dalam dinamika interaksi sosial adalah faktor sugesti, imitasi, identifikasi 

dan simpati.

D.  Kondisi Ideal Yang Diupayakan Untuk Perbaikan Agar Diterima 

Oleh Mad’u

Kondisi ideal yang diupayakan untuk perbaikan agar diterima oleh 

mad'u yaitu memiliki kemampuan yang meliput kemampuan membaca 

dan memahami seluk beluk komunikannya sehingga dapat dirancang 

metode apa yang cocok dipakai, terutama dalam berkomunikasi. Dengan 

mengetahui karakter komunikan seorang da’i bisa merancang media apa 

yang cocok digunakan, apakah media yang bersifat audio, visual ataukah 

yang bersifat audio visual. Selain media, juga dapat ditentukan sikap 

yang cocok untuk ditampilkan oleh seorang da’i, menciptakan suatu 

tekhnik agar antara da’i dan mad’u terjalin komunikasi yang lancar dan 

memiliki ikatan moral yang tinggi.  

10

Selain itu, sejatinya seorang da’i harus memiliki kualifikasi moralitas 

dan keluhuran budi pekerti seperti Rasulullah saw. atau  paling tidak 

mendekatinya. Keluhuran budi pekerti ini menjadi salah satu pendorong 

yang memungkinkan masyarakat (mad’u) dapat mengikuti jalan 

kebenaran yang diserukan sang da’i.

5

Dalam penyampaian dakwah dari ustadzah Mumpuni Handayayekti 

sangat  menarik dan mudah untuk dimengerti baik untuk kalangan muda 

maupun untuk kalangan orang tua. Cara menyampaikan pesan dalam 

dakwah juga menggunakan bahasa keseharian dan sangat santai sehingga 

sangat mudah dalam pemahamannya. Dalam dakwah tersebut juga 

menyampaikan pesan yang begitu sangat baik dimana kita dilarang iri 

dengki dan kepo terhadap apapun yang sedang terjadi kepada orang lain.

5

Haryanto,  Relasi Kredibilitas Da’I dan Kebutuhan Mad’u,  dalam Mencapai 

Kebutuhan Dakwah, Jurnal: Tasamuh, Vol. 16, No. 02 Juni 2018, 65-68.

11

BAB III

PENUTUP

A.  Kesimpulan 

Dalam aktivitas dakwah Mad’u merupakan manusia yang menjadi 

sasaran  dakwah atau penerima dakwah, baik secara individu maupun 

kelompok, baik yang beragama Islam maupun bukan, dengan kata lain 

orang yang menerima dakwah secara keseluruhan.

Da’i adalah seseorang yang melakukan ajakan atau orang yang 

menyampaikan ajaran (muballigh).

Dakwah dalam proses interaksi dikenal dengan istilah personal 

approach  atau dakwah  face to face  sehingga terjadi proses pengaruh 

mempengaruhi antara subyek dakwah (da’i) dengan sasaran dakwah 

(mad’u) atau sebaliknya.

Kondisi ideal yang diupayakan untuk perbaikan agar diterima oleh 

mad'u yaitu memiliki kemampuan yang meliput kemampuan membaca dan 

memahami seluk beluk komunikannya sehingga dapat dirancang metode 

apa yang cocok dipakai, terutama dalam berkomunikasi.

12

DAFTAR PUSTAKA

Arifin. 1997, Psikologi Dakwah : Suatau Pengantar, Jakarta, Bumi Aksara.

Haryanto.  2018,  Relasi Kredibilitas Da’I dan Kebutuhan Mad’u,  dalam 

Mencapai Kebutuhan Dakwah, Jurnal, Tasamuh, Vol. 16, No. 02.

Hafniati.  2020,  Interaksi Da’i dan Mad’u  Tentang Penguasaan Media dan 

Metode Dakwah dalam Menapai Hasil dan Tujuan Dakwah, Liwaul 

Dakwah, Volume 10, No. 2.

Risdiana,  Aris. 2014,  Transformasi Peran Da’i Dalam Menjawab Peluang 

Dan Tantangan  (Studi terhadap Manajemen SDM),  Jurnal Dakwah, 

Vol. XV, No. 2.

Saputra., Wahidin. 2011, Pengantar Ilmu Dakwah, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Link Presentasi dan Video Youtube Kelompok 07

 Link Presentasi Kelompok 07 https://www.youtube.com/watch?v=Pr66JsYaWuA Link Video Youtube  https://www.youtube.com/watch?v=jQiAxCgQpdM