i
CARA MENGHADAPI TETANGGA YANG IRI DENGKI DAN SUKA
KEPO (PENGAJIAN LUCU NGAPAK MUMPUNI HANDAYAYEKTI)
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
“Psikologi Dakwah”
Dosen Pengampu:
Dr. Hj. Elfi Yuliani Rochmah, M.Pd.I
Disusun Oleh Kelompok 04/ PAI F:
1. Muntaha Hermawan (201190179)
2. Murjiati (201190180)
3. Novinda Ellysta Sari (201190202)
4. Novita Febrianti (201190203)
5. Nunung Latifatul Munawaroh (201190206)
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO
2022
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayahnya kepada kita semua sehingga kami bisa menyusun makalah
ini dengan judul “Cara Menghadapi Tetangga yang Iri Dengki dan Suka Kepo
(Pengajian Lucu Ngapak Mumpuni Handayayekti)” Kami juga mengucapkan
banyak terima kasih kepada Ibu Dr. Hj. Elfi Yuliani Rochmah, M.Pd.I selaku
dosen pengampu mata kuliah kami yang telah memberikan tugas ini kepada kami
sehingga kami mendapatkan banyak tambahan pengetahuan khususnya dalam
masalah “Cara Menghadapi Tetangga yang Iri Dengki dan Suka Kepo (Pengajian
Lucu Ngapak Mumpuni Handayayekti)”.
Kami selaku penyusun berharap semoga makalah yang telah kami susun ini
bisa memberikan banyak manfaat serta menambah pengetahuan terutama dalam
hal “Cara Menghadapi Tetangga yang Iri Dengki dan Suka Kepo (Pengajian Lucu
Ngapak Mumpuni Handayayekti)”. Selain itu, pemakalah menyadari bahwa
makalah ini masih memiliki banyak kekurangan dan tentunya membutuhkan
perbaikan, sehingga kami sangat mengharapkan masukkan serta kritik dari para
pembaca.
Ponorogo, 15 Mei 2022
Penyusun
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i
KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 2
C. Tujuan .......................................................................................................... 2
BAB Ii Pembahasan ................................................................................................. 3
A. Kondisi Psikologis Mad’u ............................................................................ 3
B. Kondisi Psikologis Da’i ............................................................................... 4
C. Interaksi Antara Da’i Dan Mad’u ................................................................ 7
D. Kondisi Ideal Yang Diupayakan Untuk Perbaikan Agar Diterima Oleh
Mad’u ........................................................................................................... 9
BAB III PENUTUPAN .......................................................................................... 11
A. Kesimpulan ................................................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 12
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dakwah adalah kegiatan yang sifatnya mengajak, menyeru, serta
memanggil orang (mad’u) untuk beriman dan taat kepada Allah SWT sesuai
dengan aqidah dan syariat Islam. Kegiatan dakwah merupakan proses
komunikasi antara seorang da’i dengan mad’u, yang mana dengan adanya
komunikasi, maka seseorang dapat menyampaikan apa yang ada dalam
pikirannya dan apa yang dirasakan orang lain.
Selain itu dakwah diartikan dengan suatu ajakan yang dilakukan untuk
membebaskan manusia secara individu dari pengaruh luar nilai kejahatan
menuju internalisasi nilai ketuhanan. Bahwasannya dakwah termasuk dalam
tindakan komunikasi, akan tetapi tidak semua aktivitas komunikasi disebut
dengan dakwah. Pada hakikatnya dakwah sendiri merupakan suatu ajakan atau
seruan dalam berbuat kebajikan untuk mentaati perintah dan menjauhi larangan
Allah SWT.
Pada dasarnya dakwah bertujuan untuk mempengaruhi dan
mentransformasikan sikap batin serta perilaku manusia menuju tatanan yang
baik pada setiap individu maupun kelompok. Kegiatan dakwah tidak hanya
dilakukan dengan lisan melainkan bisa dilakukan secara tulisan bahkan melalui
sebuah film. Dimana seorang da’i melakukan aktivitas dakwahnya dengan cara
memanfaatkan media sebagai alat untuk menyampaikan pesen dakwah.
Banyak orang yang beranggapan bahwa suatu aktivitas dakwah harus
dengan ceramah kyai. Padahal dengan seiring perkembangan zaman,
kebutuhan akan berdakwah semakin meningkat sehingga muncul sebuah
inovasi dalam berdakwah. Perkembangan teknologi informasi yang semakin
pesat, dakwah dapat dilakukan melalui media yang lebih modern. Kegiatan
dakwah sekarang sudah berkembang menjadi sebuah profesi dengan menuntut
skill, planning serta manajemen yang handal.
2
Salah satunya pada tayangan di situs channel youtube Avin Videos
dengan jumlah subscriber 313 ribu subscribe yang berjudul “Cara Menghadapi
Tetangga yang Iri Dengki dan Suka Kepo (Pengajian Lucu Ngapak Mumpuni
Handayayekti)” dengan jumlah penonton 892 ribu penonton, adalah Mumpuni
Handayayekti, beliau viral di media sosial dengan dakwahnya yang membuat
lelucon para penonton.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk
menganalisis pesan dakwah Mumpuni Handayayekti yang berada di channel
youtube Avin Videos dengan alamat web https://youtu.be/Y89xUJwGtos “Cara
Menghadapi Tetangga yang Iri Dengki dan Suka Kepo (Pengajian Lucu
Ngapak Mumpuni Handayayekti)”. Dalam video tersebut beliau memberikan
pesan dakwah mengenai cara menghindari sikap dengki dan kepo. Oleh karena
itu, peneliti mengangkat sebuah judul “CARA MENGHADAPI
TETANGGA YANG IRI DENGKI DAN SUKA KEPO (PENGAJIAN
LUCU NGAPAK MUMPUNI HANDAYAYEKTI)”.
B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana kondisi psikologis mad’u?
b. Bagaimana kondisi psikologis da’i?
c. Bagaimana interaksi antara da’i dan mad’u?
d. Bagaimana kondisi idealnya, jika mengupayakan perbaikan agar yang
disampaikan da’i dapat diterima atau dipahami oleh mad’u?
C. Tujuan
a. Untuk mengetahui kondisi psikologis mad’u.
b. Untuk mengetahui kondisi psikologis da’i.
c. Untuk mengetahui interaksi antara da’i dan mad’u.
d. Untuk mengetahui kondisi idealnya, jika mengupayakan perbaikan agar
yang disampaikan da’i dapat diterima atau dipahami oleh mad’u.
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kondisi Psikologis Mad’u
Dalam aktivitas dakwah Mad’u merupakan manusia yang menjadi
sasaran dakwah atau penerima dakwah, baik secara individu maupun
kelompok, baik yang beragama Islam maupun bukan, dengan kata lain
orang yang menerima dakwah secara keseluruhan. Tidak dapat dipungkiri
bahwa setiap individu mad’u memiliki harapan ketika sedang
mendengarkan materi dakwah. Oleh karena itu, perlu adanya penyesuaian
antara materi yang disampaikan oleh da’i dengan kebutuhan mad’u.
Menurut Ilyas dan Prio bahwa “kepentingan dakwah itu berpusat pada apa
yang dibutuhkan oleh mad’u, bukan kepada apa yang dikehendaki oleh
pelaku dakwah (da’i).
Materi dakwah yang menempatkan mad’u sebagai pusat penerima
dakwah menghendaki strategi dakwah yang empatik, simpati dan
humanistis. Empatik dan simpatik dalam dakwah menghendaki sikap
yang menempatkan da’i dalam posisi mad’u. Sedangkan dakwah
humanistis menghendaki pengakuan terhadap sisi kemanusiaan mad’u
secara utuh, baik pemikirannya, kejiwaannya, maupun problematikanya.
Dengan demikian, apabila terdapat salah satu aspek ditinggalkan maka
secara langsung menjadikan dakwah kurang efektif, lantaran tidak sesuai
dengan kebutuhan mad’u yang nantinya tidak akan memberikan manfaat
apapun.
Pada dasarnya dakwah memiliki tujuan yaitu untuk mewujudkan
kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat dengan ridha
Allah SWT. Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan dakwah kepada
umatnya dengan berbagai cara baik secara lisan, tulisan maupun
perbuatan. Dengan demikian seorang da’i sangat dituntut untuk
menguasai materi, media, serta metode yang digunakan secara tepat dan
benar, maka diperlukan sebuah pendekatan khusus sesuai dengan
4
kebutuhan, situasi dan kondisi seorang mad’u sehingga tujuan dakwah
dapat terealisasi.
1
Dengan demikian, seorang da’i harus mengetahui kondisi psikologis
mad’u, yang mana masing-masing mad’u memiliki karakter yang
berbeda-beda. Maka dalam penyampaian dakwah perlu adanya strategi
yang tepat, dengan tujuan agar mad’u mudah dalam menerima materi
dakwah. Secara keseluruhan kondisi psikologis mad’u dalam
penyampaian materi dakwah oleh da’i mudah diterima oleh mad’u,
terlihat ketertarikkannya mad’u terhadap penyampaian meteri oleh da’i.
Maka dapat diketahui bahwa, kondisi psikologis seorang mad’u
mengalami perkembangan yang cukup baik setelah da’i memberikan
motivasi terkait materi dakwah yang disampaikan. Oleh karena itu, perlu
adanya dorongan yang kuat agar seorang mad’u mampu menyesuaikan
dengan kondisi yang sesuai dengan kebutuhan.
B. Kondisi Psikologis Da’i
Kata Da’I atau da’iyah menurut bahasa adalah isim fail berwazan
fa’ilah dari kata da’aa, yad’uu, daa’in. Kata da’iyah bermakna suara kuda
dalam suatu peperangan karena ia menjawab orang yang berteriak-teriak
memanggilnya. Sedangkan Da’I secara istilah adalah orang Islam yang
secara syariat mendapat beban dakwah mengajak kepada agama Allah.
2
Tidak diragukan lagi bahwa definisi ini mencakup seluruh lapisan dari
rasul, ulama, penguasa setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan.
Da’i dapat diibaratkan sebagai seorang guide atau pemandu terhadap
orang-orang yang ingin mendapat keselamatan hidup dunia dan akhirat.
Dalam hal ini da’i adalah seorang petunjuk jalan yang harus mengerti dan
memahami terlebih dahulu mana jalan yang boleh dilalui dan yang tidak
1
Hafniati, Interaksi Da’i dan Mad’u Tentang Penguasaan Media dan Metode Dakwah
dalam Menapai Hasil dan Tujuan Dakwah, Liwaul Dakwah: Volume 10, No. 2, Juli-Desember
2020, 97-104.
2
Drs. Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarta, 2011). 1
5
boleh dilalui oleh seorang muslim, sebelum ia memberi petunjuk jalan
kepada orang lain.
Pendapat lain mengungkapkan bahwa Da’i adalah seseorang yang
melakukan ajakan atau orang yang menyampaikan ajaran (muballigh).
Subjek dakwah merupakan unsur penting dalam pelaksanaan dakwah
karena seorang da’i akan menjadi pemandu titian yang mengemban misi
risalah dan diserukan kepada objek dakwah dengan dalil yang dapat
dipertanggung jawabkan kebenarannya. Seorang da’i dituntut mampu
mengetuk dan menyentuh hati umat yang dihadapinya secara profesional
agar misi yang disampaikan dapat diterima oleh umat.
3
Kondisi psigologi Da’I dalam malakah ini yang tertarik untuk
menganalisis pesan yang terkandung dalam dakwah salah satu tayangan
di situs channel youtube Avin Videos dengan jumlah subscriber 313 ribu
subscribe yang berjudul “Cara Menghadapi Tetangga yang Iri Dengki dan
Suka Kepo (Pengajian Lucu Ngapak Mumpuni Handayayekti)” dalam
video tersebut beliau menyampaikan beberapa pesan mengenai keimanan
serta ikhtiar, kreatif dedikatif sekaligus selalu berusaha untuk mencapai
sebuah kesuksesan. Ustadzah Mumpuni memiliki ciri khas tersendiri
dalam penyampain dakwahnya yaitu dengan bahasa ngapaknya dan
lelucon yang digunakan saat berdakwah.
Ustadzah Mumpuni yang memiliki nama lengkah Mumpuni
Handayayekti. Ia lahir di Cilacap, Jawa Tengah pada tanggal 27
September 1995, dan saat ini berusia 27 tahun. Ustadzah Mumpuni ini
sebenarnya sudah lama dikenal oleh masyarakat sebagai penceramah saat
beliau mengikuti kompetisi AKSI Indosiar. Ustadzah Mumpuni sudah
memiliki kebiasaan ceramah dan dakwah sejak masih duduk dibangku
kelas 3 SD, Ustadzah Mumpuni sudah dikenal masyarakat Cilacap
sebagai pendakwah cilik. Keahliannya tersebut tidak lepas dari peran
Ayah Mumpuni yang mengenalkannya pada beberapa tokoh agama
3
Aris Risdiana, Transformasi Peran Da’i Dalam Menjawab Peluang Dan Tantangan (Studi
terhadap Manajemen SDM), Jurnal Dakwah, Vol. XV, No. 2 Tahun 2014. 438.
6
kondang setempat. Hal ini bermula saat Ayah Mumpuni mengetahui
bahwa anaknya gemar berkaca dengan berbicara layaknya seorang
penceramah, maka kemudian sang Ayah melatihnya dengan bahan dan
dalil-dalil keagamaan yang kuat. Selain itu Ayah-nya juga mengenalkan
anaknya pada KH Marzuki yaitu tokoh Kiai yang sangat disegani di
Bayumas. Dan sejak saat itulah Ustadzah Mumpuni mulai berceramah
dan berdakwah didepan masyarakat. Namanya semakin melambung
karena beliau berhasil menjuarai kompetisi AKSI Indosiar dengan
membawa juara 1 pada tahun 2014. Setelah mengikuti kompetisi tersebut
nama Ustadzah Mumpuni mulai dikenal oleh banyak orang dan juga
diundang dalam berbagai acara untuk menjadi pengisi acara diberbagai
daerah di Indonesia.
Dalam tanyangan youtube tersebut Ustadzah Mumpuni menjelaskan
bagaimana cara menjadi orang sukses dan menghadapi tetangga yang iri
dengki dan suka kepo terhadap apa yang kita punya, jika seseorang ingin
sukses harus mau kehujanan dan kepanasan dahulu artinya jika seseorang
mau sukses harus berusaha dan bersakit-sakit dahulu. Jika seseorang yang
memiliki hati tetapi terdapat penyakit maka mereka didunia sudah
mendapatkan imbasnya sebelum diakhirat, lalu bagaimana cara
menghadapi orang yang iri dengki dan suka kepo, caranya yaitu dengan
tidak meninggalkan shalat, berperilaku yang baik terhadap tetangga dan
tidak mengurusi haknya orang lain serta harus hidup rukun dengan
tetangga tidak menjelek-jelekkan tetangga. Jika seseorang beriman
kepada Allah SWT dan beriman kepada hari akhir maka harus
memuliakan tetangga dan juga perngertian kepada tetangga. Karena sikap
tersebut dapat menurunkan rasa iri dengki dan suka kepo terhadap
tetangga. Ustadzah Mumpuni juga menerangkan pentingnya shalat wajib
yang harus selalu dikerjakan agar dapat diridhoi Allah dalam melakukan
segala sesuatu serta dapat dilancarkan segala usahanya.
7
C. Interaksi antara da’i dan mad’u
Allah telah mewajibkan bagi segenap umuat muslim untuk
melaksanakan dakwah islamiah dalam masyarakat diberbagai lapisan
(QS. Ali Imran: 104) dengan memperhatikan beberapa faktor yang
melingkupinya. Faktor-faktor tersebut tentunya meliputi seluruh unsur
kegiatan dakwah yaitu subyek dakwah, obyek dakwah, materi dakwah,
media dan metode dakwah yang digunakan. Namun dalam prosesnya
faktor tersebut memerlukan adanya sistem interaksi dan komunikasi
secara konsisten, sistematis dan terarah, sehingga tanpa adanya sistem ini
justru akan menghambat efektifitas proses kegiatan dakwah. Dapat
dijelaskan bahwa hubungan yang terjadi merupakan hubungan sebab
akibat dimana kegiatan berdakwah bukan semata merupakan kegiatan
menyampaikan pesan ajaran Islam melainkan juga berfungsi
mengembangkan/mendayagunakan tugas kehalifahan manusia di bumi.
Mengembangkan dan mendayagunakan tugas kehalifahan tentunya
melibatkan interaksi sosial secara terus menerus dan kontinyu.
Dikatakan oleh HM. Arifin bahwa proses kegiatan dakwah tidak
hanya menyangkut hubungan interpersonal, melainkan hubungan antar
personal dan hubungan sosial. Hal ini disebabakan dalam kehidupannya,
manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa mengarahkan seluruh
kehidupannya dengan menjalin hubungan baik terhadap lingkungan fisik,
psikis dan lingkungan ruhaniahnya.
4
Dakwah dalam proses interaksi dikenal dengan istilah personal
approach atau dakwah face to face sehingga terjadi proses pengaruh
mempengaruhi antara subyek dakwah (da’i) dengan sasaran dakwah
(mad’u) atau sebaliknya. Begitu pula dengan dakwah secara komunal atau
umum dikenal dengan istilah general approach seperti pengajian akbar,
majelis taklim, maka disini juga terjadi proses saling mempengaruhi
antara dai dan mad’u dalam kelompok sosial. Secara makro, dakwah juga
4
HM. Arifin, Psikologi Dakwah : Suatau Pengantar, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), 67.
8
dapat dipandang sebagai sistem dari Suprasistem yang berupa sosio-kultural dalam arti yang luas.
Sitem dakwah dapat dipandang secara makro dan mikro. Secara
makro, sistem dakwah merupakan sub sistem sosio-kultural dalam arti
luas, sehingga analisa terhadapnya tidak dapat dilepaskan dengan
subsistem ideologi, politik, pendidikan, ekonomi, ilmu teknologi dan
budaya dalam arti sempit. Secara mikro dakwah Islam merupakan sistem
yang berdiri sendiri sehingga analisa terhadapnya berdasarkan analisa
faktor komponen yang membentuk sistem. Sistem dakwah terbentuk dari
beberapa subsistem yang merupakan komponen-komponen yang lebih
kecil dan merupakan bagian dari sistem dakwah. Beberapa subsistem
yang merupakan komponen dakwah tersebut tidak lain adalah unsur-unsur
dakwah itu sendiri, yaitu da’i, mad’u (obyek dakwah), maddah (materi
dakwah), wasilah (media), metode (thariqah), dan atsar (efek dakwah).
Keseluruhan dari subsistem dakwah ini merupakan satu kesatuan
yang sangat terkait satu dengan yang lain. Jika satu subsistem saja
terlepaskandari sistem dakwah maka target pencapaian cita-cita dakwah
menjadi terganggu. Dalam sistem selalu terdapat input, output dan proses.
Input yaitu da’i sebagai sumber informasi atau sebagai komunikator,
Output yaitu cita-cita dakwah yang merupakan cita-cita jangka panjang,
Proses yaitu pelaksana dakwah, Feedback yaitu proses umpan balik dari
mitra dakwah setelah proses dakwah, yang kemudian diikuti proses
evaluasi secara cermat dan tindakan korektif.
Menurut Amrullah Ahmad pada umumnya sistem terdiri dari lima
komponen dasar, yaitu input (masukan), convertion (proses pengubahan),
output (keluaran), feedback (umpan balik), dan environment
(lingkungan).
Menurut pakar ilmu dakwah, interaksi sosial unsur-unsur dakwah
sendiri meliputi:
1. Interaksi antara maddah dan da’i akan menghasilkan
hakikat dan makna pesan dakwah.
9
2. Interaksi antara da’i dan mad’u akan menghasilkan kegiatan
tabligh dan silaturrahmi.
3. Interaksi antara mad’u dan Tujuan dakwah menghasilkan
model perilaku yang islami.
4. Interaksi antara tujuan dan da’i menghasilkan tema-tema
efektifitas dan efisiensi kegiatan dakwah.
5. Interaksi antara da’i, mad’u, maddah, tujuan dan washilah
secara bersama-sama akan menghasilkan kegiatan
pemberdayaan dan pengembangan potensi kemanusiaan
secara integral dan komprehensif.
Interaksi yang terbentuk dari masing-masing unsur dakwah pada
hakikatnya bertujuan untuk mempengaruhi objek atau mad’u, sehingga
membawa perubahan sikap dan perilaku sesuai dengan tujuan dakwah
yaitu mencapai kebahagian. Aspek yang memiliki kontribusi positif
dengan pencapaian tujuan dakwah, dapat dilihat secara jelas dunia dan
akhirat dari interaksi anatara da’i dan mad’u. Adapun faktor yang terlibat
dalam dinamika interaksi sosial adalah faktor sugesti, imitasi, identifikasi
dan simpati.
D. Kondisi Ideal Yang Diupayakan Untuk Perbaikan Agar Diterima
Oleh Mad’u
Kondisi ideal yang diupayakan untuk perbaikan agar diterima oleh
mad'u yaitu memiliki kemampuan yang meliput kemampuan membaca
dan memahami seluk beluk komunikannya sehingga dapat dirancang
metode apa yang cocok dipakai, terutama dalam berkomunikasi. Dengan
mengetahui karakter komunikan seorang da’i bisa merancang media apa
yang cocok digunakan, apakah media yang bersifat audio, visual ataukah
yang bersifat audio visual. Selain media, juga dapat ditentukan sikap
yang cocok untuk ditampilkan oleh seorang da’i, menciptakan suatu
tekhnik agar antara da’i dan mad’u terjalin komunikasi yang lancar dan
memiliki ikatan moral yang tinggi.
10
Selain itu, sejatinya seorang da’i harus memiliki kualifikasi moralitas
dan keluhuran budi pekerti seperti Rasulullah saw. atau paling tidak
mendekatinya. Keluhuran budi pekerti ini menjadi salah satu pendorong
yang memungkinkan masyarakat (mad’u) dapat mengikuti jalan
kebenaran yang diserukan sang da’i.
5
Dalam penyampaian dakwah dari ustadzah Mumpuni Handayayekti
sangat menarik dan mudah untuk dimengerti baik untuk kalangan muda
maupun untuk kalangan orang tua. Cara menyampaikan pesan dalam
dakwah juga menggunakan bahasa keseharian dan sangat santai sehingga
sangat mudah dalam pemahamannya. Dalam dakwah tersebut juga
menyampaikan pesan yang begitu sangat baik dimana kita dilarang iri
dengki dan kepo terhadap apapun yang sedang terjadi kepada orang lain.
5
Haryanto, Relasi Kredibilitas Da’I dan Kebutuhan Mad’u, dalam Mencapai
Kebutuhan Dakwah, Jurnal: Tasamuh, Vol. 16, No. 02 Juni 2018, 65-68.
11
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam aktivitas dakwah Mad’u merupakan manusia yang menjadi
sasaran dakwah atau penerima dakwah, baik secara individu maupun
kelompok, baik yang beragama Islam maupun bukan, dengan kata lain
orang yang menerima dakwah secara keseluruhan.
Da’i adalah seseorang yang melakukan ajakan atau orang yang
menyampaikan ajaran (muballigh).
Dakwah dalam proses interaksi dikenal dengan istilah personal
approach atau dakwah face to face sehingga terjadi proses pengaruh
mempengaruhi antara subyek dakwah (da’i) dengan sasaran dakwah
(mad’u) atau sebaliknya.
Kondisi ideal yang diupayakan untuk perbaikan agar diterima oleh
mad'u yaitu memiliki kemampuan yang meliput kemampuan membaca dan
memahami seluk beluk komunikannya sehingga dapat dirancang metode
apa yang cocok dipakai, terutama dalam berkomunikasi.
12
DAFTAR PUSTAKA
Arifin. 1997, Psikologi Dakwah : Suatau Pengantar, Jakarta, Bumi Aksara.
Haryanto. 2018, Relasi Kredibilitas Da’I dan Kebutuhan Mad’u, dalam
Mencapai Kebutuhan Dakwah, Jurnal, Tasamuh, Vol. 16, No. 02.
Hafniati. 2020, Interaksi Da’i dan Mad’u Tentang Penguasaan Media dan
Metode Dakwah dalam Menapai Hasil dan Tujuan Dakwah, Liwaul
Dakwah, Volume 10, No. 2.
Risdiana, Aris. 2014, Transformasi Peran Da’i Dalam Menjawab Peluang
Dan Tantangan (Studi terhadap Manajemen SDM), Jurnal Dakwah,
Vol. XV, No. 2.
Saputra., Wahidin. 2011, Pengantar Ilmu Dakwah, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar