Jumat, 17 Juni 2022

KELOMPOK 01

 PENGAJIAN AKBAR GUS MIFTAH DALAM RANGKA HUT 

BHAYANGKARA KE 73

(AKBP : AKU KIYAINYA BAPAK POLISI)

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pada mata kuliah 

“Psikologi Dakwah”

Dosen Pengampu :

Dr. Hj. Elfi Yuliani Rochmah, M.Pd.I

Disusun Oleh Kelompok 1 / PAI F :

1.  Nafiatul Wakhidah    (201190185)

2.  Neli Sugiarti      (201190188)

3.  Nilna Amalina Ramadhina  (201190194)

4.  Nilna Rizqi Barirh    (201190195)

5.  Rohmad Nur Alifudin     (201190246)

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO

2022

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan

segala rahmat-Nyalah akhirnya kami bisa menyusun makalah dengan judul

“Pengajian Akbar Gus Miftah Dalam  Rangka HUT Bhayangkara ke 73 AKBP : Aku 

Kiyainya Bapak Polisi". Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu  Dr. Hj. Elfi 

Yuliani Rochmah,  M.Pd.I.,  selaku dosen pengampu kami yang telah memberikan tugas ini 

kepada kami sehingga kami mendapatkan banyak tambahan pengetahuan khususnya dalam 

masalah Pengajian Akbar Gus Miftah Dalam Rangka HUT Bhayangkara ke 73 AKBP : Aku 

Kiyainya Bapak Polisi

Kami selaku penyusun berharap semoga makalah  yang telah kami susun ini  bisa 

memberikan banyak manfaat serta menambah pengetahuan terutama dalam hal “Pengajian 

Akbar Gus Miftah Dalam Rangka HUT Bhayangkara ke 73 AKBP : Aku Kiyainya Bapak 

Polisi”. Selain itu, kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan 

dan membutuhkan perbaikan, sehingga kami sangat mengharapkan masukan serta kritik dari 

para pembaca. 

Ponorogo, 18 April 2022

Penyusun

iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL  ...........................................................................................  i

KATA PENGANTAR   ........................................................................................  ii

DAFTAR ISI .......................................................................................................  iii

BAB I PENDAHUAN

A.  Latar Belakang ............................................................................................  1

B. Rumusan Masalah .......................................................................................  2

C. Tujuan   .........................................................................................................  2

BAB II PEMBAHASAN 

A.  Bagaimana Kondisi Psikologis Mad’u  ......................................................  3

B.  Bagaimana Kondisi Psikologis Da’i  .........................................................  5

C.  Bagaimana Interaksi Antara Da’i dan Mad’u  ...........................................  7

D.  Bagaimana  Kondisi idealnya jika diupayakan  untuk  perbaikan agar 

diterima oleh mad'u  ...................................................................................  9

BAB III PENUTUP

A.  Kesimpulan   .................................................................................................  11

DAFTAR PUSTAKA  ..........................................................................................  12

1

BAB 1

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Dalam bahasa Islam, dakwah adalah tindakan mengkomunikasikan pesan 

pesan Islam

1

. Sedangkan dalam bahasa Al-Quran, dakwah diambil dari kata da’a, yad 

u, da’ watun,  yang secara etimologi artinya menyeru atau memanggil

2

.  Dalam arti 

luas dakwah adalah usaha  mengubah situasi kepada yang lebih baik dan sempurna, 

baik terhadap individu maupun masyarakat.

3

Dakwah merupakan kegiatan atau kewajiban bagi setiap muslim yang bersifat 

mengajak, menyeru, memanggil orang-orang untuk beriman dan taat kepada Allah 

SWT sesuai dengan garis akhidah, syariat dan akhlak Islam. Dakwah juga dapat 

dikatakan sebagai gejala sosial yang terjadi pada sesorang atau masyarakat mengenai 

perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran Allah SWT. Dakwah adalah suatu 

penyampaian pesan dari dā’i kepada mad’ū untuk selalu senantiasa berada di jalan 

Allah. Tapi ada satu hal yang perlu di garis bawahi bahwa dakwah tidak senantiasa 

berdiri didepan mimbar dihadapan orang banyak. Dakwah bisa dilakukan melalui 

tulisan, karya ilmiah, poster, vidio ceramah, dan lain -lain.

Pada zaman sekarang ini teknologi sudah berkembang sangat pesat, di mana 

banyak sekali orang-orang dan para dā’i yang  memanfaatkan berbagai macam media 

sebagai sarana berdakwah. Termasuk media sosial atau media online. Saat ini adalah 

era dimana kita dihadapkan dengan mudahnya mengakses informasi membuat hampir 

seluruh elemen masyarakat  dari anak-anak hingga orang tua saat ini telah 

menggunakan media sosial. Fungsi media sosial antara lain yaitu, mengakses 

informasi, memudahkan pekerjaan dalam dunia bisnis dan ekonomi sekaligus 

menyiapkan pesan. Pada perkembangan media sosial saat ini sangat membantu 

masyarakat dalam memenuhi dan mendapatkan kebutuhan. Tidak heran jika media 

sosial menjadi fenomenal. Youtube, facebook, whatsapp, twiter, instagram dan lain -lain adalah beberapa media sosial yang diminati banyak khalayak. Media -media 

tersebut  memiliki arti sebagai medium internet yang memungkinkan penggunaan 

1

Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2004), 10.

2

lyas Ismail, Prio Hotman, Filsafat Dakwah: Rekayasa Membangun Agama dan Peradaban Islam, (Jakarta: 

Kencana, 2011), 27.

3

Muhammad Sulton, Desain Ilmu Dakwah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2003), 9. 

2

mempresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerja sama, berbagi, 

berkomunikasi dengan pengguna lain, dan membentuk ikatan sosial secara visual.

4

Dalam  tayangan di situs youtube TV  Gus  Miftah Official  dengan jumlah 

subuscribe  811  ribu subscribe yang berjudul “Pengajian Akbar Gus Miftah Dalam 

Rangka HUT Bhayangkara ke 73 AKBP : Aku Kiyainya Bapak Polisi” dengan jumlah 

penonton 1,7 Juta kali ditonton, adalah Ustadz Miftah Maulana Habbiburrohman alias 

Gus Miftah, beliau viral di media sosial dengan dakwahnya yang bisa dilakukan 

ditempat-tempat hiburan malam.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk menganalisis 

pesan dakwah Gus Miftah yang berada di situs youtube TV  Gus Miftah Official

dengan alamat  web  http://youtu.be/XvaGrNJqkzk  “Pengajian Akbar Gus Miftah 

Dalam Rangka HUT Bhayangkara ke 73 AKBP : Aku Kiyainya Bapak Polisi”. Dalam 

video tersebut beliau memberikan pesan dakwah tentang keimanan dan akidah.  Oleh 

karena itu, peneliti mengangkat sebuah judul “PENGAJIAN AKBAR GUS MIFTAH 

DALAM RANGKA HUT BHAYANGKARA KE 73 AKBP : AKU KIYAINYA 

BAPAK POLISI” DI SITUS YOUTUBE TV GUS MIFTAH OFFICIAL.

B.  Rumusan Masalah

1.  Bagaimana kondisi psikologis mad’u ?

2.  Bagaimana kondisi psikologis da’i ?

3.  Bagaimana interaksi antara da’i dan mad’u ?

4.  Bagaimana kondisi idealnya, jika mengupayakan perbaikan agar yang disampaikan 

da’i dapat diterima/ dipahami oleh mad’u ?

C.  Tujuan Pembahasan

1.  Untuk mengetahui kondisi psikologis mad’u.

2.  Untuk mengetahui kondisi psikologis da’i.

3.  Untuk mengetahui interaksi antara da’i dan mad’u.

4.  Untuk mengetahui kondisi lainnya, jika mengupayakan perbaikan agar yang 

disampaikan da’i dapat diterima/ dipahami oleh mad’u ?

4

Rulli Nasrullah, Media Sosial Prespektif Komunikasi, Budaya dan Sosioteknologi, (Simbiosa Rekatama 

Media, 2015), 11 

3

BAB II

PEMBAHASAN

A.  Bagaimana Kondisi Psikologis Mad’u

Dalam memahami psikologi mad’u  ini tentu tidak terlepas dari penjelasan 

tentang manusia, yang telah diuraikan sebelumnya, baik dalam pandangan psikologi 

terlebih dalam pandangan Islam. Dalam Perspektif Neurobiologi bahwa proses 

neurobiologis mendasari perilaku dan proses mental manusia, sehingga disebutkan 

bahwa semua peristiwa psikologis berkaitan dengan aktivitas otak dan sistem saraf. 

Hal ini memperjelas adanya hubungan yang erat antara kegiatan otak dengan perilaku 

dan pengalaman individu. Pandangan ini dalam kacamata Islam tidak terlalu salah 

karena dalam pandangan Islam, sebagaimana dijelaskan Nabi saw. bahwa “kefakiran 

bisa menjadikan seseorang menjadi kufur”. Dengan begitu, secara psikologis seorang 

da’i tidak bijak jika hanya “membuat surga dalam telinga”. Akan tetapi da’i juga 

mesti pandai menyusun pesan dakwah sesuai dengan kondisi mad’u. Jika kondisi 

mad’u dalam keadaan serba kekurangan, maka yang perlu didahulukan oleh seorang 

da’i bagaimana merumuskan peningkatan kesejahteraan dalam bidang ekonomi, 

mad’u jangan dipaksa untuk  menerima keadaan dan jangan hanya disuruh untuk 

bersabar. Sebab system saraf mad’u (kondisi psikologis) yang sedang mengalami 

serba kekurangan tidak akan optimal menerima pesan, karena dipengaruhi dan 

dihimpit oleh keadaan yang menyebabkan sifat-sifat rendahnya menjadi dominan, 

karena manusia (mad’u) selain memiliki nafsu yang tinggi juga memiliki potensi 

nafsu rendah (QS. 12:53).

Kondisi mad’u sebagaimana disebutkan di atas didukung juga oleh pandangan 

humanistik yang menyatakan bahwa kebutuhan yang lebih  tinggi tidak dapat dicapai 

sebelum kebutuhan yang lebih rendah tercapai. Kebutuhan aktualisasi diri (termasuk 

hidup bermakna dan beragama) dalam pandangan humanistic merupakan kebutuhan 

pada peringkat atas, untuk sampai pada aktualisasi diri itu, sebaikny a dipenuhi dulu 

kebutuhan dasar atau kebutuhan yang lebih rendahnya, yaitu kebutuhan biologis, 

seperti makan dan minum. Sekalipun pandangan humanistik ini tidak seluruhnya 

benar, akan tetapi dalam karakteristik mad’u tertentu pandangan ini bisa dijadikan 

sebagai salah satu acuan. Apalagi jika sedikitnya, kita mau melihat psikologi manusia 

yang didasarkan pada pandangan psikoanalisis yang menyatakan bahwa semua 

perilaku manusia memiliki penyebab yang lebih sering ditimbulkan oleh motif bawah 

4

sadar daripada penalaran rasional. Tentu, tidak semua pandangan di atas adalah benar, 

sebab dalam pandangan Humanistik dinyatakan bahwa manusia memiliki kemauan 

bebas dan dorongan ke arah aktualisasi diri dan manusia dalam pandangan ini tidak 

sama dengan konsep behavioralis yang menyatakan bahwa perilaku manusia yang 

menganggap bahwa manusia dikendalikan oleh impuls tidak sadar, karena manusia 

merupakan aktor sadar yang mampu mengendalikan nasibnya dan mengubah 

dunianya. Bahkan dalam pandangan Islam bahwa fitrah manusia ad alah suci dan 

kecenderungan manusia kepada agama

merupakan sifat dasar manusia.

5

Kondisi masyarakat yang ideal adalah yang setiap anggota masyarakat 

berusaha untuk menegakkan ajaran Islam dan meyakini dengan penuh keimanan akan 

ke-Esa-an  Allah. Diawali dari memahami kondisi psikologis masing-masing mad’u 

atau anggota masyarakat kemudian membantu untuk meluruskan hal-hal yang 

menyimpang dari ajaran Islam. 

Apabila dilihat dari kehidupan psikologis masing-masing sasaran da’i yaitu 

golongan  masyarakat yang memiliki ciri-ciri khusus yang menuntun kepada sistem 

dan metode pendekatan dakwah yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. 

Prinsip-prinsip psikologis yang berbeda merupakan suatu keharusan bilamana 

menghendaki efektivitas dan efisiensi dalam program kegiatan dakwah. Kata efisien 

mengacu kepada bagaimana seseorang menggunakan sumber daya yang ada untuk 

mencapai hasil maksimal, sedangkan keefektifan dakwah adalah studi tentang 

keluaran (out put). Dalam hal ini, seorang da’i harus mengert i dan mengetahui 

perkembangan perjalanan dakwah sehingga dakwah tidaklah semata-mata dilakukan, 

perlu adanya strategi agar dakwah efektif dan efisien. Ketika da’i mengetahui 

kendala-kendala yang ada maka akan mengadakan perbaikan-perbaikan menuju 

efektivitas dan efisiensi dakwah, yaitu tepat waktu dan sesuai tujuan dalam 

berdakwah (Noor Chalimah AM. 2011). Seperti yang terjadi di pengajian akbar Gus 

Miftah dalam rangka Hut Bayangkara ke-73, si Da’i  ( Gus Miftah) memahami 

kondisi psikologis mad’u, sehingga  penyampaian materi lebih dapat diterima, karena 

pada kenyataanya masyarakat sekitar mempunyai pemahaman agama namun beragam 

dalam berperilaku keberagamaan atau pengamalan beragama bertingkat .

5

Masdar F. Mashudi, Dakwah Islami Mencari Paradigma Baru, Makalah yang disampaikan pada seminar 

sehari tentang Politik Dakwah, di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, Desember 1991, hlm. 1. 

5

Mengenal mad’u (objek dakwah) merupakan salah satu prinsip utama yang 

harus dimiliki oleh seorang da’i karena merupakan tuntutan logis dalam menjalankan 

aktivitas dakwah. Dengan mengenal mad’u berdasarkan situasi dan kondisinya, 

dakwah pun dapat diaplikasikan secara efektif. Kegiatan dakwah dalam prinsip ini 

sering diibaratkan dengan kegiatan dokter yang mengobati orang sakit, di mana harus 

mengetahui jenis penyakit sebelum mengobati. Begitu juga dakwah, proses dakwah 

sulit berhasil tanpa adanya analisis terhadap sasaran dakwahnya terlebih dahulu (M. 

Ridho Syabibi. 2008. hal. 121). Secara umum kondisi psikologis para jamaah 

pengajian akbar Gus Miftah dalam rangka Hut Bayangkara ke-73  Akbp dengan judul 

“Aku Kiyainya Bapak Polisi”  tersebut adalah: rukun dan saling tolong menolong, 

sadar menjalankan syariat, hampir semua ikut jam’iyah, bersosialisasi dengan senang 

hati, kompak melakukan kebaikan, harmonis meski berbeda: ekonomi-pendidikan-agama, memiliki toleransi antar umat beragama, harmonis dengan umat seagama 

(beda aliran), hidup bertetangga atau tidak individualis.  Dan  yang terpenting  adalah 

akhlak masyarakat terkategori baik serta kondisi keagamaan kondusif.

B.  Bagaimana Kondisi Psikologi Da’i

Menurut Ahmad Suyuti Da’I atau mubalig adalah berasal dari Bahasa arab 

“balagha yubalighu” yang berarti orang yang  menyampaikan ajaran islam kepada 

masyarakat penerima dakwah .Seorang da’I yang dijadikan panutan agar mereka yang 

memiliki ketokohan karena keulamaanya. Idealnya sikap seorang da’I yang menjadi 

teladan itulah da’I yang memiliki kecakapan, kedewasaan, kejuj uran, keberanian dan 

kepantasan. Seorang da’I jika ingin pesan dakwahnya dapat disampaikan dengan 

pedekatan psikolgis, yakni sesuai dengan tingkatan dan kebutuhan jiwa mad’u. 

dakwah seperti itulah yang disebut dakwah persuasif sesuai dengan ungkapan nabi 

yang artinya “berbicaralah kepada orang sesuai dengan kadar akal mereka”.

6

Kondisi psikologis da’I didalam makalah ini tertarik untuk menganalisis 

pesan dakwah Gus Miftah yang berada di situs youtobe pengajian akbar gus miftah 

dalam rangka HUT banyangkara  ke 73 Akbp dengan judul “Aku Kiyainya Bapak 

Polisi” didalam video tersebut beliau memberikan pesan dakwah tentang keimanan 

serta akidah dan sekaligus beliau menjelaskan tentang seorang pendosa dan seseorang 

beragama kristen yang ingin mengenal dan masuk  agama islam. Gus miftah juga 

6

Arifin,”Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi”, (Jakarta : Bumi Aksara,1990)  

6

mempunyai ciri khas tersendiri dalam peyampaian dakwahnya, tidak sama dengan 

tempat-tempat yang lain. Dalam berpenampilan Gus Miftah juga tidak seperti biasa 

halnya pakaian pengunjung. 

KH. Miftah Maulana Habirurrahman alias  Gus Miftah merupakan seorang 

ustad da sekaligus pimpinan pondok pesantren (ponpes) ora aji, sleman, yogyakarta. 

Ia lahir dilampung pada 5 agustus 1981, kini berusia 40 taun. Gus Miftah merupakan 

keturunan ke-9 kiai ageng hasa besari pendiri pesantren tegalsari, ponorogo. Gus 

Miftah merupaka lulusan dari pondok pesantren bustanul ulum jayasakti lampung . ia 

kemudian melanjutkan pendidikan di Yogyakarta denggan berkuliah di UIN Sunan 

Kalijaga pada jurusan kependidikan islam, fakultas tarbiyah selama berkuliah  Gus 

Miftah juga tercatat aktif didalam pergerakan mahasiswa islam Indonesia (PMII).Gus 

Miftah sudah mulai berdakwah dimasyarakat biasa biasanya memberian tausiyah 

berupa kultum, pengajian ibu-ibu, ngaji kitab setelah subuh, termasuk sudah mulai 

khutbah jum;at yang semuanya itu dilakukan dimushola, masjid ataupun rumah 

jamaahnya yang mengundangnya. Setelah itu Gus Miftah mulai beralih dakwah di 

tempat hiburan malam (Klub malam) Gus Miftah mulai tertarik kepada tempat 

hiburan malam karena kebiasannya yang sering melewati sarkem (Pasar Kembang) 

yaitu tempat lokalisasi terbesar di Yogyakarta, dari kebiasaan tersebut Gus Miftah 

mendapat inspirasi untuk melaksanakan dakwah di Klub malam tesebut.

Gus Miftah disini menjelaskan tentang seorang pendosa dan beliau berkata “ 

Jangan Pernah Menghina Pendosa Seolah-olah Kita tidak Pernah Berbuat Dosa” 

karena “ Surga itu akan ditempatkan seorang pendosa yang bertaubat bukan orang 

yang sok suci namun pada akhirnya tersesat”, lebh baik orang bermaksiat tapi 

khawatir dengan  kemaksiatannya daripada orang yang banyak amalan tapi sombong 

degan amalanya ucap Gus Miftah. walaupun dia adalah seorang pendosa tetapi dia 

bisa membedakan baik buruk. Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan 

kemuliaan allah swt. Rasullulah bersabda,Allah berfirman “ Wahai para hambaku, 

sesungguhnya kalian berbuat kesalaan pada waktu malam dan siang maka aku 

mengampuni semua dosa, maka mohon ampunlah kalian kepadaku niscaya aku 

mengampuni kalian. Maksud dari hadis tersebut bahwa manusia memang tidak lucut 

dari perbuata salah yang berunjng pada dosa sekalipun memang manusia terlahir 

dengan keadaan yang fithra alias suci.Menurut Sa’ad bin Hilal berkata bila manusia 

7

(umat Muhammad Saw ) berbuat dosa, maka allah tetap memberikan empat anugerah 

padanya, yaitu :

1.  Tidak terhalang untuk mendapatkan rezeki

2.  Tidak terhalang unttuk mendapatkan kesehatan badan

3.  Allah tidak akan memperlihatkan dosanya selama di dunia 

4.  Makhluk yang sering terperdaya untuk melakukan dosa, agar malu di hadapan 

Allah  SWT serta malu karena memakan nikmat allah tetapi shalat tak kunjung 

khusyuk.

7

Gus Miftah juga menjelaskan bahwa ada seseorang yang beragama Kristen ingin 

masuk kedalam agama islam. Seorang itu ialah Deddy Corbuzier memutuskan 

memeluk agama islam tanpa ada paksaan apa pun dan dari siapa pun, beliau (masuk 

islam) tidak karena apa pun tapi karena mendapat hidayah. menurut dedy corbuzier 

sebelum masu islam bahwa islam itu keras, islam radikal, tetapi saya salah ternyata 

islam itu menyenangkan kata dedy corbuzier. Setelah itu Gus Miftah menuntun 

Deddy Corbuzier dengan mengucapkan kalimat syahadat “Ashadualla Ilahailallah” 

sebagai ikrar mualaf dan alasan masuk islam karena ia merasa mendapat hidayah. 

Keputusan Deddy masuk islam ini diambil setelah melalui proses yang panjang. Gus 

Miftah menjelaskan kepada dedy corbuzier bahwa di ibaratkan seperti apa wajah 

islam ,wajah pintu masuk islam tergantung pintu masuknya jika itu keras ya islam 

akan jadi islam keras akan tetapi jika  kalua pintu masuknya islam yang marah 

sambunganya jadi islam yang marah-marah tapi sebaliknya kalua pintu masuknya 

islam yang rama jadinya ya ramah. Dan semua itu disampaikan gama yang masuk 

kedalam logikanya dengan menggunakan pedekatan yang rasional.

C.  Bagaimana Interaksi Antara Da’i dan Mad’u

Interaksi  adalah  suatu  bentuk hubungan  antara  dua orang atau lebih dimana 

tingkah  laku  seseorang diubah  oleh tingkah  laku yang  lain.  Di dalam hubungan 

interaksional  inilah terjadi suatu proses  belajar  mengajar diantara  manusia  di mana 

di dalam proses dakwah  merupakan permulaan yang fundamental bagi suksesnya 

dakwah.  Tanpa  adanya suatu proses belajar mengajar maka dakwah sulit 

memperoleh tempat di dalam hati  manusia. Kalau kita kaitkan dengan dakwah,  maka 

dalam dakwah dikenal istilah personal approach dakwah face to face, sehingga terjadi 

proses saling mempengaruhi antara da’i dan mad’u atau sebaliknya.   Begitu pula 

7

Achmad, Mubarok,”Psikologi Dakwah”( Jakarta : pustaka Firdaus , 1997) 

8

ada istilah  general approach  atau dakwah secara umum misalnya  pengajian 

disini terjadi proses saling mempengaruhi antara da’i dan mad’u dalam kelompok 

sosial.

8

Dalam hal  ini,  KH.  Mulana Habiburrahman (Gus Miftah) di  acara pengajian 

akbar dalam rangka HUT banyangkara ke 73 Akbp dengan judul “Aku Kiyainya 

Bapak  Polisi”  yakni berdakwah mengisi siraman rohani dengan cara penyampaian

menggunakan bahasa yang sederhana dan dicampur dengan kata-kata  humor. Cara 

yang dilakukan Gus Miftah ini agar jamaah atau mad’ū tidak meraasa tersinggung 

atas apa yang di sampaikan dā’i. ini  merupakan terobosan baru untuk menanggulangi 

kebosanan terhadap ceramah yang dilakukan oleh seorang dā’i.

Tayangan video “Pengajian Akbar Gus Miftah dalam Rangka HUT 

Bhayangkara Ke 73 I AKBP = Aku Kiyainya Bapak Polisi” dari Youtobe channel 

Gus Miftah Official merupakan suatu program acara atau suatu tayangan pada tahun 

2019 di Kudus. Dimana juga mengaitkan ceramah beliau yang viral vidionya setelah 

menggelar pengajian didalam sebuah klub malam di Bali beberapa waktu lalu, kini 

melakukan kegiatan pengajian dilakukan disebuah lapangan di Kudus. Diikuti para 

Bapak Kapolres dan sejajarnya serta masyarakat umum. Gus Miftah ini 

menyampaikan pesan keislaman dan akhlak. Dalam berdakwah di lokalisasi atau 

tempat hiburan malam, Gus Miftah juga mempunyai ciri tersendiri dalam penyampain 

dakwahnya, tidak sama dengan di tempat-tempat yang lain. Dalam berpenampilan 

Gus Miftah menggunakan pakaian seperti biasa yang beliau gunakan, Gus Miftah 

mengenakan pakaian yang biasa seperti halnya pakaian mad’ū, hanya memakai  jas 

coklat, sarung hitam dan memakai blangkon (peci atau kopyah). Karena dalam 

berdakwah, Gus Miftah mengetahui karakter atau melihat mad’ūnya telebih dahulu, 

bagaimana mad’ū  bisa menerima dan bisa memahami apa yang disampaikan, dan 

yang paling utama adalah kesabaran yang besar saat berdakwah ditempat seperti itu.

Durasi tayangan video ini sekitar  1 jam  30  menit yang di  ambil  dari Youtobe 

channel Gus Miftah Official. Dalam mengawali pembukaan yang dicampur dengan

bahasa-bahasa humor yang akan menarik perhatian mad’ū, agar bisa diterima pesan 

dakwah yang disampaikan oleh Gus Miftah. Dalam tayangan ini Gus Miftah juga 

8

Hafniati, "Interaksi Da'i dan Mad'u tentang Penguasaan Media dan Metode Dakwah dalam Mencapai Hasil 

dan Tujuan Dakwah". Jurnal Muqaddimah. Vol. 14 No. 3, September-Desember 2018, hal. 104. 

9

mengajak mad’ūnya untuk  bersholawat, berqosidah, dan juga mengajarkan tata 

Krama bersholawat.  Hingga sampai penutup berjalan dengan tertib dan  aman, ditutup 

dengan mengajak sholawat bersama dengan menyalakan flash HP,  berdoa,  kafarottul 

majlis bersama, dan banyak masyarakat pun nampak meneteskan air mata.

D.  Kondisi idealnya jika diupayakan untuk perbaikan agar diterima oleh mad'u 

Kondisi idealnya agar seorang da'i dakwahnya bisa diterima harus ada sebuah 

perbaikan cara penyampaian sampai metode yang digunakan. Dalam penyampaiannya 

harus menggunakan perkataan yang baik, memiliki hubungan erat dengan mad'u, 

tidak membedakan-bedakan agama antar mad'u, menggunakan metode yang persuasif 

dengan cara tersebut maka dakwah akan bisa diterima oleh mad'u. Da'i harus menarik 

perhatian mad'u sehingga mad'u tidak merasa bosan dalam kondisi tersebut. Karena 

kondisi itu mad'u akan mempunyai kesulitan dalam memahami dakwah yang telah 

disampaikan.

Perbaikan dalam cara yang digunakan dalam da'i sangat berpengaruh pada 

pusat perhatian mad'u. Mad'u bisa memahami apa yang telah disampaikan jika da'i 

mampu menggunakan metode berdakwah yang tepat dan baik.  Dalam penyampaian 

dakwah Gus miftah ini sangat sederhana dan menggunakan cara yang tak 

menyinggung orang lain akan lebih baik adanya sebuah perbaikan dalam berdakwah 

agar kondisi saat itu akan lebih bervariasi dan menarik sehingga mad'u akan lebih 

memahami  isi dari dakwah tersebut. Pesan dakwah Gus Miftah mengajak mad'u 

tentang keimanan kepada Allah swt.

9

Gus Miftah juga mengajak mad'u tetap selalu 

sabar dalam menghadapi cobaan walaupun itu berat tetapi jangan pernah tinggalkan 

kajian dalam keadaan apapun.

9

Abdul Basit, "Filsafat Dakwah", (Jakarta: Kencana), 2013 

10

BAB III

PENUTUP

A.  Kesimpulan

Secara umum kondisi psikologis para jamaah  pengajian akbar Gus Miftah 

dalam rangka Hut Bayangkara ke-73  Akbp dengan judul “Aku Kiyainya Bapak 

Polisi” tersebut adalah: rukun dan saling tolong menolong, sadar menjalankan syariat, 

hampir semua ikut jam’iyah, bersosialisasi dengan senang hati, kompak melakukan 

kebaikan, harmonis meski berbeda: ekonomi-pendidikan-agama, memiliki toleransi 

antar umat beragama, harmonis dengan umat seagama (beda aliran), hidup 

bertetangga atau tidak individualis.  Dan yang terpenting  adalah  akhlak masyarakat 

terkategori baik serta kondisi keagamaan kondusif.

Kondisi psikologis da’I didalam makalah ini tertarik untuk menganalisis 

pesan dakwah Gus Miftah yang berada di situs youtobe pengajian akbar gus miftah 

dalam rangka HUT banyangkara ke 73 Akbp dengan judul “Aku Kiyainya Bapak 

Polisi” didalam video tersebut beliau memberikan pesan dakwah tentang keimanan 

serta akidah dan sekaligus beliau menjelaskan tentang seorang pendosa dan seseorang 

beragama kristen yang ingin mengenal dan masuk agama islam. Gus miftah juga 

mempunyai ciri khas tersendiri dalam peyampaian dakwahnya, tidak sama dengan 

tempat-tempat yang lain. Dalam berpena mpilan Gus Miftah juga tidak seperti biasa 

halnya pakaian pengunjung. 

Interaksi antara Da’I dan Mad’u disini yaitu beliau KH.   Mulana 

Habiburrahman (Gus Miftah) di  acara pengajian akbar dalam rangka HUT 

banyangkara ke 73 Akbp dengan judul “Aku Kiyainya Bapak Polisi”  yakni  beliau 

berdakwah mengisi siraman rohani dengan cara penyampaian  menggunakan bahasa 

yang sederhana dan dicampur dengan kata-kata  humor. Cara yang dilakukan Gus 

Miftah ini agar jamaah atau mad’ū tidak meraasa tersinggung  atas apa yang di 

sampaikan dā’i  ini  merupakan  terobosan baru untuk menanggulangi kebosanan 

terhadap ceramah yang dilakukan oleh seorang dā’i.

Kondisi idealnya agar seorang da'i dakwahnya bisa diterima harus ada sebuah 

perbaikan cara penyampaian sampai metode yang digunakan. Dalam penyampaiannya 

harus menggunakan perkataan yang baik, memiliki hubungan erat dengan mad'u, 

11

tidak membedakan-bedakan agama antar mad'u, menggunakan metode yang persuasif 

dengan cara tersebut maka dakwah akan bisa diterima oleh mad'u. Da'i harus menarik 

perhatian mad'u sehingga mad'u tidak merasa bosan dalam kondisi tersebut

12

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Moh. Aziz. 2004. Ilmu Dakwah. Jakarta: Prenada Media.

Arifin. M. 1990. Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi. Bumi Aksara : Jakarta.

Hafniati. 2018.  "Interaksi Da'i dan Mad'u tentang Penguasaan Media dan Metode Dakwah 

dalam Mencapai Hasil dan Tujuan Dakwah". Jurnal Muqaddimah. Vol. 14 No. 3.

Ismail, Ilyas Prio Hotman.  2011.  Filsafat Dakwah: Rekayasa Membangun Agama dan 

Peradaban Islam. Jakarta: Kencana.

Mashudi. Masdar F. 1991.  Dakwah Islami Mencari Paradigma Baru,  Makalah yang 

disampaikan pada seminar sehari tentang Politik Dakwah. di IAIN Sunan Gunung Djati 

Bandung. Desember

Mubarpk. Acmad. 1997. Psikologi Dakwah. Pustaka  Firdaus : Jakarta.

Nasrullah, Rulli.  2015.  Media Sosial Prespektif Komunikasi, Budaya dan Sosioteknologi. 

Simbiosa Rekatama Media. 

Sulton, Muhammad. 2003. Desain Ilmu Dakwah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Link Presentasi dan Video Youtube Kelompok 07

 Link Presentasi Kelompok 07 https://www.youtube.com/watch?v=Pr66JsYaWuA Link Video Youtube  https://www.youtube.com/watch?v=jQiAxCgQpdM