PENGAJIAN AKBAR GUS MIFTAH DALAM RANGKA HUT
BHAYANGKARA KE 73
(AKBP : AKU KIYAINYA BAPAK POLISI)
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pada mata kuliah
“Psikologi Dakwah”
Dosen Pengampu :
Dr. Hj. Elfi Yuliani Rochmah, M.Pd.I
Disusun Oleh Kelompok 1 / PAI F :
1. Nafiatul Wakhidah (201190185)
2. Neli Sugiarti (201190188)
3. Nilna Amalina Ramadhina (201190194)
4. Nilna Rizqi Barirh (201190195)
5. Rohmad Nur Alifudin (201190246)
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO
2022
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan
segala rahmat-Nyalah akhirnya kami bisa menyusun makalah dengan judul
“Pengajian Akbar Gus Miftah Dalam Rangka HUT Bhayangkara ke 73 AKBP : Aku
Kiyainya Bapak Polisi". Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Hj. Elfi
Yuliani Rochmah, M.Pd.I., selaku dosen pengampu kami yang telah memberikan tugas ini
kepada kami sehingga kami mendapatkan banyak tambahan pengetahuan khususnya dalam
masalah Pengajian Akbar Gus Miftah Dalam Rangka HUT Bhayangkara ke 73 AKBP : Aku
Kiyainya Bapak Polisi
Kami selaku penyusun berharap semoga makalah yang telah kami susun ini bisa
memberikan banyak manfaat serta menambah pengetahuan terutama dalam hal “Pengajian
Akbar Gus Miftah Dalam Rangka HUT Bhayangkara ke 73 AKBP : Aku Kiyainya Bapak
Polisi”. Selain itu, kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan
dan membutuhkan perbaikan, sehingga kami sangat mengharapkan masukan serta kritik dari
para pembaca.
Ponorogo, 18 April 2022
Penyusun
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ....................................................................................... 2
C. Tujuan ......................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Bagaimana Kondisi Psikologis Mad’u ...................................................... 3
B. Bagaimana Kondisi Psikologis Da’i ......................................................... 5
C. Bagaimana Interaksi Antara Da’i dan Mad’u ........................................... 7
D. Bagaimana Kondisi idealnya jika diupayakan untuk perbaikan agar
diterima oleh mad'u ................................................................................... 9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 12
1
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam bahasa Islam, dakwah adalah tindakan mengkomunikasikan pesan
pesan Islam
1
. Sedangkan dalam bahasa Al-Quran, dakwah diambil dari kata da’a, yad
u, da’ watun, yang secara etimologi artinya menyeru atau memanggil
2
. Dalam arti
luas dakwah adalah usaha mengubah situasi kepada yang lebih baik dan sempurna,
baik terhadap individu maupun masyarakat.
3
Dakwah merupakan kegiatan atau kewajiban bagi setiap muslim yang bersifat
mengajak, menyeru, memanggil orang-orang untuk beriman dan taat kepada Allah
SWT sesuai dengan garis akhidah, syariat dan akhlak Islam. Dakwah juga dapat
dikatakan sebagai gejala sosial yang terjadi pada sesorang atau masyarakat mengenai
perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran Allah SWT. Dakwah adalah suatu
penyampaian pesan dari dā’i kepada mad’ū untuk selalu senantiasa berada di jalan
Allah. Tapi ada satu hal yang perlu di garis bawahi bahwa dakwah tidak senantiasa
berdiri didepan mimbar dihadapan orang banyak. Dakwah bisa dilakukan melalui
tulisan, karya ilmiah, poster, vidio ceramah, dan lain -lain.
Pada zaman sekarang ini teknologi sudah berkembang sangat pesat, di mana
banyak sekali orang-orang dan para dā’i yang memanfaatkan berbagai macam media
sebagai sarana berdakwah. Termasuk media sosial atau media online. Saat ini adalah
era dimana kita dihadapkan dengan mudahnya mengakses informasi membuat hampir
seluruh elemen masyarakat dari anak-anak hingga orang tua saat ini telah
menggunakan media sosial. Fungsi media sosial antara lain yaitu, mengakses
informasi, memudahkan pekerjaan dalam dunia bisnis dan ekonomi sekaligus
menyiapkan pesan. Pada perkembangan media sosial saat ini sangat membantu
masyarakat dalam memenuhi dan mendapatkan kebutuhan. Tidak heran jika media
sosial menjadi fenomenal. Youtube, facebook, whatsapp, twiter, instagram dan lain -lain adalah beberapa media sosial yang diminati banyak khalayak. Media -media
tersebut memiliki arti sebagai medium internet yang memungkinkan penggunaan
1
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2004), 10.
2
lyas Ismail, Prio Hotman, Filsafat Dakwah: Rekayasa Membangun Agama dan Peradaban Islam, (Jakarta:
Kencana, 2011), 27.
3
Muhammad Sulton, Desain Ilmu Dakwah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2003), 9.
2
mempresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerja sama, berbagi,
berkomunikasi dengan pengguna lain, dan membentuk ikatan sosial secara visual.
4
Dalam tayangan di situs youtube TV Gus Miftah Official dengan jumlah
subuscribe 811 ribu subscribe yang berjudul “Pengajian Akbar Gus Miftah Dalam
Rangka HUT Bhayangkara ke 73 AKBP : Aku Kiyainya Bapak Polisi” dengan jumlah
penonton 1,7 Juta kali ditonton, adalah Ustadz Miftah Maulana Habbiburrohman alias
Gus Miftah, beliau viral di media sosial dengan dakwahnya yang bisa dilakukan
ditempat-tempat hiburan malam.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk menganalisis
pesan dakwah Gus Miftah yang berada di situs youtube TV Gus Miftah Official
dengan alamat web http://youtu.be/XvaGrNJqkzk “Pengajian Akbar Gus Miftah
Dalam Rangka HUT Bhayangkara ke 73 AKBP : Aku Kiyainya Bapak Polisi”. Dalam
video tersebut beliau memberikan pesan dakwah tentang keimanan dan akidah. Oleh
karena itu, peneliti mengangkat sebuah judul “PENGAJIAN AKBAR GUS MIFTAH
DALAM RANGKA HUT BHAYANGKARA KE 73 AKBP : AKU KIYAINYA
BAPAK POLISI” DI SITUS YOUTUBE TV GUS MIFTAH OFFICIAL.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi psikologis mad’u ?
2. Bagaimana kondisi psikologis da’i ?
3. Bagaimana interaksi antara da’i dan mad’u ?
4. Bagaimana kondisi idealnya, jika mengupayakan perbaikan agar yang disampaikan
da’i dapat diterima/ dipahami oleh mad’u ?
C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui kondisi psikologis mad’u.
2. Untuk mengetahui kondisi psikologis da’i.
3. Untuk mengetahui interaksi antara da’i dan mad’u.
4. Untuk mengetahui kondisi lainnya, jika mengupayakan perbaikan agar yang
disampaikan da’i dapat diterima/ dipahami oleh mad’u ?
4
Rulli Nasrullah, Media Sosial Prespektif Komunikasi, Budaya dan Sosioteknologi, (Simbiosa Rekatama
Media, 2015), 11
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Bagaimana Kondisi Psikologis Mad’u
Dalam memahami psikologi mad’u ini tentu tidak terlepas dari penjelasan
tentang manusia, yang telah diuraikan sebelumnya, baik dalam pandangan psikologi
terlebih dalam pandangan Islam. Dalam Perspektif Neurobiologi bahwa proses
neurobiologis mendasari perilaku dan proses mental manusia, sehingga disebutkan
bahwa semua peristiwa psikologis berkaitan dengan aktivitas otak dan sistem saraf.
Hal ini memperjelas adanya hubungan yang erat antara kegiatan otak dengan perilaku
dan pengalaman individu. Pandangan ini dalam kacamata Islam tidak terlalu salah
karena dalam pandangan Islam, sebagaimana dijelaskan Nabi saw. bahwa “kefakiran
bisa menjadikan seseorang menjadi kufur”. Dengan begitu, secara psikologis seorang
da’i tidak bijak jika hanya “membuat surga dalam telinga”. Akan tetapi da’i juga
mesti pandai menyusun pesan dakwah sesuai dengan kondisi mad’u. Jika kondisi
mad’u dalam keadaan serba kekurangan, maka yang perlu didahulukan oleh seorang
da’i bagaimana merumuskan peningkatan kesejahteraan dalam bidang ekonomi,
mad’u jangan dipaksa untuk menerima keadaan dan jangan hanya disuruh untuk
bersabar. Sebab system saraf mad’u (kondisi psikologis) yang sedang mengalami
serba kekurangan tidak akan optimal menerima pesan, karena dipengaruhi dan
dihimpit oleh keadaan yang menyebabkan sifat-sifat rendahnya menjadi dominan,
karena manusia (mad’u) selain memiliki nafsu yang tinggi juga memiliki potensi
nafsu rendah (QS. 12:53).
Kondisi mad’u sebagaimana disebutkan di atas didukung juga oleh pandangan
humanistik yang menyatakan bahwa kebutuhan yang lebih tinggi tidak dapat dicapai
sebelum kebutuhan yang lebih rendah tercapai. Kebutuhan aktualisasi diri (termasuk
hidup bermakna dan beragama) dalam pandangan humanistic merupakan kebutuhan
pada peringkat atas, untuk sampai pada aktualisasi diri itu, sebaikny a dipenuhi dulu
kebutuhan dasar atau kebutuhan yang lebih rendahnya, yaitu kebutuhan biologis,
seperti makan dan minum. Sekalipun pandangan humanistik ini tidak seluruhnya
benar, akan tetapi dalam karakteristik mad’u tertentu pandangan ini bisa dijadikan
sebagai salah satu acuan. Apalagi jika sedikitnya, kita mau melihat psikologi manusia
yang didasarkan pada pandangan psikoanalisis yang menyatakan bahwa semua
perilaku manusia memiliki penyebab yang lebih sering ditimbulkan oleh motif bawah
4
sadar daripada penalaran rasional. Tentu, tidak semua pandangan di atas adalah benar,
sebab dalam pandangan Humanistik dinyatakan bahwa manusia memiliki kemauan
bebas dan dorongan ke arah aktualisasi diri dan manusia dalam pandangan ini tidak
sama dengan konsep behavioralis yang menyatakan bahwa perilaku manusia yang
menganggap bahwa manusia dikendalikan oleh impuls tidak sadar, karena manusia
merupakan aktor sadar yang mampu mengendalikan nasibnya dan mengubah
dunianya. Bahkan dalam pandangan Islam bahwa fitrah manusia ad alah suci dan
kecenderungan manusia kepada agama
merupakan sifat dasar manusia.
5
Kondisi masyarakat yang ideal adalah yang setiap anggota masyarakat
berusaha untuk menegakkan ajaran Islam dan meyakini dengan penuh keimanan akan
ke-Esa-an Allah. Diawali dari memahami kondisi psikologis masing-masing mad’u
atau anggota masyarakat kemudian membantu untuk meluruskan hal-hal yang
menyimpang dari ajaran Islam.
Apabila dilihat dari kehidupan psikologis masing-masing sasaran da’i yaitu
golongan masyarakat yang memiliki ciri-ciri khusus yang menuntun kepada sistem
dan metode pendekatan dakwah yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Prinsip-prinsip psikologis yang berbeda merupakan suatu keharusan bilamana
menghendaki efektivitas dan efisiensi dalam program kegiatan dakwah. Kata efisien
mengacu kepada bagaimana seseorang menggunakan sumber daya yang ada untuk
mencapai hasil maksimal, sedangkan keefektifan dakwah adalah studi tentang
keluaran (out put). Dalam hal ini, seorang da’i harus mengert i dan mengetahui
perkembangan perjalanan dakwah sehingga dakwah tidaklah semata-mata dilakukan,
perlu adanya strategi agar dakwah efektif dan efisien. Ketika da’i mengetahui
kendala-kendala yang ada maka akan mengadakan perbaikan-perbaikan menuju
efektivitas dan efisiensi dakwah, yaitu tepat waktu dan sesuai tujuan dalam
berdakwah (Noor Chalimah AM. 2011). Seperti yang terjadi di pengajian akbar Gus
Miftah dalam rangka Hut Bayangkara ke-73, si Da’i ( Gus Miftah) memahami
kondisi psikologis mad’u, sehingga penyampaian materi lebih dapat diterima, karena
pada kenyataanya masyarakat sekitar mempunyai pemahaman agama namun beragam
dalam berperilaku keberagamaan atau pengamalan beragama bertingkat .
5
Masdar F. Mashudi, Dakwah Islami Mencari Paradigma Baru, Makalah yang disampaikan pada seminar
sehari tentang Politik Dakwah, di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, Desember 1991, hlm. 1.
5
Mengenal mad’u (objek dakwah) merupakan salah satu prinsip utama yang
harus dimiliki oleh seorang da’i karena merupakan tuntutan logis dalam menjalankan
aktivitas dakwah. Dengan mengenal mad’u berdasarkan situasi dan kondisinya,
dakwah pun dapat diaplikasikan secara efektif. Kegiatan dakwah dalam prinsip ini
sering diibaratkan dengan kegiatan dokter yang mengobati orang sakit, di mana harus
mengetahui jenis penyakit sebelum mengobati. Begitu juga dakwah, proses dakwah
sulit berhasil tanpa adanya analisis terhadap sasaran dakwahnya terlebih dahulu (M.
Ridho Syabibi. 2008. hal. 121). Secara umum kondisi psikologis para jamaah
pengajian akbar Gus Miftah dalam rangka Hut Bayangkara ke-73 Akbp dengan judul
“Aku Kiyainya Bapak Polisi” tersebut adalah: rukun dan saling tolong menolong,
sadar menjalankan syariat, hampir semua ikut jam’iyah, bersosialisasi dengan senang
hati, kompak melakukan kebaikan, harmonis meski berbeda: ekonomi-pendidikan-agama, memiliki toleransi antar umat beragama, harmonis dengan umat seagama
(beda aliran), hidup bertetangga atau tidak individualis. Dan yang terpenting adalah
akhlak masyarakat terkategori baik serta kondisi keagamaan kondusif.
B. Bagaimana Kondisi Psikologi Da’i
Menurut Ahmad Suyuti Da’I atau mubalig adalah berasal dari Bahasa arab
“balagha yubalighu” yang berarti orang yang menyampaikan ajaran islam kepada
masyarakat penerima dakwah .Seorang da’I yang dijadikan panutan agar mereka yang
memiliki ketokohan karena keulamaanya. Idealnya sikap seorang da’I yang menjadi
teladan itulah da’I yang memiliki kecakapan, kedewasaan, kejuj uran, keberanian dan
kepantasan. Seorang da’I jika ingin pesan dakwahnya dapat disampaikan dengan
pedekatan psikolgis, yakni sesuai dengan tingkatan dan kebutuhan jiwa mad’u.
dakwah seperti itulah yang disebut dakwah persuasif sesuai dengan ungkapan nabi
yang artinya “berbicaralah kepada orang sesuai dengan kadar akal mereka”.
6
Kondisi psikologis da’I didalam makalah ini tertarik untuk menganalisis
pesan dakwah Gus Miftah yang berada di situs youtobe pengajian akbar gus miftah
dalam rangka HUT banyangkara ke 73 Akbp dengan judul “Aku Kiyainya Bapak
Polisi” didalam video tersebut beliau memberikan pesan dakwah tentang keimanan
serta akidah dan sekaligus beliau menjelaskan tentang seorang pendosa dan seseorang
beragama kristen yang ingin mengenal dan masuk agama islam. Gus miftah juga
6
Arifin,”Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi”, (Jakarta : Bumi Aksara,1990)
6
mempunyai ciri khas tersendiri dalam peyampaian dakwahnya, tidak sama dengan
tempat-tempat yang lain. Dalam berpenampilan Gus Miftah juga tidak seperti biasa
halnya pakaian pengunjung.
KH. Miftah Maulana Habirurrahman alias Gus Miftah merupakan seorang
ustad da sekaligus pimpinan pondok pesantren (ponpes) ora aji, sleman, yogyakarta.
Ia lahir dilampung pada 5 agustus 1981, kini berusia 40 taun. Gus Miftah merupakan
keturunan ke-9 kiai ageng hasa besari pendiri pesantren tegalsari, ponorogo. Gus
Miftah merupaka lulusan dari pondok pesantren bustanul ulum jayasakti lampung . ia
kemudian melanjutkan pendidikan di Yogyakarta denggan berkuliah di UIN Sunan
Kalijaga pada jurusan kependidikan islam, fakultas tarbiyah selama berkuliah Gus
Miftah juga tercatat aktif didalam pergerakan mahasiswa islam Indonesia (PMII).Gus
Miftah sudah mulai berdakwah dimasyarakat biasa biasanya memberian tausiyah
berupa kultum, pengajian ibu-ibu, ngaji kitab setelah subuh, termasuk sudah mulai
khutbah jum;at yang semuanya itu dilakukan dimushola, masjid ataupun rumah
jamaahnya yang mengundangnya. Setelah itu Gus Miftah mulai beralih dakwah di
tempat hiburan malam (Klub malam) Gus Miftah mulai tertarik kepada tempat
hiburan malam karena kebiasannya yang sering melewati sarkem (Pasar Kembang)
yaitu tempat lokalisasi terbesar di Yogyakarta, dari kebiasaan tersebut Gus Miftah
mendapat inspirasi untuk melaksanakan dakwah di Klub malam tesebut.
Gus Miftah disini menjelaskan tentang seorang pendosa dan beliau berkata “
Jangan Pernah Menghina Pendosa Seolah-olah Kita tidak Pernah Berbuat Dosa”
karena “ Surga itu akan ditempatkan seorang pendosa yang bertaubat bukan orang
yang sok suci namun pada akhirnya tersesat”, lebh baik orang bermaksiat tapi
khawatir dengan kemaksiatannya daripada orang yang banyak amalan tapi sombong
degan amalanya ucap Gus Miftah. walaupun dia adalah seorang pendosa tetapi dia
bisa membedakan baik buruk. Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan
kemuliaan allah swt. Rasullulah bersabda,Allah berfirman “ Wahai para hambaku,
sesungguhnya kalian berbuat kesalaan pada waktu malam dan siang maka aku
mengampuni semua dosa, maka mohon ampunlah kalian kepadaku niscaya aku
mengampuni kalian. Maksud dari hadis tersebut bahwa manusia memang tidak lucut
dari perbuata salah yang berunjng pada dosa sekalipun memang manusia terlahir
dengan keadaan yang fithra alias suci.Menurut Sa’ad bin Hilal berkata bila manusia
7
(umat Muhammad Saw ) berbuat dosa, maka allah tetap memberikan empat anugerah
padanya, yaitu :
1. Tidak terhalang untuk mendapatkan rezeki
2. Tidak terhalang unttuk mendapatkan kesehatan badan
3. Allah tidak akan memperlihatkan dosanya selama di dunia
4. Makhluk yang sering terperdaya untuk melakukan dosa, agar malu di hadapan
Allah SWT serta malu karena memakan nikmat allah tetapi shalat tak kunjung
khusyuk.
7
Gus Miftah juga menjelaskan bahwa ada seseorang yang beragama Kristen ingin
masuk kedalam agama islam. Seorang itu ialah Deddy Corbuzier memutuskan
memeluk agama islam tanpa ada paksaan apa pun dan dari siapa pun, beliau (masuk
islam) tidak karena apa pun tapi karena mendapat hidayah. menurut dedy corbuzier
sebelum masu islam bahwa islam itu keras, islam radikal, tetapi saya salah ternyata
islam itu menyenangkan kata dedy corbuzier. Setelah itu Gus Miftah menuntun
Deddy Corbuzier dengan mengucapkan kalimat syahadat “Ashadualla Ilahailallah”
sebagai ikrar mualaf dan alasan masuk islam karena ia merasa mendapat hidayah.
Keputusan Deddy masuk islam ini diambil setelah melalui proses yang panjang. Gus
Miftah menjelaskan kepada dedy corbuzier bahwa di ibaratkan seperti apa wajah
islam ,wajah pintu masuk islam tergantung pintu masuknya jika itu keras ya islam
akan jadi islam keras akan tetapi jika kalua pintu masuknya islam yang marah
sambunganya jadi islam yang marah-marah tapi sebaliknya kalua pintu masuknya
islam yang rama jadinya ya ramah. Dan semua itu disampaikan gama yang masuk
kedalam logikanya dengan menggunakan pedekatan yang rasional.
C. Bagaimana Interaksi Antara Da’i dan Mad’u
Interaksi adalah suatu bentuk hubungan antara dua orang atau lebih dimana
tingkah laku seseorang diubah oleh tingkah laku yang lain. Di dalam hubungan
interaksional inilah terjadi suatu proses belajar mengajar diantara manusia di mana
di dalam proses dakwah merupakan permulaan yang fundamental bagi suksesnya
dakwah. Tanpa adanya suatu proses belajar mengajar maka dakwah sulit
memperoleh tempat di dalam hati manusia. Kalau kita kaitkan dengan dakwah, maka
dalam dakwah dikenal istilah personal approach dakwah face to face, sehingga terjadi
proses saling mempengaruhi antara da’i dan mad’u atau sebaliknya. Begitu pula
7
Achmad, Mubarok,”Psikologi Dakwah”( Jakarta : pustaka Firdaus , 1997)
8
ada istilah general approach atau dakwah secara umum misalnya pengajian
disini terjadi proses saling mempengaruhi antara da’i dan mad’u dalam kelompok
sosial.
8
Dalam hal ini, KH. Mulana Habiburrahman (Gus Miftah) di acara pengajian
akbar dalam rangka HUT banyangkara ke 73 Akbp dengan judul “Aku Kiyainya
Bapak Polisi” yakni berdakwah mengisi siraman rohani dengan cara penyampaian
menggunakan bahasa yang sederhana dan dicampur dengan kata-kata humor. Cara
yang dilakukan Gus Miftah ini agar jamaah atau mad’ū tidak meraasa tersinggung
atas apa yang di sampaikan dā’i. ini merupakan terobosan baru untuk menanggulangi
kebosanan terhadap ceramah yang dilakukan oleh seorang dā’i.
Tayangan video “Pengajian Akbar Gus Miftah dalam Rangka HUT
Bhayangkara Ke 73 I AKBP = Aku Kiyainya Bapak Polisi” dari Youtobe channel
Gus Miftah Official merupakan suatu program acara atau suatu tayangan pada tahun
2019 di Kudus. Dimana juga mengaitkan ceramah beliau yang viral vidionya setelah
menggelar pengajian didalam sebuah klub malam di Bali beberapa waktu lalu, kini
melakukan kegiatan pengajian dilakukan disebuah lapangan di Kudus. Diikuti para
Bapak Kapolres dan sejajarnya serta masyarakat umum. Gus Miftah ini
menyampaikan pesan keislaman dan akhlak. Dalam berdakwah di lokalisasi atau
tempat hiburan malam, Gus Miftah juga mempunyai ciri tersendiri dalam penyampain
dakwahnya, tidak sama dengan di tempat-tempat yang lain. Dalam berpenampilan
Gus Miftah menggunakan pakaian seperti biasa yang beliau gunakan, Gus Miftah
mengenakan pakaian yang biasa seperti halnya pakaian mad’ū, hanya memakai jas
coklat, sarung hitam dan memakai blangkon (peci atau kopyah). Karena dalam
berdakwah, Gus Miftah mengetahui karakter atau melihat mad’ūnya telebih dahulu,
bagaimana mad’ū bisa menerima dan bisa memahami apa yang disampaikan, dan
yang paling utama adalah kesabaran yang besar saat berdakwah ditempat seperti itu.
Durasi tayangan video ini sekitar 1 jam 30 menit yang di ambil dari Youtobe
channel Gus Miftah Official. Dalam mengawali pembukaan yang dicampur dengan
bahasa-bahasa humor yang akan menarik perhatian mad’ū, agar bisa diterima pesan
dakwah yang disampaikan oleh Gus Miftah. Dalam tayangan ini Gus Miftah juga
8
Hafniati, "Interaksi Da'i dan Mad'u tentang Penguasaan Media dan Metode Dakwah dalam Mencapai Hasil
dan Tujuan Dakwah". Jurnal Muqaddimah. Vol. 14 No. 3, September-Desember 2018, hal. 104.
9
mengajak mad’ūnya untuk bersholawat, berqosidah, dan juga mengajarkan tata
Krama bersholawat. Hingga sampai penutup berjalan dengan tertib dan aman, ditutup
dengan mengajak sholawat bersama dengan menyalakan flash HP, berdoa, kafarottul
majlis bersama, dan banyak masyarakat pun nampak meneteskan air mata.
D. Kondisi idealnya jika diupayakan untuk perbaikan agar diterima oleh mad'u
Kondisi idealnya agar seorang da'i dakwahnya bisa diterima harus ada sebuah
perbaikan cara penyampaian sampai metode yang digunakan. Dalam penyampaiannya
harus menggunakan perkataan yang baik, memiliki hubungan erat dengan mad'u,
tidak membedakan-bedakan agama antar mad'u, menggunakan metode yang persuasif
dengan cara tersebut maka dakwah akan bisa diterima oleh mad'u. Da'i harus menarik
perhatian mad'u sehingga mad'u tidak merasa bosan dalam kondisi tersebut. Karena
kondisi itu mad'u akan mempunyai kesulitan dalam memahami dakwah yang telah
disampaikan.
Perbaikan dalam cara yang digunakan dalam da'i sangat berpengaruh pada
pusat perhatian mad'u. Mad'u bisa memahami apa yang telah disampaikan jika da'i
mampu menggunakan metode berdakwah yang tepat dan baik. Dalam penyampaian
dakwah Gus miftah ini sangat sederhana dan menggunakan cara yang tak
menyinggung orang lain akan lebih baik adanya sebuah perbaikan dalam berdakwah
agar kondisi saat itu akan lebih bervariasi dan menarik sehingga mad'u akan lebih
memahami isi dari dakwah tersebut. Pesan dakwah Gus Miftah mengajak mad'u
tentang keimanan kepada Allah swt.
9
Gus Miftah juga mengajak mad'u tetap selalu
sabar dalam menghadapi cobaan walaupun itu berat tetapi jangan pernah tinggalkan
kajian dalam keadaan apapun.
9
Abdul Basit, "Filsafat Dakwah", (Jakarta: Kencana), 2013
10
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Secara umum kondisi psikologis para jamaah pengajian akbar Gus Miftah
dalam rangka Hut Bayangkara ke-73 Akbp dengan judul “Aku Kiyainya Bapak
Polisi” tersebut adalah: rukun dan saling tolong menolong, sadar menjalankan syariat,
hampir semua ikut jam’iyah, bersosialisasi dengan senang hati, kompak melakukan
kebaikan, harmonis meski berbeda: ekonomi-pendidikan-agama, memiliki toleransi
antar umat beragama, harmonis dengan umat seagama (beda aliran), hidup
bertetangga atau tidak individualis. Dan yang terpenting adalah akhlak masyarakat
terkategori baik serta kondisi keagamaan kondusif.
Kondisi psikologis da’I didalam makalah ini tertarik untuk menganalisis
pesan dakwah Gus Miftah yang berada di situs youtobe pengajian akbar gus miftah
dalam rangka HUT banyangkara ke 73 Akbp dengan judul “Aku Kiyainya Bapak
Polisi” didalam video tersebut beliau memberikan pesan dakwah tentang keimanan
serta akidah dan sekaligus beliau menjelaskan tentang seorang pendosa dan seseorang
beragama kristen yang ingin mengenal dan masuk agama islam. Gus miftah juga
mempunyai ciri khas tersendiri dalam peyampaian dakwahnya, tidak sama dengan
tempat-tempat yang lain. Dalam berpena mpilan Gus Miftah juga tidak seperti biasa
halnya pakaian pengunjung.
Interaksi antara Da’I dan Mad’u disini yaitu beliau KH. Mulana
Habiburrahman (Gus Miftah) di acara pengajian akbar dalam rangka HUT
banyangkara ke 73 Akbp dengan judul “Aku Kiyainya Bapak Polisi” yakni beliau
berdakwah mengisi siraman rohani dengan cara penyampaian menggunakan bahasa
yang sederhana dan dicampur dengan kata-kata humor. Cara yang dilakukan Gus
Miftah ini agar jamaah atau mad’ū tidak meraasa tersinggung atas apa yang di
sampaikan dā’i ini merupakan terobosan baru untuk menanggulangi kebosanan
terhadap ceramah yang dilakukan oleh seorang dā’i.
Kondisi idealnya agar seorang da'i dakwahnya bisa diterima harus ada sebuah
perbaikan cara penyampaian sampai metode yang digunakan. Dalam penyampaiannya
harus menggunakan perkataan yang baik, memiliki hubungan erat dengan mad'u,
11
tidak membedakan-bedakan agama antar mad'u, menggunakan metode yang persuasif
dengan cara tersebut maka dakwah akan bisa diterima oleh mad'u. Da'i harus menarik
perhatian mad'u sehingga mad'u tidak merasa bosan dalam kondisi tersebut
12
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Moh. Aziz. 2004. Ilmu Dakwah. Jakarta: Prenada Media.
Arifin. M. 1990. Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi. Bumi Aksara : Jakarta.
Hafniati. 2018. "Interaksi Da'i dan Mad'u tentang Penguasaan Media dan Metode Dakwah
dalam Mencapai Hasil dan Tujuan Dakwah". Jurnal Muqaddimah. Vol. 14 No. 3.
Ismail, Ilyas Prio Hotman. 2011. Filsafat Dakwah: Rekayasa Membangun Agama dan
Peradaban Islam. Jakarta: Kencana.
Mashudi. Masdar F. 1991. Dakwah Islami Mencari Paradigma Baru, Makalah yang
disampaikan pada seminar sehari tentang Politik Dakwah. di IAIN Sunan Gunung Djati
Bandung. Desember
Mubarpk. Acmad. 1997. Psikologi Dakwah. Pustaka Firdaus : Jakarta.
Nasrullah, Rulli. 2015. Media Sosial Prespektif Komunikasi, Budaya dan Sosioteknologi.
Simbiosa Rekatama Media.
Sulton, Muhammad. 2003. Desain Ilmu Dakwah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar