CARA AGAR KUAT SAAT KEHILANGAN
USTADZ HILMAN FAUZI
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
“Psikologi Dakwah”
Dosen Pengampu :
Dr. Hj. Elfi Yuliani Rochmah, M.Pd.I
Disusun Oleh Kelompok 7 / PAI F :
1. Mujita Dea Arlyanti (201190177)
2. Nia Arlina (201190191)
3. Novia Cindy Safitri (201190200)
4. Nur Asiyah (201190208)
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO
JUNI 2022
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua sehingga kami bisa
menyusun makalah ini dengan judul “Cara Agar Kuat Saat Kehilangan”. Kami
juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Dr. Hj. Elfi Yuliani Rochmah,
M.Pd.I selaku dosen pengampu mata kuliah kami yang telah memberikan tugas
ini kepada kami sehingga kami mendapatkan banyak tambahan pengetahuan
khususnya dalam masalah “Cara Agar Kuat Saat Kehilangan”.
Kami selaku penyusun berharap semoga makalah yang telah kami susun
ini bisa memberikan banyak manfaat serta menambah pengetahuan terutama
dalam hal “Cara Agar Kuat Saat Kehilangan”. Selain itu, pemakalah menyadari
bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan dan tentunya
membutuhkan perbaikan, sehingga kami sangat mengharapkan masukan serta
kritik dari para pembaca.
Ponorogo, 25 Mei 2022
Penyusun
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .................................................................................. i
KATA PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI ............................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................... 2
C. Tujuan ............................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................... 4
A. Kondisi Psikologis Mad’u .............................................................. 4
B. Kondisi Psikologis Da’i .................................................................. 5
C. Interaksi Antara Da’i dan Mad’u .................................................... 7
D. Kondisi Ideal Yang Diupayakan
Untuk Perbaikan Agar Diterima Oleh Mad’u .................................. 8
BAB III PENUTUP .................................................................................. 10
A. Kesimpulan ................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 11
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dakwah adalah kegiatan yang sifatnya mengajak, menyeru, serta
memanggil orang (mad’u) untuk beriman dan taat kepada Allah SWT sesuai
dengan aqidah dan syariat Islam. Kegiatan dakwah merupakan proses
komunikasi antara seorang da’i dengan mad’u, yang mana dengan adanya
komunikasi, maka seseorang dapat menyampaikan apa yang ada dalam
pikirannya dan apa yang dirasakan orang lain.
Selain itu dakwah diartikan dengan suatu ajakan yang dilakukan untuk
membebaskan manusia secara individu dari pengaruh luar nilai kejahatan
menuju internalisasi nilai ketuhanan. Bahwasannya dakwah termasuk dalam
tindakan komunikasi, akan tetapi tidak semua aktivitas komunikasi disebut
dengan dakwah. Pada hakikatnya dakwah sendiri merupakan suatu ajakan
atau seruan dalam berbuat kebajikan untuk mentaati perintah dan menjauhi
larangan Allah SWT.
Pada dasarnya dakwah bertujuan untuk mempengaruhi dan
mentransformasikan sikap batin serta perilaku manusia menuju tatanan yang
baik pada setiap individu maupun kelompok. Kegiatan dakwah tidak hanya
dilakukan dengan lisan melainkan bisa dilakukan secara tulisan bahkan
melalui sebuah film. Dimana seorang da’i melakukan aktivitas dakwahnya
dengan cara memanfaatkan media sebagai alat untuk menyampaikan pesen
dakwah.
Dakwah memiliki kedudukan yang tinggi dan mempunyai peranan
yang sangat penting menurut pandangan Allah SWT dan Nabi Muhammad
SAW, karena Islam sangat memperhatikan dalam urusan yang satu ini.
Sehingga menganjurkan kepada setiap muslim agar menyeru kepada kebaikan
dan menyampaikan nasehat-nasehat yang baik kepada masyarakat serta
menjauhkan diri dari segala hal yang dilarang oleh agama Islam.
2
Banyak orang yang beranggapan bahwa suatu aktivitas dakwah harus
dengan ceramah kyai. Padahal dengan seiring perkembangan zaman,
kebutuhan akan berdakwah semakin meningkat sehingga muncul sebuah
inovasi dalam berdakwah. Perkembangan teknologi informasi yang semakin
pesat, dakwah dapat dilakukan melalui media yang lebih modern. Kegiatan
dakwah sekarang sudah berkembang menjadi sebuah profesi dengan
menuntut skill, planning serta manajemen yang handal.
Salah satunya pada tayangan di situs channel youtube Teman Hijrah
Media yang berjudul “Cara Agar Kuat Saat Kehilangan” oleh Ustadz Hilman
Fauzi. Durasi tayangan video ini sekitar 10 menit 56 detik dan sudah ditonton
sebanyak 48 rb kali, dan sudah di sukai sebanyak 1,1 ribu penonton. Dengan
terkenal logat bahasa Ustadz Hilman berbahasa Sunda campur dengan bahasa
sehari-hari. Membuat dakwah beliau semakin menarik
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk
menganalisis pesan dakwah Ustadz Hilman Fauzi yang berada di channel
youtube Teman Hijrah Media dengan alamat web
https://youtu.be/jQiAxCgQpdM “Cara Agar Kuat Saat Kehilangan” Oleh
Ustadz Hilman Fauzi. Dalam video tersebut beliau memberikan pesan
dakwah mengenai cara agar kuat saat kehilangan, karena yang hilang pasti
akan berganti dengan yang terbaik. Oleh karena itu, peneliti mengangkat
sebuah judul “(Cara Agar Kuat Saat Kehilangan Oleh Ustadz Hilman Fauzi).”
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi psikologis mad’u?
2. Bagaimana kondisi psikologis da’i?
3. Bagaimana interaksi antara da’i dan mad’u?
4. Bagaimana kondisi idealnya, jika mengupayakan perbaikan agar yang
disampaikan da’i dapat diterima atau dipahami mad’u?
3
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui kondisi psikologis mad’u.
2. Untuk mengetahui kondisi psikologis da’i.
3. Untuk mengetahui interaksi antara da’i dan mad’u.
4. Untuk mengetahui kondisi idealnya, jika mengupayakan perbaikan agar
yang disampaikan da’i dapat diterima atau dipahami mad’u.
4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kondisi Psikologis Mad’u
Secara etimologi kata mad’u berasal dari bahasa arab, diambil dari
isim maf’ul (kata yang menunjukkan obyek atau sasaran). Menurut
terminology, mad’u adalah orang atau kelompok yang lazim disebut dengan
jama’ah yang sedang menuntut ajaran agama dari seorang da’i. baik mad’u
itu orang dekat atau juah, muslim atau non muslim, laki-laki atau perempuan.
Seorang da’i akan menjadikan mad’u sebagai obyek bagi transformasi
keilmuan yang dimilikinya. Mad’u sebagai obyek dakwah bagi seorang da’i
merupakan salah satu unsur yang penting dalam system dakwah.
1
Secara umum kalangan mad’u dibagi menjadi 2 yaitu, mad’u muslim
dan mad’u non muslim. Mad’u dapat ditinjau dari perspektif psikologis.
Secara psikologis, manusia sebagai mad’u dibedakan atas berbagai aspek :
Sifat-sifat kepribadian (personality traits), yaitu adanya sifat -sifat manusia
yang penakut, pemarah, sombong dan sebagainya. Intelegensi adalah bentuk
kecerdasan intelektual seseorang mencakup kewaspadaan, kemampuan
belajar, berfikir, mengambil keputusan yang tepat dan cepat, mengatasi
masalah dan sebagainya. Pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill),
nilai-nilai (values), dan peranan (roles).
2
Secara umum kondisi psikologis para jamaah Ustadz Hilman Fauzi
dalam kajian pada situs channel youtube Teman Hijrah Media yang berjudul
“Cara Agar Kuat Saat Kehilangan”, para mad’unya adalah kaum muda atau
lebih dikenal dengan kaum milenial. Dikarenakan para anak muda zaman
sekarang lebih banyak mengalami kegalauan terkait dengan kisah asmara,
sehingga banyak sekali anak muda yang tertarik dengan kajian yang
dibawakan oleh Ustadz Hilman Fauzi ini. Seperti yang diceritakan oleh
1
Asna Istya Marwantika, Potret dan Segmentasi Mad’u Dalam Perkembangan Media di
Indonesia, Jurnalal-Adabiya, Vol. 14, No. 01, 2019, 3.
2
Kamaluddin, Mengenal Mad’u Dalam Perspektif Teologis, Sosiologis, Antropologis, dan
Psikologis, Studi Multidisiplin : Jurnal Kajian Keislaman, Vol. 2, No. 1, 2015, 53.
5
Ustadz Hilman Fauzi tentang kisah kehilangan yang dialami oleh Ummu
Salamah, yang harus ditinggal oleh suaminya yang bernama Abu Sala mah
untuk selama-lamanya karena berperang di medan perang.
Dilihat dari segi psikologisnya maka dalam kajian ini para anak muda
khususnya yang sedang mengalami sedih, patah hati atas kehilangan tidak
berlarut-larut dalam kesedihan dan tetap berpegang teguh pada keyakinan
bahwa segala apapun yang hilang akan diganti dengan yang lebih baik oleh
Allah swt.
B. Kondisi Psikologis Da’i
Kata da’i berasal dari bahasa arab bentuk mudzakar (laki -laki) yang
berarti orang yang mengajak, kalau mu’annas (perempuan) disebut daiyah.
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dai adalah orang yang
pekerjaannya berdakwah, pendakwah, melalui kegiatan dakwah para dai
menyebarluaskan ajaran islam. Dengan kata lain, dai adalah orang yang
mengajak kepada orang lain baik secara lansung atau tidak langsung, melalui
lisan, tulisan, atau perbuatan untuk mengamalkan ajaran-ajaran islam atau
menyebarluaskan ajaran islam, melakukan upaya perubahan kearah kondisi
yang lebih baik menurut islam.
Da’i dapat diibaratkan sebagai seorang guide atau pemandu terhadap
orang-orang yang ingin mendapat keselamatan hidup dunia dan akhirat.
Dalam hal ini dai adalah seorang petunjuk jalan yang harus mengerti dan
memahami terlebih dahulu mana jalan yang boleh dilalui dan yang tidak
boleh dilalui oleh seorang muslim, sebelum ia memberi petunjuk jalan kepada
orang lain. Oleh karena itu, seorang dai harus selalu sadar bahwa segala
tingkah lakunya selalu dijadikan tolak ukur oleh masyarakatnya sehingga ia
harus memiliki kepribadian yang baik.
3
Kondisi psikologis da’i makalah ini tertarik untuk menganalisis pesan
dakwah dari Ustadz Hilman Fauzi, yang berada dalam channel YouTube
3
Agus Salim, Peran dan Fungsi Dai Dalam Perspektif Psikologi Dakwah, Al-Hikmah Media
Dakwah, Komunikasi, Sosial dan Kebuadayaan, Vol. 8, No. 1, 2017, 95-96.
6
Teman Hijrah Media yang berjudul “Cara Agar Kuat Saat Kehilangan”. Di
dalam video tersebut menyampaikan pesan bahwa setiap yang hilang ataupun
pergi akan Allah ganti, kuncinya adalah yakin bahwa Allah akan
menggantinya dengan ganti yang lebih baik.
Ustadz Hilman Fauzi adalah salah satu pendakwah muda di Indonesia.
Beliau lahir pada tanggal 4 Juli 1990 di Desa Tegalpanjang, Kecamatan
Sucinaraja, Kabupaten Garut Jawa Barat. Beliau adalah anak yatim piatu,
ayahnya meninggal disaat beliau masih duduk dibangku SMP dan ibunya
meninggal dunia ketika beliau sudah lulus SMA. Beliau hidup ditengah-tengah keluarga ekonomi rendah. Dan betapa beruntungnya beliau
mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan tingginya di Tripoli
University, Libya. Akan tetapi tidak sampai selesai beliau kuliah disana.
Hingga pada akhirnya beliau melanjutkan kuliah di Tazkia University College
of Islamic Economics, sebuah kampus ekonomi islam pertama di Indonesia.
Banyak sekali prestasi yang beliau dapatkan, dari prestasi tersebut sekarang
beliau sering kali bolak-balik dilayar kaca televisi seperti di Indosiar, ANTV,
Jak TV, Trans 7, Transvision, dan juga MNC Muslim dengan mengisi acara
keagamaan dan inspirasi islam.
Dalam tayangan channel YouTube tersebut Ustadz Hilman Fauzi
menjelaskan bagaimana cara agar kuat saat kehilangan. Yang pertama yang
harus dilakukan adalah yakin dalam hati bahwa setiap yang hilang akan
berganti. Seperti kisah Ummu Salamah yang kehilangan suaminya Abu
Salamah untuk selama-lamanya. Ummu Salamah yakin bahwa Allah akan
ganti kehilangannya, dan benar Allah ganti suaminya dengan hadirnya
Rasulullah yang datang melamarnya. Yang kedua yaitu dengan berdo’a
memohon diwaktu-waktu yang sepi seperti di 1/3 malam. Karena Allah itu
maha bisa, maha mampu dalam mengganti yang pergi, mengubah yang sedih
menjadi bahagia. Dan hanya 1 hal yang Allah tidak mampu yaitu, menolak
do’a hambanya.
7
C. Interaksi Antara Da’i dan Mad’u
Salah satu naluri manusia sebagai makhluk sosial adalah cenderung
hidup berkelompok atau bermasyarakat naluri greget. Dan salah satu bentuk
manifestasi dari kecenderungan naluri tersebut yang disebut psikolog interaksi
sosial.
4
Interaksi Da’i dan Mad’u adalah suatu bentuk hubungan antara seorang
da’i atau lebih dengan mad’unya yang saling mempengaruhi antara satu
dengan lainnya, sehingga timbullah kemungkinan untuk saling mengubah atau
memperbaiki perilaku masing- masing secara timbal balik. Metode dakwah
adalah cara-cara tertentu yang dilakukan oleh seorang da'i (Komunikator)
kepada mad’u untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih
sayang. metode dakwah itu meliputi tiga cakupan, yaitu: Bil hikmah,
Mau’idhatul hasanah dan Mujadalah billati hiya ahsan. Adapun Sumber
Metode Dakwah adalah: Al Quran, Sunnah Rasul, Sejarah Hidup para Sahabat
dan Fuqoha, dan pengalaman.
5
Media dakwah yaitu segala sesuatu yang dipergunakan atau menjadi
penunjang dalam berlansungnya pesan dari da’i kepada mad’u. Atau dengan
kata lain bahwa segala sesuatu yang dapat menjadi penunjang/alat daLam
proses dakwah yang berfungsi mengefektifkan penyampaian ide (pesan) dari
da’i kepada mad’u. Media yang digunakan seorang da’i beragam tergantung
kemampuan da’i dalam menguasai media yang akan digunakan dan latar
belakang mad’u.
Tujuan utama dakwah ialah mewujudkan kebahagiaan dan
kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridhai oleh Allah SWT.
Seorang da’i sangat dituntut dalam penguasaan metode dan media yang tepat
dan benar, serta melakukan pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan
4
Hafniati, “Interaksi Da’I dan Mad’u Tentang Penguasaan Media Dan Metode Dakwah
Dalam Mencapai Hasil Dan Tujuan Dakwah”, Jurnal Muqoddimah Vol. 14, No. 1, 2018,
Hal. 104.
5
Faizah dan Lalu Muchsin Effendi, Psikologi Dakwah, (Jakarta : Prenada Media, 2006),
hal. 126
8
kebutuhan, situasi dan kondisi mad’u sehingga tujuan dakwah dapat
terealisasi.
Tayangan video dari Ustadz Hilman Fauzi yang berjudul “Cara Agar
Kuat Saat Kehilangan” dari youtube channel Teman Hijrah Media merupakan
tayangan yang diupload pada 13 Juli 2019. Pengajian ini bertempat di Masjid
Alumni IPB, yang dihadiri oleh para santri dan masyarakat sekitar. Dalam
menyampaikan dakwah ustadz Hilman Fauzi mempunyai ciri khas yang santai
dan memiliki public speaking yang bagus. Dalam pengajian tersebut Ustadz
Hilman Fauzi memberikan beberapa candaan dalam mencairkan suasana tetapi
tidak meninggalkan jalur dalam dakwahnya, dengan cara seperti ini sering
disebut dengan gaya santai namun serius. Meskipun beliau menyampaikan
dakwah dengan santai akan tetapi beliau memperhatikan setiap kata agar para
audience mengertti dan memahami isi dakwah yang disampaikan.
Durasi tayangan video ini sekitar 10 menit 56 detik dan sudah ditonton
sebanyak 48 rb kali dari youtube Teman Hijrah Media. Pada saat ceramah
Ustadz Hilman Fauzi memberikan candaan-candaan yang berlogat Sunda
dengan tujuan menarik perhatian mad`u agar pesan yang disampaikan dapat
diterima dengan baik. Dalam tayangan video tersebut berlangsung dengan
baik, khusyuk dan khidmat.
D. Kondisi Ideal Yang Diupayakan Untuk Perbaikan Agar Diterima Oleh
Mad’u
Kondisi ideal yang diupayakan untuk perbaikan agar diterima oleh
mad’u yaitu memiliki kemampuan, meliputi kemampuan membaca dan
memahami seluk beluk komunikannya sehingga bisa merancang metode apa
yang cocok digunakan, terutama dalam berkomunikasi. Dengan mengetahui
karakter komunikan seorang da’i bisa merancang media apa yang cocok
digunakan, apakah dengan menggunakan media yang bersifat audio, visual,
atau bahkan media yang bersifat audio visual.
Selain media, juga dapat ditentukan sikap yang cocok untuk
ditampilkan oleh seorang da’i, menciptakan suatu teknik agar diantara da’i
9
dan mad’u terjalin komunikasi yang lancar, baik dan memiliki ikatan moral
yang tinggi. Kemudian cara penyampaian dengan menggunakan metode yang
tepat. Dalam Penyampaiannya harus menggunakan perkataan yang baik,
memiliki hubungan erat dengan mad’u, tidak membeda-bedakan agama antar
mad’u. Seorang Da’i harus menarik perhatian mad’u sehingga mad’u yang
mendengarkan tausiyah beliau tidak akan merasa bosan dalam kondis i
berlangsungnya acara tersebut. Karena kondisi itu mad’u akan mempunyai
kesulitan dalam memahami dakwah yang telah disampaikan.
Dalam penyampaian dakwah oleh Ustadz Hilman Fauzi dari Channel
YouTube tersebut membawakan tema tentang bagaimana cara agar kuat saat
kehilangan. Di angkat dari tema tersebut terkesan begitu menarik, bukan
hanya untuk kalangan muda saja namun berlaku untuk semua orang tentu
juga dikalangan orang tua. Cara menyampaikan pesan dalam dakwah juga
menggunakan bahasa sehari-hari dan sangat santai sehingga mudah untuk
dipahami makna dan maksud tujuan dakwah tersebut. Dalam dakwah tersebut
juga menyampaikan pesan bahwa yakin setiap yang hilang pasti akan
berganti.
Didalam juga terdapat interaksi yang cukup baik antara da’i dengan
mad’u. Ustadz Hilman Fauzi mengambil kisah dari Abu Salamah dan istrinya
yang bernama Ummu Salamah yang meninggal karena perang Uhud,
membuat Ummu Salamah sedih berkepanjangan. Sebelum meninggal Abu
Salamah berpesan dan memberi do’a “Jika kau kehilangan maka jangan
pernah khawatir, karena Allah akan mengganti kehilangan itu dengan sesuatu
yang terbaik.”
10
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Secara etimologi kata mad’u berasal dari bahasa arab, diambil dari
isim maf’ul (kata yang menunjukkan obyek atau sasaran). Menurut
terminology, mad’u adalah orang atau kelompok yang lazim disebut dengan
jama’ah yang sedang menuntut ajaran agama dari seorang da’i. baik mad’u
itu orang dekat atau juah, muslim atau non muslim, laki-laki atau perempuan.
Dai adalah orang yang mengajak kepada orang lain baik secara
lansung atau tidak langsung, melalui lisan, tulisan, atau perbuatan untuk
mengamalkan ajaran-ajaran islam atau menyebarluaskan ajaran islam,
melakukan upaya perubahan kearah kondisi yang lebih baik menurut islam.
Interaksi Da’i dan Mad’u adalah suatu bentuk hubungan antara
seorang da’i atau lebih dengan mad’unya yang saling mempengaruhi antara
satu dengan lainnya, sehingga timbullah kemungkinan untuk saling
mengubah atau memperbaiki perilaku masing- masing secara timbal balik.
Seorang da’i sangat dituntut dalam penguasaan metode dan media yang tepat
dan benar, serta melakukan pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan
kebutuhan, situasi dan kondisi mad’u sehingga tujuan dakwah dapat
terealisasi.
Kondisi ideal yang diupayakan untuk perbaikan agar diterima oleh
mad'u yaitu memiliki kemampuan, meliputi kemampuan membaca dan
memahami seluk beluk komunikannya sehingga bisa merancang metode apa
yang cocok digunakan, terutama dalam berkomunikasi. Selain media, juga
dapat ditentukan sikap yang cocok untuk ditampilkan oleh seorang da’i,
menciptakan suatu teknik agar diantara da’i dan mad’u terjalin komunikasi
yang lancar, baik dan memiliki ikatan moral yang tinggi.
11
DAFTAR PUSTAKA
Asna Istya Marwantika. 2019. Potret dan Segmentasi Mad’u Dalam
Perkembangan Media di Indonesia. Jurnalal-Adabiya. 14 (01) : 1-14.
Kamaluddin. 2015. Mengenal Mad’u Dalam Perspektif Teologis, Sosiologis,
Antropologis, dan Psikologis. Studi Multidisiplin : Jurnal Kajian
Keislaman. 2 (1) : 41-64.
Agus Salim. 2017. Peran dan Fungsi Dai Dalam Perspektif Psikologi Dakwah.
Al-Hikmah Media Dakwah, Komunikasi, Sosial dan Kebudayaan. 8 (1) :
92-107.
Hafniati, 2018, Interaksi Da’I dan Mad’u Tentang Penguasaan Media Dan
Metode Dakwah Dalam Mencapai Hasil Dan Tujuan Dakwah, Jurnal
Muqoddimah Vol. 14, No. 1.
Faizah dan Lalu Muchsin Effendi, 2006, Psikologi Dakwah, Jakarta : Prenada
Media.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar