Minggu, 19 Juni 2022

Kelompok 07

 CARA AGAR KUAT SAAT KEHILANGAN

USTADZ HILMAN FAUZI

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

“Psikologi Dakwah”

Dosen Pengampu :

Dr. Hj. Elfi Yuliani Rochmah, M.Pd.I

Disusun Oleh Kelompok 7 / PAI F :

1.  Mujita Dea Arlyanti    (201190177)

2.  Nia Arlina      (201190191)

3.  Novia Cindy Safitri    (201190200)

4.  Nur Asiyah      (201190208)

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO

JUNI 2022 

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah 

melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua sehingga kami bisa 

menyusun makalah ini dengan judul  “Cara Agar Kuat Saat Kehilangan”. Kami 

juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Dr. Hj. Elfi Yuliani Rochmah, 

M.Pd.I selaku dosen pengampu mata kuliah kami yang telah memberikan tugas 

ini kepada kami sehingga kami mendapatkan banyak tambahan pengetahuan 

khususnya dalam masalah “Cara Agar Kuat Saat Kehilangan”.

Kami selaku penyusun berharap  semoga makalah yang telah kami susun 

ini bisa memberikan banyak manfaat serta menambah pengetahuan terutama 

dalam hal “Cara Agar Kuat Saat Kehilangan”. Selain itu, pemakalah menyadari 

bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan dan tentunya 

membutuhkan perbaikan, sehingga kami sangat mengharapkan masukan serta 

kritik dari para pembaca.

Ponorogo, 25 Mei 2022

Penyusun 

iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL   ..................................................................................  i

KATA PENGANTAR    ...............................................................................  ii

DAFTAR ISI   ............................................................................................  iii

BAB I PENDAHULUAN    ..........................................................................  1

A.  Latar Belakang   ...............................................................................  1

B.  Rumusan Masalah   ..........................................................................  2

C.  Tujuan   ............................................................................................  3

BAB II PEMBAHASAN   ...........................................................................  4

A.  Kondisi Psikologis Mad’u   ..............................................................  4

B.  Kondisi Psikologis Da’i     ..................................................................  5

C.  Interaksi Antara Da’i dan Mad’u    ....................................................  7

D.  Kondisi Ideal Yang Diupayakan

Untuk Perbaikan Agar Diterima Oleh Mad’u    ..................................  8

BAB III PENUTUP  ..................................................................................  10

A.  Kesimpulan  ...................................................................................  10

DAFTAR PUSTAKA    ..............................................................................  11

1

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Dakwah adalah kegiatan yang sifatnya mengajak, menyeru, serta 

memanggil orang (mad’u) untuk beriman dan  taat kepada Allah SWT sesuai 

dengan aqidah dan syariat Islam.  Kegiatan dakwah merupakan proses 

komunikasi antara seorang da’i dengan mad’u, yang mana dengan adanya 

komunikasi, maka seseorang dapat menyampaikan apa yang ada dalam 

pikirannya dan apa yang dirasakan orang lain. 

Selain itu dakwah diartikan dengan suatu ajakan yang dilakukan untuk 

membebaskan manusia secara individu dari pengaruh luar nilai kejahatan 

menuju internalisasi nilai ketuhanan. Bahwasannya dakwah termasuk dalam 

tindakan komunikasi, akan tetapi tidak semua aktivitas komunikasi disebut 

dengan dakwah. Pada hakikatnya dakwah sendiri merupakan suatu ajakan 

atau seruan dalam berbuat kebajikan untuk mentaati perintah dan menjauhi 

larangan Allah SWT.

Pada dasarnya dakwah bertujuan untuk mempengaruhi dan 

mentransformasikan sikap batin serta perilaku manusia menuju tatanan yang

baik  pada setiap individu maupun kelompok. Kegiatan dakwah tidak hanya 

dilakukan dengan lisan melainkan bisa dilakukan secara tulisan bahkan 

melalui  sebuah film.  Dimana seorang da’i melakukan aktivitas dakwahnya 

dengan cara memanfaatkan media sebagai alat untuk menyampaikan pesen 

dakwah.

Dakwah memiliki kedudukan yang tinggi dan mempunyai peranan 

yang sangat penting menurut pandangan Allah SWT dan Nabi Muhammad 

SAW, karena Islam sangat memperhatikan dalam urusan yang satu ini.

Sehingga menganjurkan kepada setiap muslim agar menyeru kepada kebaikan

dan menyampaikan nasehat-nasehat yang baik kepada masyarakat serta 

menjauhkan diri dari segala hal yang dilarang oleh agama Islam. 

2

Banyak orang yang beranggapan bahwa suatu aktivitas dakwah harus

dengan ceramah kyai. Padahal dengan seiring perkembangan zaman,

kebutuhan  akan berdakwah semakin meningkat sehingga muncul sebuah 

inovasi dalam berdakwah. Perkembangan teknologi  informasi yang semakin

pesat, dakwah dapat dilakukan melalui media yang lebih modern. Kegiatan 

dakwah sekarang sudah berkembang menjadi sebuah profesi dengan 

menuntut skill, planning serta manajemen yang handal.

Salah satunya pada tayangan di situs channel  youtube  Teman Hijrah 

Media  yang berjudul “Cara  Agar Kuat Saat Kehilangan”  oleh Ustadz Hilman 

Fauzi. Durasi tayangan video ini sekitar 10 menit 56 detik dan sudah ditonton 

sebanyak 48 rb kali,  dan sudah di sukai sebanyak 1,1 ribu  penonton.  Dengan 

terkenal  logat bahasa Ustadz Hilman berbahasa Sunda campur dengan bahasa 

sehari-hari. Membuat dakwah beliau semakin menarik

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk 

menganalisis pesan dakwah  Ustadz Hilman Fauzi  yang berada di channel 

youtube  Teman Hijrah Media  dengan alamat web

https://youtu.be/jQiAxCgQpdM  “Cara Agar Kuat Saat Kehilangan” Oleh 

Ustadz Hilman Fauzi. Dalam video tersebut beliau memberikan pesan 

dakwah mengenai cara  agar  kuat  saat kehilangan, karena yang hilang pasti 

akan berganti  dengan yang  terbaik. Oleh karena itu, peneliti mengangkat 

sebuah judul “(Cara Agar Kuat Saat Kehilangan Oleh Ustadz Hilman Fauzi).”

B.  Rumusan Masalah

1.  Bagaimana kondisi psikologis mad’u?

2.  Bagaimana kondisi psikologis da’i?

3.  Bagaimana interaksi antara da’i dan mad’u?

4.  Bagaimana kondisi idealnya, jika mengupayakan perbaikan agar yang 

disampaikan da’i dapat diterima atau dipahami mad’u?

3

C.  Tujuan

1.  Untuk mengetahui kondisi psikologis mad’u.

2.  Untuk mengetahui kondisi psikologis da’i.

3.  Untuk mengetahui interaksi antara da’i dan mad’u.

4.  Untuk mengetahui kondisi idealnya, jika mengupayakan perbaikan agar 

yang disampaikan da’i dapat diterima atau dipahami mad’u.   

4

BAB II

PEMBAHASAN

A.  Kondisi Psikologis Mad’u

Secara etimologi kata mad’u berasal dari bahasa arab, diambil dari 

isim maf’ul  (kata yang menunjukkan obyek   atau sasaran). Menurut 

terminology, mad’u adalah orang atau kelompok yang lazim disebut dengan 

jama’ah yang sedang menuntut ajaran agama dari seorang da’i. baik mad’u 

itu orang dekat atau juah, muslim atau non muslim, laki-laki atau perempuan. 

Seorang da’i akan menjadikan mad’u sebagai obyek bagi transformasi 

keilmuan yang dimilikinya. Mad’u sebagai  obyek dakwah bagi seorang da’i 

merupakan salah satu unsur yang penting dalam system dakwah.

1

Secara umum kalangan mad’u dibagi menjadi 2 yaitu, mad’u muslim 

dan mad’u non muslim. Mad’u dapat ditinjau dari perspektif psikologis. 

Secara psikologis, manusia sebagai mad’u dibedakan atas berbagai aspek : 

Sifat-sifat kepribadian (personality traits), yaitu adanya sifat -sifat manusia 

yang penakut, pemarah, sombong dan sebagainya. Intelegensi adalah bentuk 

kecerdasan intelektual seseorang mencakup kewaspadaan, kemampuan 

belajar, berfikir, mengambil keputusan yang tepat dan cepat, mengatasi 

masalah dan sebagainya. Pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), 

nilai-nilai (values), dan peranan (roles).

2

Secara umum kondisi  psikologis para jamaah Ustadz  Hilman Fauzi 

dalam kajian pada situs channel youtube  Teman Hijrah Media yang berjudul 

“Cara Agar Kuat Saat Kehilangan”, para mad’unya adalah kaum muda atau 

lebih dikenal dengan kaum milenial. Dikarenakan para anak muda zaman 

sekarang lebih banyak mengalami kegalauan terkait dengan kisah asmara, 

sehingga  banyak sekali anak muda yang tertarik dengan kajian yang 

dibawakan oleh Ustadz Hilman Fauzi ini.  Seperti yang diceritakan oleh 

1

Asna Istya Marwantika, Potret dan Segmentasi Mad’u Dalam Perkembangan Media di 

Indonesia, Jurnalal-Adabiya, Vol. 14, No. 01, 2019, 3.

2

Kamaluddin, Mengenal Mad’u Dalam Perspektif Teologis, Sosiologis, Antropologis, dan 

Psikologis, Studi Multidisiplin : Jurnal Kajian Keislaman, Vol. 2, No. 1, 2015, 53. 

5

Ustadz Hilman Fauzi tentang kisah kehilangan yang dialami oleh Ummu 

Salamah, yang harus ditinggal oleh suaminya yang bernama Abu Sala mah 

untuk selama-lamanya karena berperang di medan perang.

Dilihat dari segi psikologisnya maka dalam kajian ini para anak muda 

khususnya yang sedang mengalami sedih, patah hati atas kehilangan  tidak 

berlarut-larut dalam kesedihan dan  tetap  berpegang teguh  pada keyakinan

bahwa segala apapun yang hilang akan diganti dengan yang lebih baik oleh 

Allah swt.

B.  Kondisi Psikologis Da’i

Kata da’i berasal dari bahasa arab bentuk  mudzakar  (laki -laki) yang 

berarti orang yang mengajak, kalau  mu’annas  (perempuan) disebut daiyah. 

Sedangkan dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia,  dai adalah orang yang 

pekerjaannya berdakwah, pendakwah, melalui kegiatan dakwah para dai 

menyebarluaskan ajaran islam. Dengan kata lain, dai adalah orang yang 

mengajak kepada orang  lain baik secara lansung atau tidak langsung, melalui 

lisan, tulisan, atau perbuatan untuk mengamalkan ajaran-ajaran islam atau 

menyebarluaskan ajaran islam, melakukan upaya perubahan kearah kondisi 

yang lebih baik menurut islam.

Da’i dapat diibaratkan sebagai seorang  guide  atau pemandu terhadap 

orang-orang yang ingin mendapat keselamatan hidup dunia dan akhirat. 

Dalam hal ini dai adalah seorang petunjuk jalan yang harus mengerti dan 

memahami terlebih dahulu mana jalan yang boleh dilalui dan yang tidak 

boleh dilalui oleh seorang muslim, sebelum ia memberi petunjuk jalan kepada 

orang lain. Oleh karena itu, seorang dai harus selalu sadar bahwa segala 

tingkah lakunya selalu dijadikan tolak ukur oleh masyarakatnya sehingga ia 

harus memiliki kepribadian yang baik.

3

Kondisi psikologis da’i makalah ini tertarik untuk menganalisis pesan 

dakwah dari Ustadz Hilman Fauzi, yang berada dalam channel YouTube 

3

Agus Salim, Peran dan Fungsi Dai Dalam Perspektif Psikologi Dakwah, Al-Hikmah Media 

Dakwah, Komunikasi, Sosial dan Kebuadayaan, Vol. 8, No. 1, 2017, 95-96. 

6

Teman Hijrah Media yang berjudul “Cara Agar Kuat Saat Kehilangan”. Di 

dalam video tersebut menyampaikan pesan bahwa setiap yang hilang ataupun 

pergi akan Allah ganti, kuncinya adalah yakin bahwa Allah akan 

menggantinya dengan ganti yang lebih baik.

Ustadz Hilman Fauzi adalah salah satu pendakwah muda di Indonesia. 

Beliau lahir pada tanggal 4 Juli 1990 di Desa Tegalpanjang, Kecamatan 

Sucinaraja, Kabupaten Garut Jawa Barat. Beliau adalah anak yatim piatu, 

ayahnya meninggal disaat beliau masih duduk dibangku SMP dan ibunya 

meninggal dunia ketika beliau sudah lulus SMA.  Beliau hidup ditengah-tengah keluarga ekonomi rendah. Dan betapa beruntungnya beliau

mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan tingginya di  Tripoli 

University, Libya. Akan tetapi tidak sampai selesai beliau kuliah disana. 

Hingga pada akhirnya beliau melanjutkan kuliah di Tazkia University College 

of Islamic Economics, sebuah kampus ekonomi islam pertama di Indonesia. 

Banyak sekali prestasi yang beliau dapatkan, dari prestasi tersebut sekarang 

beliau sering kali bolak-balik dilayar kaca televisi seperti di Indosiar, ANTV, 

Jak TV, Trans 7, Transvision, dan juga MNC Muslim dengan mengisi acara 

keagamaan dan inspirasi islam.

Dalam tayangan channel YouTube  tersebut Ustadz Hilman Fauzi 

menjelaskan bagaimana cara agar kuat saat kehilangan. Yang pertama yang 

harus dilakukan adalah yakin dalam hati bahwa setiap yang hilang akan 

berganti. Seperti kisah Ummu Salamah yang kehilangan suaminya Abu 

Salamah untuk selama-lamanya. Ummu Salamah yakin bahwa Allah akan 

ganti kehilangannya, dan benar Allah ganti suaminya dengan hadirnya 

Rasulullah yang datang melamarnya. Yang kedua yaitu dengan berdo’a 

memohon diwaktu-waktu yang sepi seperti di 1/3 malam. Karena Allah itu 

maha bisa, maha mampu dalam mengganti yang  pergi, mengubah  yang sedih 

menjadi bahagia. Dan hanya 1 hal yang Allah tidak mampu yaitu, menolak 

do’a hambanya.

7

C.  Interaksi Antara Da’i dan Mad’u

Salah satu naluri manusia sebagai makhluk sosial adalah cenderung 

hidup berkelompok atau bermasyarakat  naluri greget. Dan salah satu bentuk 

manifestasi dari kecenderungan naluri tersebut yang disebut psikolog interaksi 

sosial.

4

Interaksi Da’i dan Mad’u adalah suatu bentuk hubungan antara seorang 

da’i atau lebih dengan mad’unya yang saling mempengaruhi antara satu 

dengan lainnya, sehingga timbullah kemungkinan untuk saling mengubah atau 

memperbaiki perilaku masing-  masing secara timbal balik. Metode dakwah 

adalah cara-cara tertentu yang dilakukan oleh seorang da'i (Komunikator) 

kepada mad’u untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih 

sayang. metode dakwah itu meliputi tiga cakupan, yaitu: Bil hikmah, 

Mau’idhatul hasanah dan Mujadalah billati hiya ahsan. Adapun Sumber 

Metode Dakwah adalah: Al Quran, Sunnah Rasul, Sejarah Hidup para Sahabat 

dan Fuqoha, dan pengalaman.

5

Media dakwah yaitu segala sesuatu yang dipergunakan atau menjadi 

penunjang dalam berlansungnya pesan dari da’i kepada mad’u. Atau dengan 

kata lain bahwa segala sesuatu yang dapat menjadi penunjang/alat daLam 

proses dakwah yang berfungsi  mengefektifkan penyampaian ide (pesan) dari 

da’i kepada mad’u. Media yang digunakan seorang da’i beragam tergantung 

kemampuan da’i dalam menguasai media yang akan digunakan dan latar 

belakang mad’u.

Tujuan utama dakwah ialah mewujudkan kebahagiaan dan 

kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridhai oleh Allah SWT. 

Seorang da’i sangat dituntut dalam penguasaan metode dan media yang tepat 

dan benar, serta melakukan pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan 

4

Hafniati, “Interaksi Da’I dan Mad’u Tentang Penguasaan Media Dan Metode Dakwah 

Dalam Mencapai Hasil Dan Tujuan Dakwah”, Jurnal Muqoddimah Vol. 14, No. 1, 2018, 

Hal. 104.

5

Faizah dan Lalu Muchsin Effendi, Psikologi Dakwah, (Jakarta : Prenada Media, 2006), 

hal. 126 

8

kebutuhan, situasi dan kondisi mad’u sehingga tujuan dakwah dapat 

terealisasi.

Tayangan video dari Ustadz Hilman Fauzi yang berjudul “Cara Agar 

Kuat Saat Kehilangan” dari youtube channel Teman Hijrah Media merupakan 

tayangan yang diupload pada 13 Juli 2019. Pengajian ini bertempat di Masjid 

Alumni  IPB, yang dihadiri oleh para santri dan masyarakat sekitar. Dalam 

menyampaikan dakwah ustadz Hilman Fauzi mempunyai ciri khas yang santai 

dan memiliki  public speaking  yang bagus. Dalam pengajian tersebut Ustadz 

Hilman Fauzi memberikan beberapa candaan dalam mencairkan suasana tetapi 

tidak meninggalkan jalur dalam dakwahnya, dengan cara seperti ini sering 

disebut dengan gaya santai namun serius. Meskipun beliau menyampaikan 

dakwah dengan santai akan tetapi beliau memperhatikan setiap kata agar para 

audience  mengertti dan memahami isi dakwah yang disampaikan. 

Durasi tayangan video ini sekitar 10 menit 56 detik dan sudah ditonton 

sebanyak 48 rb kali dari youtube Teman Hijrah Media. Pada saat ceramah 

Ustadz Hilman Fauzi memberikan candaan-candaan yang berlogat  Sunda 

dengan tujuan menarik perhatian mad`u agar pesan yang disampaikan dapat 

diterima dengan baik. Dalam tayangan video tersebut berlangsung dengan 

baik, khusyuk dan khidmat.

D.  Kondisi Ideal Yang Diupayakan Untuk Perbaikan Agar Diterima Oleh 

Mad’u

Kondisi  ideal yang diupayakan untuk perbaikan agar diterima oleh

mad’u yaitu memiliki kemampuan,  meliputi kemampuan membaca dan 

memahami seluk beluk komunikannya sehingga  bisa  merancang  metode apa 

yang cocok  digunakan, terutama dalam berkomunikasi. Dengan mengetahui 

karakter komunikan seorang da’i bisa merancang media apa yang cocok 

digunakan, apakah  dengan menggunakan  media yang bersifat audio, visual, 

atau bahkan media yang  bersifat audio visual. 

Selain media, juga dapat ditentukan sikap yang cocok untuk 

ditampilkan oleh seorang da’i, menciptakan suatu  teknik  agar  diantara  da’i 

9

dan mad’u terjalin komunikasi yang  lancar, baik  dan memiliki ikatan moral 

yang tinggi.  Kemudian cara penyampaian  dengan menggunakan metode yang 

tepat. Dalam Penyampaiannya harus menggunakan perkataan yang baik, 

memiliki hubungan erat dengan mad’u, tidak membeda-bedakan agama antar 

mad’u. Seorang  Da’i  harus menarik perhatian mad’u sehingga mad’u yang 

mendengarkan tausiyah beliau tidak akan merasa bosan dalam kondis i 

berlangsungnya acara  tersebut. Karena kondisi itu mad’u akan mempunyai 

kesulitan dalam memahami dakwah yang telah disampaikan.

Dalam penyampaian dakwah  oleh Ustadz Hilman Fauzi  dari  Channel 

YouTube tersebut  membawakan tema  tentang  bagaimana cara agar kuat saat 

kehilangan.  Di angkat dari tema tersebut terkesan begitu menarik, bukan 

hanya untuk kalangan muda  saja namun berlaku untuk semua orang tentu

juga dikalangan orang tua.  Cara menyampaikan pesan dalam dakwah juga 

menggunakan bahasa  sehari-hari  dan sangat santai sehingga mudah  untuk

dipahami makna dan maksud  tujuan  dakwah tersebut. Dalam dakwah tersebut 

juga menyampaikan pesan  bahwa  yakin  setiap  yang hilang  pasti akan

berganti. 

Didalam juga terdapat interaksi yang cukup baik antara da’i dengan 

mad’u.  Ustadz Hilman Fauzi mengambil  kisah  dari  Abu  Salamah  dan istrinya 

yang bernama Ummu Salamah  yang meninggal  karena perang  Uhud, 

membuat Ummu Salamah sedih berkepanjangan.  Sebelum meninggal  Abu 

Salamah berpesan dan memberi do’a  “Jika  kau  kehilangan maka jangan 

pernah khawatir, karena Allah akan  mengganti kehilangan itu dengan sesuatu 

yang terbaik.” 

10

BAB III

PENUTUP

A.  Kesimpulan

Secara etimologi kata mad’u berasal dari bahasa arab, diambil dari 

isim maf’ul  (kata yang menunjukkan obyek atau sasaran). Menurut 

terminology, mad’u adalah orang atau kelompok yang lazim disebut dengan 

jama’ah yang sedang menuntut ajaran agama dari seorang da’i. baik mad’u 

itu orang dekat atau juah, muslim atau non muslim, laki-laki atau perempuan.

Dai adalah orang yang mengajak kepada orang lain baik secara 

lansung atau tidak langsung, melalui lisan, tulisan, atau perbuatan untuk 

mengamalkan ajaran-ajaran  islam atau menyebarluaskan ajaran islam, 

melakukan upaya perubahan kearah kondisi yang lebih baik menurut islam.

Interaksi Da’i dan Mad’u adalah suatu bentuk hubungan antara 

seorang da’i atau lebih dengan mad’unya yang saling mempengaruhi antara 

satu  dengan lainnya, sehingga timbullah kemungkinan untuk saling 

mengubah atau memperbaiki perilaku masing-  masing secara timbal balik.

Seorang da’i sangat dituntut dalam penguasaan metode dan media yang tepat 

dan benar, serta melakukan pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan 

kebutuhan, situasi dan kondisi mad’u sehingga tujuan dakwah dapat 

terealisasi.

Kondisi ideal yang diupayakan untuk perbaikan agar diterima oleh 

mad'u yaitu  memiliki kemampuan,  meliputi kemampuan membaca dan 

memahami seluk beluk komunikannya sehingga  bisa  merancang  metode apa 

yang cocok  digunakan, terutama dalam berkomunikasi.   Selain media, juga 

dapat ditentukan sikap yang cocok untuk ditampilkan oleh seorang da’i, 

menciptakan suatu  teknik  agar  diantara  da’i dan mad’u terjalin komunikasi 

yang lancar, baik dan memiliki ikatan moral yang tinggi.

11

DAFTAR PUSTAKA

Asna Istya Marwantika. 2019.  Potret dan Segmentasi Mad’u Dalam 

Perkembangan Media di Indonesia. Jurnalal-Adabiya. 14 (01) : 1-14.

Kamaluddin. 2015.  Mengenal Mad’u Dalam Perspektif  Teologis, Sosiologis, 

Antropologis, dan Psikologis.  Studi Multidisiplin : Jurnal Kajian 

Keislaman. 2 (1) : 41-64.

Agus Salim. 2017.  Peran dan Fungsi Dai Dalam Perspektif Psikologi Dakwah.

Al-Hikmah Media Dakwah, Komunikasi, Sosial dan Kebudayaan. 8 (1) :

92-107.

Hafniati, 2018,  Interaksi Da’I dan Mad’u Tentang Penguasaan Media Dan 

Metode Dakwah Dalam Mencapai Hasil Dan Tujuan Dakwah, Jurnal 

Muqoddimah Vol. 14, No. 1.

Faizah dan Lalu Muchsin Effendi, 2006,  Psikologi Dakwah, Jakarta : Prenada 

Media.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Link Presentasi dan Video Youtube Kelompok 07

 Link Presentasi Kelompok 07 https://www.youtube.com/watch?v=Pr66JsYaWuA Link Video Youtube  https://www.youtube.com/watch?v=jQiAxCgQpdM